» Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah » Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina » Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif » Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat


Lingkungan Hidup
01-03-2017
Sampah Plastik di Laut Pengaruhi Kualitas Ikan

Sampah plastik di laut menjadi risiko kesehatan berbagai negara karena mengganggu kualitas ikan untuk dikonsumsi. Kondisi ini merupakan kekhawatiran besar ke depan dan bisa merusak stabilitas laut dan kemaritiman.


"Itu akan mengganggu perikanan dan menjadi risiko semua warga dunia yang makan ikan yang terkontaminasi," jelas Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik, Selasa (28/02/2017).

Terkait hal itu Dubes Moazzam mengatakan masalah kemaritiman sampah plastik di laut harus diatasi bersama melalui kerja sama berbagai pihak.

"Ini salah satu hal yang harus diatasi melalui kerja sama karena ini salah satu hal yang tidak bisa diatasi sendiri," ujarnya.

Lebih lanjut Dubes Moazzam mengatakan, pertemuan di Bali pada pekan lalu yang membahas sampah plastik di laut merupakan diskusi untuk kerja sama ke depan.

Pemerintah Inggris, ujarnya, akan melihat pilihan cara untuk mendukung usaha pemerintah Indonesia untuk menjaga kebersihan lautnya.

Selain itu, Dubes Moazzam menilai Indonesia dapat mengembangkan potensi besar di bidang energi maritim.

Seperti diketahui Indonesia bertekad untuk mengurangi sampah plastik hingga 70 persen pada akhir 2025.

Indonesia bersama badan untuk lingkungan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), UNEP, telah memulai kampanye pembersihan sampah plastik lautan di Nusa Dua, Bali, Kamis (23/2/2017).

Pemerintah Indonesia berkomitmen menggelontorkan 1 miliar dolar AS pertahun merealisasikan program nasional Indonesia bebas sampah. (TGR07/ANT)




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Pembentukan Citra Negatif Indonesia di Luar Negeri

Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif

ASEAN-Kanada Sepakat Perkuat UMKM dan Lindungi Pekerja Migran

Wikipedia segera Disaingi Ensiklopedia Daring China

Kuba Pasar Potensial bagi Amerika Serikat

Moon Jae-in Menjadi Presiden ke-19 Korea Selatan

Warga Korsel Pilih Presiden Baru

GFI Ingatkan 5 Poin Pesan Panglima TNI

Wapres Buka Peringatan Hari Pers Sedunia 2017

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »