» Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia? » Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah » Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh? » Turki Kembali Mempolitisasi Islam dan Isu Tatar Untuk Kepentingan Ukraina » Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah


Asia
11-04-2017
China Kembalikan Batu Bara asal Korea Utara

Kapal-kapal kargo dari Korea Utara pulang Pelabuhan asal di Nampo dengan membawa batu bara, setelah pemerintah China memerintahkan agar seluruh importir mengembalikan komoditas dari negara yang semakin terisolasi oleh komunitas internasional itu.


Sejak 26 Februari lalu, China sudah menghentikan impor batu bara dari Korea Utara, yang merupakan komoditas ekspor paling penting Korea Utara. Langkah penghentian impor batu bara ini hukuman atas sejumlah uji coba persenjataan yang dilakukan Pyongyang.

Untuk menghentikan lalu lintas perdagangan batu bara kedua negara, departemen bea cukai China mengeluarkan surat perintah pada 7 April bagi seluruh pengimpor untuk menolak kapal kargo dari Korea Utara, demikian keterangan tiga sumber Reuters.

Surat perintah itu keluar pada hari yang sama saat Presiden China, Xi Jinping, bertemu dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk membicarakan langkah lanjutan terkait Korea Utara.

Data lalu-lintas laut dari Thomson Reuters Eikon, suatu aplikasi informasi dan analisis finansial, menunjukkan puluhan kapal kargo yang penuh dengan muatan menuju pelabuhan Nampo, Korea Utara.

Otoritas China sendiri hingga kini tidak merespon permintaan wartawan untuk berkomentar.

Pemerintah Amerika Serikat sudah sejak lama menekan Beijing bertindak tegas terhadap Korea utara, negara yang sebagian besar ekspornya ditujukan kepada China melalui Laut Kuning.

Baca juga: (BI: batu bara diprediksi 70 dolar AS/metrik)

Baca juga: (Utusan nuklir China kunjungi Korsel bahas ancaman Korut)

Selain itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Rex Tillerson, pekan lalu mengatakan, serangan udara mereka ke Suriah merupakan peringatan bagi negara-negara lain, termasuk Korea Utara, akan ketegasan tindakan Washington terhadap mereka yang dianggap berbahaya.

Di sisi lain, China dan Korea Selatan pada Senin lalu sepakat untuk memberlakukan sanksi bersama untuk Korea Utara jika negara tersebut terus menguji coba nuklir ataupun rudal kendali jarak jauh.

Korea Utatra sendiri pada bulan ini akan memperingati sejumlah hari penting yang biasanya dirayakan dengan menggelar uji coba senjata.

Seorang sumber dari salah satu pengimpor batu bara terbesar China, Dandong Chengtai, mengatakan bahwa sempat menimbun 600.000 ton batu bara asal Korea Utara di sejumlah pelabuhan tanpa bisa dijual.

Korea Utara adalah penyedia batu bara yang signifikan bagi China, terutama dari jenis yang digunakan untuk membuat baja.

Untuk mengkompensasi hilangnya pasokan batu bara dari Korea Utara, China kemudian menambah impor dari Amerika Serikat; langkah yang menguntungkan bagi Trump yang pada masa kampanye lalu berjanji akan mengembalikan kejayaan sektor batu bara negaranya.

Data dari Reuters menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak pernah mengekspor batu bara ke China antara akhir 2014 sampai 2016 lalu. Namun angka penjulan tiba-tiba naik menjadi 400.000 ton sejak akhir Februari lalu.



Artikel Terkait
» Tentara Filipina Tewaskan 10 Aktivis Garis Keras Guna Bebaskan Sandera
» Amerika Mulai Kerahkan Pesawat Tempur Tanpa Awak ke Korsel
» Prospek Hubungan Indonesia-Australia
» Memaksimalkan Relasi dengan "Saudara Tua"



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina
Dalam beberapa bulan belakangan ini, Presiden AS Donald Trump dengan sengaja membesar-besarkan ancaman senjata nuklir dan serangkaian uji coba rudal jarak menengah Korea Utara (Korut) meskipun ...

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Lihat lainya »
   Arsip
Nahdha Project Iringi Naiknya Morsi Menjadi Presiden Mesir

Presiden Lantik 9 Pengarah dan Kepala UKP PIP

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah

7 Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Qatar

Perdana Menteri Malaysia Resmikan Siaran TV Digital

KPK Tetapkan 6 Tersangka Kasus Suap DPRD Jatim

Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh?

Lima Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik

Presiden Ajak Seluruh Elemen Bangsa Jaga Pancasila

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »