» Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik » Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik » Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing » Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara » Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia


Tick News
04-03-2017
Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing
Penulis : Hendrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute

Sebenarnya para olahragawan dan olahragawati yang “ketangkap basah” menggunakan doping, bukan hal baru terjadi di dunia olahraga. Ketika olahraga dewasa ini semakin erat kaitannya dengan prestise dan martabat bangsa dari negara-negara adikuasa, maka persoalan penggunaan doping sangat berpotensi untuk dijadikan alat politik.


Sebelum kita bahas lebih jauh, ada baiknya kita paparkan dulu beberapa olahrawan kelas dunia yang dituduh terlibat penggunaan doping. Maria Sharapova, bintang tennis Rusia baru-baru ini dituduh menggunakan bahan terlarang berupa meldonium selama bertahun-tahun. Menurut pengakuan Maria Sharapova, dirinya tidak tahu kalau Meldonium termasuk daftar doping.

Kasus lain menimpa Ben Johnson, atlit pelari tercepat di dunia asal Kanada, dituding menggunakan bahan terlarang Stanozolo pada Olimpiade di Seoul Korea Selatan pada 1988. Padahal dirinya berhasil merebut medali emas. Akibatrnya medali emas dan catatan rekornya yang berhasil lari dengan waktu 9,76 detik sontak dicabut oleh panitia.

Pada 2013 lalu, Tyson Gay, atlit pelari tercepat Amerika Serikat, mengaku memakai doping dan batal ikut kejuaraan dunia. Sehari setelah pengakuan Gay, atlit Jamaika Asafa Powel dan Nesta Carter juga diberitakan menggunakan doping.

Bintang sepakbola Argentinga Diego Maradona, terbukti kedapatan menggunakan doping pada Kejuaraan Dunia Sepakbola di Amerika Serikat. Bahkan Indonesia pun pernah jadi korban penggunaan doping.

Arif Rahman Nasir, olahragawan Kempo pada Seagames 2011, terpaksa harus terkena skorsing dan larangan bertanding gara-gara menggunakan doping. Alhasil, medali emas yang dia peroleh harus dikembalikan kepada Federasi Seagames.

Di cabang renang, olahragawan Indonesia juga bernasib serupa. Indra Gunawan dan Guntur Pratama sempat dijatuhi skorsing dan larangan bertanding Keduanya kabarnya terbukti menggunakan zat Methylhexaneamine, suatu zat stimulan spesifik (S.6.b) yang masuk dalam daftar terlarang World Anti-Doping Agency (WADA).. Padahal dalam kejuaraan Asian Indoor dan Matrial Arts Games 2013 di Korea Selatan itu, Indra berhasil menjadi juara pertama pada nomor 50 Meter gaya dada. Tentu saja gara-gara kasus itu medali emasnya harus dikembalikan kepada panitia.

Campur Tangan Politik di  Balik Laporan Richard McLaren

Namun ada beberapa fakta yang cukup mengkhawatirkan dan kiranya layak untuk diperiksa secara lebih mendalam. Sebab, kalau kita telisik dari beberapa fakta terkait kasus ini, pada umumnya yang diberitakan kedapatan menggunakan doping merupakan pemegang medali emas dari berbagai event kejuaraan tingkat dunia. Seperti Ben Johnson, Irina Korzhanenko, petinju Kenya David Munyasia, serta beberapa olahragawan yang kami sebutkan di atas ternasuk beberapa olahragtawan Indonesia.

Pada tataran ini, laporan-laporan Badan Antidoping Dunia (WADA) terhadap beberapa atlit kelas dunia yang dinilai menggunakan doping, tidak bisa begitu saja dipercaya kredibilitasnya, apalagi ketika Kanada merupakan salah satu negara yang lebih pro Amerika dan negara-negara Eropa Barat. Sehingga bukan tidak mungkin laporan-laporan yang dibuat profesor hukum asal Kanada Richard McLaren pada 2016 lalu bersifat politis sehingga tidak bisa dinilai kredibel.

Kenyataan bahwa ada beberapa atlit kelas dunia dari Rusia yang dituding menggunakan bahan-bahan yang masuk kategori doping, kemungkinan besar dipengaruhi oleh Amerika Serikat dan beberapa negara Barat.

Jika ,memang demikian adanya, maka bisa disimpulkan ada indikasi kuat telah terjadi campur-tangan politik dalam dunia olahraga. Yaitu mendorong dunia olahraga sebagai sebagai bagian dari tekanan geopolitik terhadap suatu negara tertentu. Atau bahkan untuk menghancurkan reputasi dan kredibilitas para olahragawan dari negara yang dijadikan sasaran politisasi penggunaan doping.

Karena itu Global Future Institute sangat mendukung upaya dari berbagai kalangan yang berkeberatan atau menaruh curiga terhadap motivasi politik di balik laporan McLaren, untuk melakukan investigasi yang lebih mendalam terhadap hasil-laporan McLaren tersebut.

Mewaspadai Campur Tangan Politik pada Asian Games 2018 di Indonesia

Sebagaimana kita ketahui bersama, akan menjadi tuan rumah Asian Games pada 2018 mendatang. Tentu saja reputasi dan kredibilitas Indonesia akan dipertaruhkan dalam event regional Asia yang menurut rencana akan diselenggarakan di Jakarta dan Palembang, Sumatra Selatan. Apalagi ini kali kedua Indonesia jadi tuan rumah, setelah yang pertama pada 1962 pada masa pemerintahan Presiden Sukarno.

Mengingat kenyataan dua atlit renang Indonesia sempat mengalami nasib atlit renang Indra Gunawan dan Guntur Pratama maupun olahragawan Kempo Arif Rahman Nasir, sudah selayannya pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga, lebih meningkatkan kewaspadaannya agar para atlit berprestasi yang akan jadi andalah Indonesia dalam Asian Games 2018 tidak terjebak dalam skandal penggunaan doping, sehingga tersingkir dari arena pertandingan.

Campurtangan politik dalam dunia olahraga sebagaimana disinyalir beberapa kalangan terhadap Laporan Richard McLaren dari kanada yang memanfaatkan Badan Antidoping Dunia (WADA) terhadap beberapa olahragawan pemegang medali emas dari beberapa negara, jangan sampai terjadi pada Asian Games 2018 di Indonesia. Dan lebih dari itu, jangan sampai ada olahragawan Indonesia yang akan bernasib seperti Indra Gunawan, Guntur Pratama dan Arif Rahman Nasir.

Maka itu, dalam mengantisipasi hal tersebut pada Asian Games 2018, kiranya tidak cukup jika ditangani oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga, melainkan juga harus berkoordinasi dengan Kementerian Politik dan Keamanan, maupun Badan Intelijen Negara (BIN).





 



Artikel Terkait
» North Korea's medium range missile launch increasingly escalates conflict on the Korean Peninsula
» Tatars still played by western countries to destabilize Russia
» There are efforts to dissolute nation states asymmetrically
» The need of understanding western geopolitical theory although Indonesia does not adopt it
» The US military maneuvers in the Korean Peninsula must immediately be resisted by the Indonesia's Ministry of Foreign Affairs and political and security stakeholders



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Indonesia Dan ASEAN Harus Pertimbangkan kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia Sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik
Belakangan ini, persaingn global AS versus Cina di Asia Pasifik semakin menajam. Indonesia, yang sejatinya merupakan pelopor strategi perimbangan kekuatan di antara dua kutub yang sedang ...

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Lihat lainya »
   Arsip
Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik

Erdogan Kunjungi Teluk untuk Redakan Sengketa Qatar

Wapres Jusuf Kalla Bahas Kerja Sama Maritim dengan Vietnam

PERPPU N0. 2/2017, PERPU CCTV

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumber

Iran Harap Perang Yaman Tidak Sulut Konfrontasi Iran-Saudi

RI -Jepang Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Kesehatan

Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »