» Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik » Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik » Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing » Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara » Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia


Tick News
17-04-2017
Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat
Penulis : Rusman dan Ferdiansyah Ali (Peneliti Global Future Institute)

 

Meskipun pasukan Amerika Serikat menggerakkan kapal perangnya ke Pasifik Barat, namun Korea Utara nampaknya sama sekali tidak gentar. Bahkan memperingkatkan negeri Paman Sam itu akan membalasnya dengan serangan nuklir. Bahkan sebelum Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan akan melakukan aksi sepihak dengan menggerakkan kapal induknya USS Carl Vinson ke Semenanjung Korea, negeri yang dipimpin oleh Presiden Kim Jong Un itu sudah melakukan uji coba rudal balistiknya sebanyak enam kali. 

 

Menggerakkan kapal induk Carl Vinson mengindikasikan bahwa AS memang sungguh-sungguh bakal menginvasi Korut, sebab kapal perang USS Carl Vinson ini bertenaga nuklir. Apalagi akan diperkuat dengan kapal perusak dan kapal penjelajah. 
 
Manuver Korut dengan peluncuran uji coba rudal balistik antar-benua atau ICBM memang memicu kekhawatiran Korea Selatan, Jepang dan AS. Sehingga Presiden Trump mendesak pemerintah Cina agar mengendalikan ulah Korut tersebut. Jika tidak, maka AS akan melakukan aksi sepihak tanpa melibatkan Cina. Yang hal itu bisa diartikan sebagai keputusan AS untuk menginvasi Korut seperti halnya ketika George W Bush menginvasi Afghanistan pada 2001 dan Irak 2003. 
 
Kedigdayaan angkatan bersenjata Korut memang cukup beralasan untuk memicu kekhawatiran AS, Korea Selatan dan Jepang. Sabtu lalu misalnya, Korut memamerkan untuk pertama kalinya rudal balistik bawah laut (SLBM). 
 
Bahkan beberapa hari lalu, Korut menginformasikan kepada dua ratus wartawan asing yang berada di Pyonyang bahwa mereka akan mempersiapkan acara besar. Dugaan sementara, maksud dari acara besar itu adalah uji coba nuklir yang keenam kalinya bagi pemerintahan Kin Jong un.
 
Dilansir dari Reuters, Kamis (13/4) lalu, wartawan asing yang berada di Pyongyang diberitahu bahwa Korut akan memperingati ulang tahun ke 105 kelahiran Kim II Sung yang merupakan presiden dan pendiri Korea. Tetapi pejabat Korut tidak memberikan rincian acara termasuk lokasi acaranya.
 
Korut memang sama sekali tidak takut dengan Amerika. Bahkan ketika dapat kabar AS sedang menggerakkkan kapal induknya USS Carl Vinson ke Semenanjung Korea, padahal semula digerakkan menuju Australia, Korut malah mengisyaratkan untuk siap melakukan uji coba nuklir yang kali ke sekian. 
 
Presiden Trump memang beralasan untuk mendesak Presiden Xi Jinping untuk menghentikan uji coba nuklir Korut, sebab pemerintah Cina semasa kepemimpinan Mao Zedong pada 1950-an telah memutuskan untuk membantu Korut dalam menghadapi AS yang berada di belakang Korea Selatan. Meskipun AS dan Cina sama-sama gagal menguasa sepenuhnya Semenanjung Korea, namun dengan mendukung sepenuhnya Korut, maka Cina berhasil memaksakan adanya gencatan senjata antara Korea Selatan dan Korea Utara, sehingga AS dan Cina sama-sama berbagi kuasa atas wilayah di Semenanjung Korea. 
 
Kalau menelisik kesejarahannya, nampaknya Korsel dan Korut hingga kini masih dalam keadaan perang, hanya saja dalam keadaan gencatan senjata. 


Artikel Terkait
» Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida
» Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)
» Asia Pasifik dalam Pusaran Kekuatan-kekuatan Global
» Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Indonesia Dan ASEAN Harus Pertimbangkan kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia Sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik
Belakangan ini, persaingn global AS versus Cina di Asia Pasifik semakin menajam. Indonesia, yang sejatinya merupakan pelopor strategi perimbangan kekuatan di antara dua kutub yang sedang ...

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Lihat lainya »
   Arsip
Erdogan Kunjungi Teluk untuk Redakan Sengketa Qatar

Wapres Jusuf Kalla Bahas Kerja Sama Maritim dengan Vietnam

PERPPU N0. 2/2017, PERPU CCTV

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumber

Iran Harap Perang Yaman Tidak Sulut Konfrontasi Iran-Saudi

RI -Jepang Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Kesehatan

Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing

Pemerintah Pastikan Blokir Telegram

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »