» Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina » Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif » Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)


Eropa
23-03-2017
PM Inggris Bereaksi setelah Serangan di London

Perdana Menteri Inggris Theresa May memberi reaksi terbuka pertamanya pada Rabu malam (22/3) mengenai serangan terburuk di London sejak 2005, yang sejauh ini telah menewaskan empat orang dan melukai lebih dari 20 orang lagi.


May berbicara di luar kantor di 10 Downing Street, setelah ia menghadiri pertemuan dengan penasehat senior Inggris sesudah serangan tersebut. Seorang polisi yang menjaga Gedung Parlemen tewas setelah ia ditikam oleh seorang tersangka pelaku serangan.

May menggambarkan pelaku serangan itu sebagai "sakit dan bejat" dan wanita perdana menteri tersebut memuji keberanian para petugas polisi yang menghadapi bahaya saat mereka memberitahu orang agar menyelamatkan diri, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis pagi. May mengkonfirmasi tingkat ancaman saat ini di Inggris, yaitu parah, akan tetap diberlakukan.

"Lokasi serangan ini bukan tidak disengaja," kata May. Pelaku "memilih untuk menyerang di jantung ibu kota kita, tempat orang dari segala kewarganegaraan, agama dan budaya, berkumpul. Jalan Westminster ini, adalah tempat Parlemen tertua di dunia dipancangkan dengan semangat kebebasan. Itu sebabnya mengapa tempat ini menjadi sasaran bagi mereka yang menolak semua nilai tersebut. Setiap upaya untuk mengalahkan nilai itu melalui teror atau kekerasan akan gagal".

"Besok anggota Parlemen akan datang secara normal, dan warga London, serta rakyat dari seluruh dunia yang telah datang ke kota besar ini, akan bangun dan pergi melaksanakan kegiatan harian mereka secara normal. Mereka akan naik kereta, mereka akan keluar hotel, mereka akan berjalan di jalan ini, mereka akan menjalankan hidup mereka. Dan kita akan bergerak maju bersama, tak pernah menyerah pada teror dan tak pernah membiarkan suara kebencian ... memecah-belah kita," kata Perdana Menteri Inggris tersebut.

Seorang penyerang menabrakkan mobil ke pejalan kaki di Westminster Bridge, dan melukai sedikitnya 20 orang, dalam apa yang memiliki tanda serangan serupa terhadap daratan Eropa. Sebagian korban dilaporkan telah mengalahmi luka parah. Tiga polisi dan sejumlah anak Prancis termasuk di antara korban tewas.

Mobil itu kemudian melaju dengan kecepatan tinggi dan menabrak pagar yang mengelilingi gedung Majelis Rendah Parlemen Inggris. Polisi Metropolitan mengatakan seorang lelaki, yang bersenjatakan pisau, melanjutkan serangan, dan berusaha memasuki gedung Parlemen.

Ia menyerang seorang polisi bersenjata yang sedang bertugas di gedung Majelis Rendah Parlemen dan ditembak oleh petugas lain yang bersenjata. Polisi yang diserang dan penyerangnya belakangan tewas akibat luka mereka. Keluarga polisi yang jadi korban diberitahu mengenai tratedi tersebut.



Artikel Terkait
» Uni Eropa Perpanjang Sanksi Satu Tahun Terhadap Belarusia
» Uni Eropa akan Tetap Terapkan Sanksi kepada Rusia
» Uni Eropa Diminta Tidak Ikuti Permainan Trump
» Prancis: Keputusan Trump "Risiko Serius" bagi Tatanan Perdagangan Global
» Partai Berkuasa di Hungaria Ingin Usir "LSM George Soros"
» Mantan Presiden Jerman Roman Herzog Wafat



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
GFI Ingatkan 5 Poin Pesan Panglima TNI

Wapres Buka Peringatan Hari Pers Sedunia 2017

Top! Pelajar Indonesia Gelar Festival Budaya di Manchester

Kehadiran Kapal Induk Cina Terbaru Menuai Spekulasi

Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik

Kongres Ulama Perempuan di Cirebon Dihadiri oleh 15 Negara

Sekjen PBB Serukan Penyelesaian Politik bagi Krisis Yaman

China Luncurkan Kapal Induk Buatan Dalam Negeri

Pilkada Rasa Devide et Impera

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »