» Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah » Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina » Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif » Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat


Politik
14-03-2017
oleh: Pardiyanto*)
Akankah Teroris Menjadi Ancaman Nyata Selamanya di Kehidupan Kita

Awal tahun 2017, lagi-lagi kita dihebohkan dengan aksi teror di Cincedo, Bandung, Jawa Barat sekitar pukul 09.00 27 Februari 2017. Yayat Cahdiyat alias Dani alias Abu Salam lahir di Purwakarta, Jawabarat (24 Juni 1975), melakukan peledakan bom panci Taman Pandawa kawasan Cicendo, Bandung. Pelaku sempat bersembunyi di Kantor Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo. Saat pengerebekan, Yayat  Cahdiyat melontarkan perkataan menuntut pembebasan teman-temannya yang ditahan Densus 88.


Peristiwa pembomanm sebelumnya,  terjadi diakhir tahun 2016, dimana Juhanda alias “JO” melakukan pelemparan bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur sekitar pukul 10.00 Wita pada 13 November 2016 yang menewaskan balita. Dari catatan kedua kejadian peledakan bom tersebut, kedua pelaku ternyata pernah menjalani hukuman dalam tindak pidana terorisme. Yayat Cahdiyat pernah ditangkap di Cikampek pada 2011 atas kasus terorisme berupa mengikuti pelatihan paramiliter di Pegunungan Jalin Jantho, Aceh, pada awal 2010 dengan hukuman selama 3 tahun (bebas pada 2015), sedangkan Juhanda pernah melakukan tindak pidana yang sama yaitu bom buku, divonis pada Mei 2011 (bebas pada 2014).

Yayat Cahdiyat dan Juhanda merupakan residivis dalam kasus teroris, yaitu seseorang yang pernah dihukum  dan mengulang kejahatan yang serupa. Kembali terulangnya kejahatan teroris oleh kedua pelaku tersebut menghadirkan spekulasi tentang kegagalan proses deradikalisasi lembaga pemasyarakat, diantaranya gagal menciptakan kesejahteraan. Persoalan ekonomi, banyak dikaitkan menjadi penyebab terjadi aksi teroris. Anngota DPR RI Fadli Zon mengemukan  3 hal penyebab terorisme di Indonesia (Hukum online.com, 26 Juli 2016: 3 Penyebab Suburnya Aksi Terorisme di Indonesia), yaitu: pertama, faktor domestik, seperti  kemiskinan yang terus membayangi masyarakat menjadi bagian pemicu terjadinya gerakan aksi terorisme. Kedua, faktor internasional, yaitu  keterlibatan pihak luar atau jaringan terorisme internasional. Ketiga, faktor kultural, yaitu masih banyak ditemukan orang memiliki pemahaman yang sempit dalam menterjemahkan nilai-nilai agama yang berkembang di tengah masyarakat.

Meminjam istilah faktor kultural dari Fadli Zon, nampaknya kegagalan proses deradikalisasi adalah gagal merumuskan dan memasukkan pemahaman (insigth) tentang sosial indentitas sebagai bangsa Indonesia yang multikultural terhadap para narapidana terorisme dan masyarakat yang berfikiran fundamentalis-radikal.

Para narapidana terorisme dan kelompok fundamentalis-radikal secara kultural memiliki kecenderungan etnosentrisme terhadap kelompoknya.  Etnosentrisme yaitu sebuah pandangan yang memusatkan perhatian pada kelompoknya sendiri dan menganggap kebudayaan kelompoknya yang paling baik (Sumner). Orang-orang yang berpandangan etnosentrisme akan melihat makin besar persamaan kelompok lain dengan dirinya maka akan semakin dekat, sebaliknya semakin berbeda dalam kelompoknya makan akan semakin jauh (Porter dan Samovar). Bahkan etnosentrisme dapat berupa kesetiaan yang kuat dan tanpa kritik pada kelompok sendiri dan berprasangka (prejudice) terhadap kelompok lain. Salah satu cara pandang etnosentrisme dapat ditemukan diantaranya ketika suatu kelompok dengan mudah mengkafirkan orang atau kelompok lain, bahkan membolehkan orang kafir untuk dibunuh atau juga menganggap pemerintahan yang dibentuk bukan dengan sistem khilafah adalah togut (berhala). Etnosentrisme yang berlebihan, akan dapat mendorong perilaku agresif terhadap orang atau kelompok yang lain yang dianggap berbeda meskipun kelompok lain tidak menyerang atau memerangi kelompoknya.

Peristiwa pemboman Cicendo dan pemboman Gereja Oikumene menggambarkan masih kuatnya fenomena etnosentrisme, sehingga mendorong perilaku radikal dengan melakukan pemboman. Mereka seolah lupa bahwa perbedaaan antar golongan sudah kehendak Tuhan, manusia diciptakan berbeda-beda untuk saling mengenal. Mungkin juga lupa bahwa Tuhan menjanjikan surga bagi orang-orang yang tidak ada dendam dihatinya, tidak ada kebencian dihatinya dan tidak ada amarah dihatinya. Bagaimana mungkin matinya seseorang akan mendapatkan surga kalau matinya karena menyerang orang lain, bukan mati karena mempertahankan diri dari serangan pihak lain.

Pengetahuan dan pemahaman tentang perbedaaan agama yang satu dengan agama yang lain atau antar golongan yang sati dengan golongan yang lain semestinya mendorong setiap orang untuk bisa menerima keberagaman, sehingga bisa saling menghargai dan menghormati keberagaman yang ada. Banyak pemahaman yang diajarkan Tuhan agar orang-orang yang bisa menerima keberagaman adalah orang-orang berfikir pluralistik. Sifat pluralistik akan mengarahkan seseorang menerima perbedaan dan tidak menyalahkan keyakinan orang / kelompok lain serta tidak memaksakan orang lain untuk mengikuti keyakinanya.

Pluralistik bukan berarti pluralisme, pluralisme adalah suatu paham yang mengatakan bahwa realitas terdiri dari banyak subtansi. Pluralisme adalah sebuah kerangka dimana ada interaksi beberapa kelompok-kelompok yang menunjukkan rasa saling menghormat dan toleransi satu sama lain dalam suatu asimilasi tanpa konflik. Pluralistik mengajarkan orang bisa toleran terhadap perbedaan, bahkan menyadari adanya perbedaan antar kelompok dan memberikan kebebasan masing-masing kelompok menjalankan sesuatu sesuai keyakinan kelompoknya sepanjang tidak bersinggungan dengan kelompok lain.

Kehidupan sosial Indonesia diwarnai dengan munculnya berbagai kelompok karena perbedaan keyakinan terhadap Tuhan (Tauhid), perbedaan politik (sistem pemerintahan), perbedaan cara beribadah, perbedaan budaya dan sebagainya. Kegagalan merumuskan identitas sosial dan instrumen berperilaku dalam hubungan sosial akan menjerat bangsa Indonesia kedalam etnosentrisme yang memicu perilaku teror, permusuhan dan konflik. Setiap elit baik elit politik, elit agama, elit pemerintahan dan lain-lain memiliki tanggungjawab untuk menjadi role model, dalam membangun identitas sosial. Ajaran-ajaran kasih sayang antar kelompok, atau ajaran setiap orang menjadi pemberi rahmat bagi semesta alam dalam hubungan sosial yang mampu dirumuskan dan diajarkan dalam setiap identitas sosial masyarakat akan mampu menekan sikap permusuhan dan peperangan. Aamiin.



*) Pemerhati  Masalah sosial dan Perilaku
 




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Moon Jae-in Menjadi Presiden ke-19 Korea Selatan

Warga Korsel Pilih Presiden Baru

GFI Ingatkan 5 Poin Pesan Panglima TNI

Wapres Buka Peringatan Hari Pers Sedunia 2017

Top! Pelajar Indonesia Gelar Festival Budaya di Manchester

Kehadiran Kapal Induk Cina Terbaru Menuai Spekulasi

Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik

Kongres Ulama Perempuan di Cirebon Dihadiri oleh 15 Negara

Sekjen PBB Serukan Penyelesaian Politik bagi Krisis Yaman

China Luncurkan Kapal Induk Buatan Dalam Negeri

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »