» Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik » Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik » Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing » Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara » Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia


Politik
14-03-2017
Oleh: Wildan Nasution *)
Mewujudkan Spirit Demokrasi Pancasila

Peran pemuda sangat dibutuhkan dalam mengawal kejadian dan fenomena yang muncul di negara saat ini. Pemuda harus menegakkan keadilan di negara ini agar demokrasi tercipta dan negara Indonesia menjadi negara terpandang di kancah internasional.


Harus dipahami bahwa demokrasi Indonesia sangat berbeda dengan demokrasi di negara lain. Hal ini jelas karena demokrasi Pancasila mengandung 5 nilai nilai yang kemudian dari kelima sila itu menyatukan bangsa indonesia.

Berdasarkan survey terakhir disebutkan bahwa 97% masyarakat di Indonesia percaya bahwa Pancasila adalah satu satunya pemersatu bangsa Indonesia tetapi realitanya cuma 35% yang menerapkan nilai Pancasila secara benar dan konsekuen. Hal ini berarti kita sebenarnya kurang bangga dengan Pancasila, padahal beberapa negara lain belajar kepada Indonesia soal Pancasila untuk menengahi konflik di negaranya. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika masyarakat meminta ke Presiden Jokowi untuk mengembalilan pelajaran Pancasila dan UUD 1945 sebagai satu kurikulum pelajaran.

Setidaknya ada sepuluh persoalan yang ada di Indonesia saat ini antara lain masalah ekonomi, persoalan transisi, korupsi dan penegakan hukum. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, masih sulit karena kuatnya intervensi kekuasaan masih ada dinegara ini sehingga masyarakat masih menganggap bahwa kekuasaan adalah segalanya sehingga berlomba lombalah masyarakat terjun ke dalam dunia kekuasaan antara lain politik.

Diakui tidak diakui bahwa kelemahan pemuda sekarang ini adalah basis gerakan mahasiswa sekarang sangat lemah dalam artian keberpihakan mahasiswa lemah, rendahnya kesadaran kelas dalam artian pemuda sekarang mudah terpengaruh dengan iming iming jabatan, uang bahkan gratifikasi seks. Oleh karena itu, jadilah mahasiswa yang benar benar mahasiswa dan siap untuk jadi pemimpin ke depan.  Pemuda memiliki tiga peran penting yaitu, kekuatan modal, agen of control dan agen perubahan, dengan memiliki delapan tanggung jawab dan dua diantaranya adalah menjaga Pancasila dan NKRI. Tanggung jawab ini semakin berat karena banyak hal yang hilang saat ini antara lain budaya kita dimana budaya kita adalah budaya malu, gotong royong hal ini merupakan pengaruh terhadap negara kita.
 


Sumber : Google

Indonesia merupakan negara hukum yang berbentuk Pancasila, dan Pancasila merupakan alat perekat bangsa Indonesia bagaimana jadinya bangsa kita tanpa adanya Pancasila. Sebagai konsekuensi logis negara hukum di Indonesia, semua di atur dalam peraturan. Namun paradoksnya adalah banyak peraturan yang ada di Indonesia tetapi penerapannya belum maksimal dan bahkan masih ada tumpang tindih dengan hukum lain, bahkan ironisnya kenyataan sekarang banyak penegak hukum yang melanggar aturan dan hukum itu sendiri. Padahal, hukum adalah benda mati jadi yang sebenarnya bisa menghidupkan hukum adalah dari rakyat Indonesia.

Menurut teorinya, faktor yang mempengaruhi penegakan hukum yaitu hukum itu sendiri dan penegak hukumnya, masyarakat dan sarana dan fasilitas. Yang patut diingat adalah Indonesia merupakan negara multikultural sehingga dalam membuat undang undang harus bisa merangkul kemajemukan yang ada d Indonesia.

Semangat wawasan kebangsaan

Generasi muda saat ini perlu peningkatan kesadaran bela negara karena  semakin lama semakin pudar,  saat ini di Indonesia mendapatkan ancaman diantaranya sengketa batas, ekonomi dan terorisme sedangkan  untuk ancaman dari dalam negeri diantaranya politik, konflik, disintegrasi bangsa dan sosial.

Saat ini  dibutuhkan kesadaran sebagai komponen utama diantaranya adanya kesadaran bela negara, cinta tanah air dan sebagainya. SDA Indonesia melalui eksploitasi SDA yang tidak terkontrol sehingga dapat merusak lingkungan.
Sekarang ini dengan adanya kemudahan informasi yang didorong kemajuan teknologi ini mendapatkan suatu dengan sangat cepat masuk, paradikma saat ini dibandingkan masa lalu infiltrasi sangat tidak kelihatan.

Bangsa Indonesia harus mewaspadai dimana bangsa Indonesia secara non fisik pihak bangsa asing telah merangcang cara baru dengan biaya yang murah meriah yang dikenal dengan istilah perang modern.

Sebagian besar bangsa Indonesia belum mengerti dan memahami bahwa kita telah terseret dalam skenario global yang dikembangkan oleh negara maju melalui penjajahan paradigma, kondisi bangsa kita saat ini sadar atau tidak sadar sedang dilandai perang modern.

Salah satu fenomena yang menarik terkait dengan isu ideologi sejak pasca reformasi ini ialah terabaikan orientansi wawasan kebangsaan generasi muda, isu wawasan kebangsaan seolah-olah tidak dianggap penting daripada isu demokrasi, Pilkada, Pilkades dan isu SARA atau isu politik lainya.

Sistem politik yang telah dipilih sejak gerakan reformasi hingga sekarang ini telah mengubah haluan dan tatanan dasar nilai dan ideologi bangsa Indonesia yaitu Pancasila. Sistem politik liberalis, one man one vote perubahan struktur pemerintah, munculnya lembaga negara baru yang bertentangan dengan semangat NKRI.

Untuk menumbuhkan generasi muda yang memiliki semangat Pancasila tentu diperlukan ruang keterbukaan dan komitmen dari pemerintah dalam memberikan ruang bagi generasi mudah untuk kreatif, kritis dan inovatif.

Negara ini ibaratnya bertiraikan bambu yang sudah rusak tanpa adanya upaya untuk memperbaiki, saat ini kita melawan penjajahan gaya baru yaitu ideologi fundamentalisme yang akan menceraiberaikan bangsa Indonesia.

Perjuangan perlu adanya upaya dan perlawanan perlu dilakukan untuk menegakkan kembali Pancasila sebagai dasar falsafah bangsa dan dasar negara bangsa dihati generasi muda.

*) Penulis adalah pemerhati masalah kebangsaan. Bergabung di Cersia, Jakarta. Tinggal di Kepri, Batam.
 




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Indonesia Dan ASEAN Harus Pertimbangkan kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia Sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik
Belakangan ini, persaingn global AS versus Cina di Asia Pasifik semakin menajam. Indonesia, yang sejatinya merupakan pelopor strategi perimbangan kekuatan di antara dua kutub yang sedang ...

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Lihat lainya »
   Arsip
Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik

Erdogan Kunjungi Teluk untuk Redakan Sengketa Qatar

Wapres Jusuf Kalla Bahas Kerja Sama Maritim dengan Vietnam

PERPPU N0. 2/2017, PERPU CCTV

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumber

Iran Harap Perang Yaman Tidak Sulut Konfrontasi Iran-Saudi

RI -Jepang Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Kesehatan

Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »