» Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina » Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif » Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)


Internasional
19-05-2017
Inilah Penantang Terkuat Rouhani di Pemilu Iran

Penantang terkuat Rouhani adalah ulama Ebrahim Raisi (56 tahun) yang mengatakan Iran tidak memerlukan bantuan asing serta menjanjikan kebangkitan kembali nilai-nilai Revolusi Islam 1979. Dia didukung oleh Garda Revolusi elite Iran, pasukan keamanan utama negara tersebut, petempur sukarela Basij, ulama dan dua kelompok ulama berpengaruh.


Raisi seorang penantang utama yang merupakan sekutu dekat dan anak didik Khamenei. Ia merupakan satu dari empat hakim Islam yang memerintahkan eksekusi ribuan tahanan politik pada 1988. Media Iran telah memperbincangkan dirinya sebagai calon penerus masa depan Khamenei.

Raisi menyasar pemilih ekonomi lemah dengan berjanji untuk menciptakan jutaan lapangan kerja. "Meskipun tidak realistis, janji semacam itu pasti akan menarik jutaan pemilih miskin," kata Saeed Leylaz, seorang ekonom terkemuka Iran yang dipenjara karena mengkritik kebijakan ekonomi pendahulu Rouhani, Mahmoud Ahmadinejad.

Meskipun pemimpin tertinggi secara resmi berada di atas kericuhan politik sehari-hari, Khamenei dapat mempengaruhi pemilihan presiden dengan memberi dukungan kepada kandidat secara diam-diam, sebuah langkah yang dapat membangkitkan upaya garis keras untuk mendapatkan suara konservatif.

"Raisi memiliki peluang bagus untuk menang, namun tetap hasilnya tergantung keputusan pemimpin Khamenei," kata mantan pejabat senior, yang menolak disebutkan identitasnya.

Sejauh ini Khamenei hanya menyebutkan kepada publik jumlah pemilih yang tinggi, dengan mengatakan musuh-musuh Iran telah berusaha menggunakan pemilihan tersebut untuk "menyusup" struktur kekuasaannya, dan jumlah pemilih yang tinggi akan membuktikan legitimasi sistem tersebut.

Jumlah keikutsertaan pemilih yang tinggi juga dapat meningkatkan peluang Presiden Hassan Rouhani, yang berhasil berkuasa pada 2013 atas janjinya mengurangi isolasi internasional Iran dan memberikan lebih banyak kebebasan di dalam negeri. Ancaman terbesar terhadap pemilihan kembali dirinya adalah sikap apatis dari pemilih yang kecewa karena merasa tidak mendapatkan perbaikan yang mereka harapkan.

"Hasilnya tergantung pada apakah persoalan ekonomi akan menang atas persoalan kebebasan," kata seorang pejabat yang dekat dengan Rouhani. "Jumlah pemilih yang rendah bisa membahayakan Rouhani," tambahnya.

Iran akan menggelar pemilihan presiden yang pertama sejak kesepakatan nuklir 2015 pada Jumat, 19 Mei.

Jajak pendapat yang dilakukan oleh Perspektif Internasional untuk Opini Publik pada 10 Mei lalu menunjukkan Rouhani masih memimpin dengan sekitar 55 persen suara, walaupun survei semacam itu tidak memiliki catatan yang akurat untuk memprediksi hasil pemilihan di Iran. Jika tidak ada kandidat yang memenangkan lebih dari 50 persen suara, dua kandidat teratas akan bersaing dalam pemilihan putaran selanjutnya pada 26 Mei mendatang.


Sumber :ANTARA
Artikel Terkait
» Sekjen PBB Serukan Penyelesaian Politik bagi Krisis Yaman
» Mayoritas Rakyat Turki Setuju Konstitusi Diubah
» Ini Sikap AS Terkait Serangan Ke Suriah
» Malala Utusan Perdamaian PBB untuk Pendidikan Perempuan



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
GFI Ingatkan 5 Poin Pesan Panglima TNI

Wapres Buka Peringatan Hari Pers Sedunia 2017

Top! Pelajar Indonesia Gelar Festival Budaya di Manchester

Kehadiran Kapal Induk Cina Terbaru Menuai Spekulasi

Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik

Kongres Ulama Perempuan di Cirebon Dihadiri oleh 15 Negara

Sekjen PBB Serukan Penyelesaian Politik bagi Krisis Yaman

China Luncurkan Kapal Induk Buatan Dalam Negeri

Pilkada Rasa Devide et Impera

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »