» Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) » Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia » Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan


Internasional
11-04-2017
Malala Utusan Perdamaian PBB untuk Pendidikan Perempuan

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres, Senin, menunjuk seorang pemenang Nobel Malala Yousafzai sebagai Utusan Perdamaian PBB untuk mempromosikan pendidikan perempuan.


Penunjukan itu dilakukan lebih dari empat tahun setelah seorang pria bersenjata Taliban menembaknya kepala pelajar perempuan itu di bus sekolahnya pada 2012, lapor Reuters.

Pada usia 19 tahun, Yousafzai adalah utusan perdamaian termuda, kehormatan tertinggi yang diberikan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa untuk periode awal dua tahun. Dia juga orang termuda yang memenangkan hadiah perdamaian Nobel pada tahun 2014 ketika dia berusia 17 tahun.

"Anda tidak hanya pahlawan, tetapi Anda sangat berkomitmen dan orang yang murah hati," kata Guterres kepada Yousafzai.

Utusan perdamaian lain saat ini antara lain adalah aktor Leonardo di Caprio untuk perubahan iklim, aktris Charlize Theron, yang fokus pada pencegahan HIV dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan, dan aktor Michael Douglas, yang fokus perlucutan senjata.

Baca juga: (Malala jadi utusan perdamaian termuda PBB)

Yousafzai telah menjadi pembicara rutin di panggung global dan mengunjungi kamp-kamp pengungsi di Rwanda dan Kenya pada Juli lalu untuk menyoroti penderitaan perempuan pengungsi dari Burundi dan Somalia.

Pegiat pendidikan asal Pakistan itu menjadi terkenal ketika pria bersenjata Taliban menembak dirinya di kepala pada tahun 2012 saat ia meninggalkan sekolah di Lembah Swat Pakistan, bagian barat laut dari ibu kota Islamabad.

Dia menjadi target Taliban karena kampanyenya melawan kebijakan Taliban yang menolak pendidikan untuk perempuan.

"Para ekstremis mencoba semua yang bisa mereka lakukan untuk menghentikan saya, mereka mencoba untuk membunuh saya dan mereka tidak berhasil," kata Yousafzai, Senin.

"Sekarang ini adalah kehidupan baru, ini adalah kehidupan kedua dan itu adalah untuk tujuan pendidikan."

Dia sekarang tinggal di Inggris, di mana ia menerima perawatan kesehatan setelah ia ditembak. Yousafzai mengatakan bahwa ketika dia selesai sekolah menengah pada Juni, dia ingin belajar filsafat, politik dan ekonomi di universitas.



Artikel Terkait
» Germany says Brexit talks will not be easy for either side
» Saudi King leaves Bali for Japan
» What is The Urgency of IORA Summit for Indonesia?



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Myanmar Bantah terjadi Pembersihan Suku Rohingya

Ini Sikap AS Terkait Serangan Ke Suriah

China Kembalikan Batu Bara asal Korea Utara

Malala Utusan Perdamaian PBB untuk Pendidikan Perempuan

Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Panglima TNI: Generasi Penerus TNI Harus Sensitif Terhadap Isu Global

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »