» Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia? » Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah » Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh? » Turki Kembali Mempolitisasi Islam dan Isu Tatar Untuk Kepentingan Ukraina » Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah


Diplomasi
10-03-2017
Indonesia-Afrika Selatan Jajaki Kerja Sama Transportasi Udara dan KA

Pemerintah Indonesia dan Afrika Selatan tengah menjajaki kerja sama transportasi udara dan perkeretaapian, kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.


Budi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis, mengatakan hal itu merupakan tindak lanjut pertemuan antara Presiden Joko Widodo dengan Presiden Afrika Selatan Jacob Gedleyehlekisa Zuma.

"Saya mendapat kehormatan untuk melepas kepulangan Presiden Afsel usai menghadiri perhelatan IORA kemarin. Presiden dan delegasi Afsel menyatakan senang berkunjung ke Indonesia dan mengapresiasi pemerintah Indonesia. Beberapa hal yang akan kita jajaki dengan Afsel adalah kerjasama bidang penerbangan, dan perkeretaapian di Kalimantan," katanya.

Budi mengungkapkan bahwa saat ini sudah ada perusahaan dari Afrika Selatan yang tertarik untuk berinvestasi membangun perkeretaapian di Kalimantan untuk angkutan batubara.

"Di Afrika Selatan itu bidang pertambangannya juga sudah maju. Jadi nanti akan ada satu perusahaan di sana yang akan bertemu untuk membahas kerja sama angkutan KA batubara di Kalimantan," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Kemenhub akan mengkaji lebih dalam kerja sama tersebut dan membahas secara detil perjanjian atau dengan Afrika Selatan agar semuanya jelas.

"Memang saat ini belum ada sebuah perjanjian, karena kalau membuat perjanjian itu kan harus detil. Jangan sampai sudah berbicara ini itu tapi tindak lanjutnya tidak ada," ucapnya.

Sementara di sektor udara, Budi mengatakan pemerintah Indonesa akan melakukan peningkatan kerjasama di bidang penerbangan dengan Afrika Selatan.

Ia menjelaskan Presiden Jokowi menginginkan Indonesia bisa menjadi hub penerbangan Afrika Selatan ke negara-negara Asia, sebaliknya Indonesia akan menjadikan Afrika Selatan sebagai hub Indonesia ke negara-negara Afrika.

Sementara Dubes Indonesia untuk Afrika Selatan Suprapto Martosetomo yang mendampingi Menhub melepas kepulangan Presiden Afsel mengatakan, banyak sekali peluang bisnis dengan Afrika Selatan yang bisa dimanfaatkan Indonesia.

"Afsel sudah maju dalam teknologi. Untuk sektor kereta api kita bisa masuk ke sana melalui Inka, untuk mengembangkan sektor perkeretaapian di Afrika Selatan," katanya

Kerja sama Indonesia dengan Afrika Selatan, khususnya di sektor transportasi udara sudah dimulai sejak 1997.

Pada saat itu telah dilakukan penandatangan perjanjian induk pembukaan hubungan udara kedua negara.

Berlanjut pada 2013, kedua negara melakukan penandatangan nota kesepahaman terkait pengaturan hak-hak angkutan udara.

Isi dari nota kesepahaman tersebut yaitu membuka rute penerbangan Indonesia-Afrika Selatan dengan frekuensi tujuh kali seminggu.

Kedua negara sepakat membuka seluruh akses penerbangan melalui bandara-bandara Internasional yang ada.

Afrika Selatan sendiri memiliki tiga bandara internasional utama yaitu, Bandara Internasional Cape Town, Bandara Internasional Tambo (Johannesburg), dan Bandara Internasional Durban.

Namun demikian sampai saat ini belum ada maskapai penerbangan yang melayani penerbangan antarkedua negara, baik itu dari maskapai nasional maupun maskapai Afrika Selatan.



Artikel Terkait
» Kedatangan Raja Salman dan Penandatangan Kerjasama 10 Bidang
» Indonesia Antispasi Arah Kebijakan Luar Negeri AS
» Indonesia dan Korsel Bahas Kerjasama Bilateral
» Presiden Optimis Hubungan Indonesia-AS Tetap Baik



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina
Dalam beberapa bulan belakangan ini, Presiden AS Donald Trump dengan sengaja membesar-besarkan ancaman senjata nuklir dan serangkaian uji coba rudal jarak menengah Korea Utara (Korut) meskipun ...

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Lihat lainya »
   Arsip
Nahdha Project Iringi Naiknya Morsi Menjadi Presiden Mesir

Presiden Lantik 9 Pengarah dan Kepala UKP PIP

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah

7 Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Qatar

Perdana Menteri Malaysia Resmikan Siaran TV Digital

KPK Tetapkan 6 Tersangka Kasus Suap DPRD Jatim

Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh?

Lima Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik

Presiden Ajak Seluruh Elemen Bangsa Jaga Pancasila

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »