» Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik » Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik » Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing » Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara » Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia


Analisis
04-03-2017
Strategi Geopolitik Arab Saudi Gandeng Jepang-Indonesia-Cina Amankan Jalur Sutra
Penulis : Hendrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Arab Saudi datang ke Indonesia, dengan mengangkat isu: Saatnya Melirik ke Asia. Padahal, agenda strategis sesungguhnya atau tema gerakan adalah: Amankan Jalur Sutra yang punya mata-rantai dengan negara-negara Asia yang dilintasi Jalur Sutra. Khususnya Jepang, Indonesia dan Cina. Skema sesungguhnya; Menggandeng Jepang dan Indonesia, Arab Saudi punya kartu truf untuk berunding dengan Cina.


Makanya urutan pertemuan: Jepang dulu, Malaysia (minta restu Inggris), Indonesia (Poros Non Blok dan ASEAN), lantas ke Cina (pesaing Inggris dan Amerika). Dengan strategi geopolitik seperti itu, Arab Saudi diperhitungkan baik oleh persekutuan Inggris-Amerika Serikat plus Blok Uni Eropa, maupun blok Cina dan Rusia.

Dengan begitu, maka rangkaian kunjungan Raja Salman ke Jepang, Indonesia dan Cina,  kiranya tidak boleh dibaca sekadar sebagai persoalan ekonomi belaka. Ada sasaran geopolitik yang melatarbelakanginya.

Kalau kita baca secara geopoltik, sebagai negara di Timur Tengah  yang sekian lama berada dalam orbit pengaruh Kerajaan Inggris pasca Perang Dunia I,  pastinya Arab Saudi sadar betul bahwa Jepang-Cina-Indonesia merupakan mata-rantai penting dari Jalur Sutra. Sehingga perlu dirangkul sebagai bagian dari kebijakan Arab Saudi membangun kerjasama yang terintegrasi.

Sekadar informasi, kerjasama strategis Cina-Rusia dalam payung Shanghai Cooperation Organization (SCO) pada 2001, sejatinya merupakan upaya kedua negara adidaya untuk mengawal kawasan Asia Tengah, yang merupakan lintasan Jalur Sutra, agar tidak dikuasai Amerika Serikat dan Blok Eropa Barat. Dari sini jelas Cina merupakan mata-rantai dan bahkan sektor hulu dari Jalur Sutra.

Lantas, Jalur Sutra itu sendiri seperti apa gambarannya? Jalur Sutra melegenda semenjak abad ke-2 hingga abad ke-19, bahkan sampai sekarang. Ia  membentang sepanjang 7000-an kilometer dari Cina, Asia Tengah sampai ke Eropa. Terdiri atas banyak cabang. Tetapi secara garis besar terdapat tiga jalur utama di utara, di tengah dan di selatan. Jalur Utara: terhubung antara Cina – Eropa hingga Laut Mati melalui Urumqi dan Lembah Fergana; (2) Jalur Tengah: Cina – Eropa hingga tepian Laut Mediterania, melalui Dun-huang, Kocha, Kashgar, menuju Persia/Iraq; (3) Jalur Selatan: Cina – Afghanistan, Iran dan India melalui Dun-huang dan Khotan menuju Bachtra dan Kashmir. Itulah awal dikenal atau sebutan Jalur Sutra.

Bagaimana cara pandang Arab Saudi memandang Indonesia secara geopolitik? Sama juga, masih dalam kerangka Jalur Sutra.  Sebab kini, Jalur Sutra telah diklaim meluas melewati Selat Malaka, Lautan India, Teluk Aden dan masuk ke Laut Mediterania via Laut Merah – Terusan Suez dan seterusnya. Konsekuensi yang timbul ialah komoditas dagang  dan sumberdaya alam dari negara-negara yang dilewati Jalur Sutra pun semakin beragam, seperti emas, minyak, rempah-rempah, besi, gading, tanaman dan lain-lainnya.

Itulah sebabnya Arab Saudi memandang Asia dan Afrika Utara sama strategisnya untuk masuk dalam orbit pengaruhnya. Sebab menurut David Rockefeller, jalur itu melintas antara Maroko (Afrika Utara) hingga perbatasan Cina dan Rusia. Dengan begitu, maka Jalur Sutra yang membujur di antara Cina dan perbatasan Rusia – via UTARA melalui Kyrgystan, Kazakhtan, Uzbekistan, Turmeniztan, Iran, Iraq, Syria (Suriah), Turki dan selanjutnya terus ke Benua Eropa; sedang via SELATAN membentang antara Cina, India, Pakistan, Afghanistan, Iran, Iraq, Syria, Mesir dan terus berlanjut ke negara-negara Afrika Utara hingga Maroko.

Titik pisah kedua Jalur Sutra Benua (Utara dan Selatan) adalah Syria.  Termasuk jalur (tambahan atau pengembangan) melalui perairan adalah via Laut Cina Selatan, Selat Malaka, Lautan Hindia, Laut Merah, dan Laut Mediterania sebagaimana diurai di atas tadi.

Dengan kata lain, jalur ini membentang antara perbatasan Rusia-Cina yang  dimulai dari Xinjiang, Cina hingga Maroko, ia dikenal sebagai “jalur basah” karena faktor SDA melimpah ruah.

Sir Harold Mackinder, pakar geopolitik Inggris yang hidup antara 1847-1947  menyebut dalam teorinya bahwa Heartland atau daerah jantung dunia dan World Island. Barang siapa mengendalikan kawasan ini (Jalur Sutra), maka identik (menguasai) memimpin dunia. Tidak kalah penting adalah letak serta posisi The Silk Road yang seakan-akan menjadi pemisah antara dua peradaban yakni Barat dan Timur. Inilah spesifikasi geopolitik jalur tersebut.

Kajian Mackinder mengklasifikasi empat kawasan terkait ajaran geopolitik. Pertama adalah Heartland atau World Island. Kawasan ini mencakup Asia Tengah dan Timur Tengah (World Island). Kedua ialah Marginal Lands yaitu Eropa Barat, Asia Selatan dan (sebagian) Asia Tenggara dan sebagian daratan Cina. Ketiga disebut Desert atau Afrika Utara. Sedang kawasan terakhir (keempat) dinamai Island or Outer Continents yang meliputi Benua Amerika, Afrika Selatan, Asia Tenggara dan Australia.

Kalau kita cermati secara seksama, klasifikasi Mackinder itu pada perkembangannya merupakan negara-negara jajahan Inggris hingga berakhirnya Perang Dunia II. Di World Island, Inggris peraktis menguasai seluruh kawasan Timur Tengah menyusul runtuhnya Dinasti Usmani seusai Perang Dunia I. Adapun Marginal Island yang meliputi Eropa Barat, Asia Selatan dan sebagian Asia Tenggara, Inggris praktis berhasil menjajah India, Pakistan dan Sri Lanka di Asia Selatan, dan beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Myanmar dan Singapura.

Adapun Desert, Afrika Utara atau Maghribi, Inggris berbagi kekuasaan menjajah beberapa negara di Afrika Utara tersebut seperti Nigeria, Sinegal, Mesir, Tunisia, Maroko dan Aljazair.

Melalui gambaran tadi, nampaknya itulah yang sekarang menjadi sasaran strategis Arab Saudi di balik serangkaian kunjungan Raja Salman ke Cina, Jepang, Malaysia dan Indonesia.

Maka itu, kita jangan eforia kedatangan Raja Salman yang mau gelontorkan uang sebesar 25 miliar dollar AS. Sehingga kunjungan raja Salman semata-mata dibaca sebagai momentum kebangkitan ekonomi Indonesia.

Lantas Indonesia nyadar nggak dengan strategi geopolitik Arab Saudi yang sangat piawai memainkan pakem Non Blok 1961 dan Asia Afrika Bandung 1955. Padahal Indonesia lah yang pencetus KAA Bandung 1955 dan KTT Non Blok Beograd 1961. Justru Arab Saudi sekarang tercipta jadi pendulum tengah antara AS verus Cina.

Maka itu, dalam membaca eforia adanya banjir bantuan ekonomi kepada Indonesia, sadarilah bahwa tidak ada makan siang yang gratis.



Artikel Terkait
» Saatnya Peran Aktif Indonesia dalam Konflik Iran-Arab Saudi
» Indonesia Harus Mengantisipasi Lahirnya Tata Dunia Baru di Timur Tengah dan Asia Pasifik
» Membaca Perilaku Geopolitik di Jalur Sutera (12/Habis)
» Membaca Perilaku Geopolitik di Jalur Sutera (11)
» Membaca Perilaku Geopolitik di Jalur Sutera (10)
» Membaca Perilaku Geopolitik di Jalur Sutera (9)
» Membaca Perilaku Geopolitik di Jalur Sutera (8)
» Membaca Perilaku Geopolitik di Jalur Sutera (7)
» Membaca Perilaku Geopolitik di Jalur Sutera (6)
» Membaca Perilaku Geopolitik di Jalur Sutera (5)
» Membaca Perilaku Geopolitik di Jalur Sutera (4)
» Membaca Perilaku Geopolitik di Jalur Sutera (3)
» Membaca Perilaku Geopolitik di Jalur Sutera (2)
» Membaca Perilaku Geopolitik di Jalur Sutera (1)



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Indonesia Dan ASEAN Harus Pertimbangkan kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia Sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik
Belakangan ini, persaingn global AS versus Cina di Asia Pasifik semakin menajam. Indonesia, yang sejatinya merupakan pelopor strategi perimbangan kekuatan di antara dua kutub yang sedang ...

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Lihat lainya »
   Arsip
Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik

Erdogan Kunjungi Teluk untuk Redakan Sengketa Qatar

Wapres Jusuf Kalla Bahas Kerja Sama Maritim dengan Vietnam

PERPPU N0. 2/2017, PERPU CCTV

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumber

Iran Harap Perang Yaman Tidak Sulut Konfrontasi Iran-Saudi

RI -Jepang Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Kesehatan

Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »