» Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik » Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik » Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing » Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara » Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia


Internasional
19-05-2017
Inilah Penantang Terkuat Rouhani di Pemilu Iran

Penantang terkuat Rouhani adalah ulama Ebrahim Raisi (56 tahun) yang mengatakan Iran tidak memerlukan bantuan asing serta menjanjikan kebangkitan kembali nilai-nilai Revolusi Islam 1979. Dia didukung oleh Garda Revolusi elite Iran, pasukan keamanan utama negara tersebut, petempur sukarela Basij, ulama dan dua kelompok ulama berpengaruh.


Raisi seorang penantang utama yang merupakan sekutu dekat dan anak didik Khamenei. Ia merupakan satu dari empat hakim Islam yang memerintahkan eksekusi ribuan tahanan politik pada 1988. Media Iran telah memperbincangkan dirinya sebagai calon penerus masa depan Khamenei.

Raisi menyasar pemilih ekonomi lemah dengan berjanji untuk menciptakan jutaan lapangan kerja. "Meskipun tidak realistis, janji semacam itu pasti akan menarik jutaan pemilih miskin," kata Saeed Leylaz, seorang ekonom terkemuka Iran yang dipenjara karena mengkritik kebijakan ekonomi pendahulu Rouhani, Mahmoud Ahmadinejad.

Meskipun pemimpin tertinggi secara resmi berada di atas kericuhan politik sehari-hari, Khamenei dapat mempengaruhi pemilihan presiden dengan memberi dukungan kepada kandidat secara diam-diam, sebuah langkah yang dapat membangkitkan upaya garis keras untuk mendapatkan suara konservatif.

"Raisi memiliki peluang bagus untuk menang, namun tetap hasilnya tergantung keputusan pemimpin Khamenei," kata mantan pejabat senior, yang menolak disebutkan identitasnya.

Sejauh ini Khamenei hanya menyebutkan kepada publik jumlah pemilih yang tinggi, dengan mengatakan musuh-musuh Iran telah berusaha menggunakan pemilihan tersebut untuk "menyusup" struktur kekuasaannya, dan jumlah pemilih yang tinggi akan membuktikan legitimasi sistem tersebut.

Jumlah keikutsertaan pemilih yang tinggi juga dapat meningkatkan peluang Presiden Hassan Rouhani, yang berhasil berkuasa pada 2013 atas janjinya mengurangi isolasi internasional Iran dan memberikan lebih banyak kebebasan di dalam negeri. Ancaman terbesar terhadap pemilihan kembali dirinya adalah sikap apatis dari pemilih yang kecewa karena merasa tidak mendapatkan perbaikan yang mereka harapkan.

"Hasilnya tergantung pada apakah persoalan ekonomi akan menang atas persoalan kebebasan," kata seorang pejabat yang dekat dengan Rouhani. "Jumlah pemilih yang rendah bisa membahayakan Rouhani," tambahnya.

Iran akan menggelar pemilihan presiden yang pertama sejak kesepakatan nuklir 2015 pada Jumat, 19 Mei.

Jajak pendapat yang dilakukan oleh Perspektif Internasional untuk Opini Publik pada 10 Mei lalu menunjukkan Rouhani masih memimpin dengan sekitar 55 persen suara, walaupun survei semacam itu tidak memiliki catatan yang akurat untuk memprediksi hasil pemilihan di Iran. Jika tidak ada kandidat yang memenangkan lebih dari 50 persen suara, dua kandidat teratas akan bersaing dalam pemilihan putaran selanjutnya pada 26 Mei mendatang.


Sumber :ANTARA
Artikel Terkait
» Sekjen PBB Serukan Penyelesaian Politik bagi Krisis Yaman
» Mayoritas Rakyat Turki Setuju Konstitusi Diubah
» Ini Sikap AS Terkait Serangan Ke Suriah
» Malala Utusan Perdamaian PBB untuk Pendidikan Perempuan



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Indonesia Dan ASEAN Harus Pertimbangkan kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia Sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik
Belakangan ini, persaingn global AS versus Cina di Asia Pasifik semakin menajam. Indonesia, yang sejatinya merupakan pelopor strategi perimbangan kekuatan di antara dua kutub yang sedang ...

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Lihat lainya »
   Arsip
Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik

Erdogan Kunjungi Teluk untuk Redakan Sengketa Qatar

Wapres Jusuf Kalla Bahas Kerja Sama Maritim dengan Vietnam

PERPPU N0. 2/2017, PERPU CCTV

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumber

Iran Harap Perang Yaman Tidak Sulut Konfrontasi Iran-Saudi

RI -Jepang Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Kesehatan

Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »