» Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik » Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik » Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing » Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara » Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia


Asia
09-05-2017
Pemilu Korea Selatan
Warga Korsel Pilih Presiden Baru

Warga Korea Selatan menggunakan hak pilihnya pada Selasa untuk memilih presiden baru hingga lima tahun mendatang.


Seperti yang dilaporkan Komisi Pemilihan Nasional (National Election Commission/NEC), pemungutan suara untuk pemilihan presiden dimulai pukul 06.00 waktu setempat di 13.964 tps di seluruh negeri. Lebih lanjut NEC menyebut, hingga pukul 11.00 pemilih yang menggunakan hak pilih mereka mencapai 19,4 persen.

Angka itu selanjutnya akan digabungkan dengan pengguna hak pilih selama dua hari periode pemilihan awal yang mencakup 26,04 persen pemilih.

Angka kehadiran pemilih itu menandai tingkat tertinggi dalam pemilihan awal, menunjukkan tingginya minat publik pada pemilu menyusul pemakzulan presiden menurut laporan kantor berita Yonhap.

Seperti diketahui bersama pemilihan itu diselenggarakan setelah pelengseran Presiden Park Geun-hye pada 10 Maret terkait skandal korupsi besar yang kemudian membuaut dia ditangkap dan didakwa.

Tiga belas kandidat bersaing menempati kursi kepresidenan negeri itu, tapi banyak yang meyakini kenyataannya itu merupakan kompetisi tiga jalur antara Moon Jae-in dari Partai Demokratik yang liberal, Hong Joon-pyo dari Partai Kebebasan Korea yang konservatif dan Ahn Cheol-soo dari Partai Rakyat tengah-kiri.

Pemungutan suara akan berakhir pukul 20.00, bukan 18.00 sebagaimana biasa.

"Partisipasinya tinggi dalam pemungutan suara di luar negeri dan pemungutan suara awal yang dilakukan di depan, dan survei pemilih oleh komisi menunjukkan bahwa makin banyak orang yang ingin memilih," kata seorang pejabat NEC kepada Yonhap lewat telepon.

NEC berharap tingkat partisipasi pemili bisa mencapai 80 persen. (TGR07/ANT)



Artikel Terkait
» Aksi Pemakzulan Presiden Korsel Semakin Menguat



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Indonesia Dan ASEAN Harus Pertimbangkan kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia Sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik
Belakangan ini, persaingn global AS versus Cina di Asia Pasifik semakin menajam. Indonesia, yang sejatinya merupakan pelopor strategi perimbangan kekuatan di antara dua kutub yang sedang ...

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Lihat lainya »
   Arsip
Erdogan Kunjungi Teluk untuk Redakan Sengketa Qatar

Wapres Jusuf Kalla Bahas Kerja Sama Maritim dengan Vietnam

PERPPU N0. 2/2017, PERPU CCTV

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumber

Iran Harap Perang Yaman Tidak Sulut Konfrontasi Iran-Saudi

RI -Jepang Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Kesehatan

Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing

Pemerintah Pastikan Blokir Telegram

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »