» Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina » Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif » Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)


Analisis
16-05-2017
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina
Penulis : Hendrajit, Pengkaji Geopolitik dan Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI)

Dalam beberapa bulan belakangan ini, Presiden AS Donald Trump dengan sengaja membesar-besarkan ancaman senjata nuklir dan serangkaian uji coba rudal jarak menengah Korea Utara (Korut) meskipun dalam tiga kali uji coba selalu gagal. 


Namun demikian, baik Presiden Trump maupun menteri luar negeri  Rex Tilerson agaknya tetap menggembar-gemborkan kemungkinan timbulnya konflik besar AS-Korut terkait senjata nuklir Korut. Menurut analisis Global Future Institute (GFI), isu senjata nuklir dan uji coba rudal jarak menengah Korut nampaknya secara sadar dimainkan sebagai isu oleh AS sebagai alasan untuk meningkatkan kehadiran militernya di Semenanjung Korea. Seraya mencari alasan pembenaran (justifikasi) agar AS bisa menempatkan dan menyebarkan Sistem Pertahanan Anti-Rudal atau yang kita kenal dengan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) di Korea Selatan. 
 
Sejak April lalu THAAD yang merupakan perangkat pertahanan anti-rudal milik AS ini sudah dioperasionalisasikan dan dipasang di sebuah lapangan golf Seongju, Korea Selatan. Yang menjadi dalih AS untuk memasang THAAD di Korsel adalah untuk melindungi Korsel dengan lebih baik dari ancaman serangan rudal jarak menengah dan senjata nuklir Korut  yang belakangan ini semakin meningkat. Begitu menurut pernyataan Panglima Komando Pasifik AS Harry Harris. 
 
Pernyataan Harris, nampaknya senada dengan pernyataan Presiden Trump maupun menlu Rex Tilerson, bahwa penyebaran THAAD ditujukan untuk melindungi Korea Selatan dari ancaman serangan persenjataan nuklir dan rudal jarak menengah Korut. 
 
Antara lain Harris mengingatkan bahwa Presiden Korut Kim Jong-un semakin mendekati tujuannya membangun rudal nuklir yang berpotensi digunakan untuk menyerang kota-kota di AS. 
 
Jelaslah sudah, bahwa otoritas politik dan otoritas militer AS sedang membangun opini adanya ancaman persenjataan nuklir Korut sebagai dalih untuk semakin meningkatkan jumlah perangkat pencegah rudal balistik ke  beberapa stasiun yang telah dimiliki AS yaitu di Alaska dan California. Bahkan Panglima Harris juga mendesak Kongres agar meningkatkan pengadaan peralatan anti rudal di Hawai.
 
Tentu saja yang saat ini jadi prioritas Washington adalah penempatan dan penyebaran THAAD di Korea Selatan. Yang mana salah satu alasannya, serangan militer Korut tidak hanya membahayakan jutaan warga Korsel. Tapi juga termasuk 24 ribu tentara AS yang ada di Korsel. 
 
Meskipun dalih yang dikemukakan oleh pemerintah AS, termasuk Panglima Komando Pasifik Harris, nampak masuk akal, namun sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataan. 
 
Karena menurut kajian tim riset GFI, THAAD sebenarnya sama sekali tidak diperlukan jika semata-mata untuk menangkal ancaman serangan militer Korut. Sebab, dengan gagalnya tiga kali uji coba rudal jarak menengah yang dilaporkan bisa membawa senjata nuklir, sebenarnya kemampuan persenjataan nuklir Korut tidak berbahaya sama sekali. Bahkan kalau mau lebih tegas, kekuatan persenjataan nuklir sama sekali tidak sebesar yang digembar-gemborkan pihak AS.
 
Selain dari itu, kalaupun Korut memang pada perkembangannya nanti akan menyerang Korea Selatan atau Jepang, Korut cukup menggunakanb senjata-senjata jenis arteleri dan meriam. Dengan kata lain, dalih AS untuk menempatkan THAAD di Korsel untuk menghadapi serangan nuklir Korut, sama sekali tidak beralasan. 
 
Yang lebih masuk akal, penempatan dan penyebaran THAAD di Korsel adalah untuk menghadapi semakin menguatnya kekuatan angkatan bersenjata Cina di kawasan Asia Pasifik, terutama Semenanjung Korea. 
 
Maka tidak heran jika pihak pemerintah Cina sangat keberatan dengan operasionalisasi THAAD di Korsel. Sebab Cina pasti sudah memperhitungkan bahwa penempatan dan penyebaran THAAD sejatinya ditujukan kepada Cina. Dalam perhitungan para pakar pertahanan Cina, radar yang ada di dalam THAAD bisa menembus wilayah Cina sehingga bisa berfungsi untuk memata-matai semua kegiatan militer Cina. 
 
Hal tersebut secara terbuka juga diperkuat oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina dalam sebuah konferensi pers. Juru Bicara Kemlu Cina Geng Shuang mengatakan negaranya keberatan  dengan keberadaan perangkat THAAD. “Radar kuat THAAD dapat menembus wilayahnya dan melemahkan kemapuan negara kami,” begitu pernyataan Geng Shuang. 
 
Kekhawatiran Cina rasa-rasanya cukup beralasan. Kalau menelisik kemampuannya, THAAD memiliki kemampuan untuk menempuh jarak sekitar 200 kilometer dengan ketinggian menjangkau 150 kilometer. THAAD juga memiliki kemampuan untuk menembakkan rudal balistik jarak pendek dan menengah dari terminal penerbangannya. Rudal tersebut juga dilengkapi dengan teknologi hit to kill. Meskipun tidak membawa hulu ledak, namun THAAD mengandalkan energi kinetik untuk menghancurkan rudal yang masuk. 
 
Sedemikian rupa kegusaran Beijing sehingga beberapa proyek dari beberapa perusahaan Korsel yang beroperasi di Cina dihentikan oleh otoritas Cina. 
 
Apapun alasan AS dengan penyebaran dan penempatan THAAD, pada kenyataannya saat ini kapal induk USS Carl Vinson dan kapal selam yang dilengkapi rudal USS Michigan, sudah merapat ke perairan dekat Semenanjung Korea. Sehingga bisa dibaca sebagai isyarat bahwa AS memang sedang meningkatkan eskalasi militernya, khususnya angkatan lautnya, di Semenanjung Korea. Bukan saja untuk menghadapi Korut, melainkan juga untuk menghadapi kekuatan militer Cina. 
 
Maka dalam konteks demikian, penempatan THAAD di Korsel, bukan saja akan membahayakan Korut, melainkan juga Cina. Ketika Cina semakin yakin bahwa keberadaan THAAD sesungguhnya ditujukan kepada negaranya, maka bisa dipastikan Cina pun akan membalas dengan mengoperasionalisasikan rudal-rudal canggihnya. Sehingga pada perkembangannya, akan semakin meningkatkan eskalasi konflik militer di Semenanjung Korea. Sehingga ketegangan militer antara AS dan Cina sebagai sama-sama negara adikuasa, tak terhindarkan lagi. Alhasil, situasi di Semenanjung Korea akan semakin memanas, dan berpotensi menciptakan instabilitas tidak saja di kawasan Asia Timur, melainkan juga di Asia Tenggara.
 
Dengan demikian, maka pernyataan Presiden Trump tentang kemungkinan terjadinya konflik besar antara AS versus Korut terkait program nuklir, sesungguhnya hanya alasan atau dalih agar AS bersama-sama dengan Korsel dan Jepang semakin intensif menjalin kerjasama militer di Semenanjung Korea, yang mana sesungguhnya bukan sekadar hendak menghadapi Korut, tapi untuk mengepung Cina. Maka, Cina lah sasaran strategis AS yang sesungguhnya di balik ketegangan AS-Korut terkait senjata nuklir.  



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
GFI Ingatkan 5 Poin Pesan Panglima TNI

Wapres Buka Peringatan Hari Pers Sedunia 2017

Top! Pelajar Indonesia Gelar Festival Budaya di Manchester

Kehadiran Kapal Induk Cina Terbaru Menuai Spekulasi

Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik

Kongres Ulama Perempuan di Cirebon Dihadiri oleh 15 Negara

Sekjen PBB Serukan Penyelesaian Politik bagi Krisis Yaman

China Luncurkan Kapal Induk Buatan Dalam Negeri

Pilkada Rasa Devide et Impera

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »