» Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik » Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik » Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing » Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara » Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia


Kepentingan Nasional
01-06-2017
Devide Et Impera Gaya Baru
Penulis : M. Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)

Beredarnya klaim sepihak secara massal melalui framing media khususnya media sosial: “Saya Pancasila, Saya Indonesia,” hal tersebut bisa diartikan secara ekstrim: “Kalian bersama kami, atau kalian (akan) berhadapan dengan kami”. Itu makna tersiratnya. Kenapa? Sebagaimana dikatakan oleh Pepe Escobar, wartawan senior AsiaTimes, “Bahwa politik praktis itu bukan apa yang tersurat melainkan apa yang tersirat” (2007). Inilah yang tampaknya tengah berlangsung secara masif di republik tercinta ini, sedang mayoritas anak bangsa ini justru larut dalam skema dimaksud.


Ya. Bangsa ini sepertinya tengah digiring dan/atau tergiring pada situasi dan kondisi dimana 6 (enam) konsep dasar geopolitik (wawasan nusantara) hendak dibuat jatuh ke titik nadir, antara lain:
 
Pertama, semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai unsur pokok dalam rangka mengintegrasikan keanekaragaman komponen bangsa malah dilemahkan. Hendak dibuat porak-poranda. Adanya klaim sepihak dari sekelompok orang seperti framing di atas justru kian melonggarkan keberagaman tersebut. Maksudnya (mungkin) ingin menjadi solusi atau memecahkan permasalahan tetapi dampaknya malah menambah permasalahan karena banyak komponen bangsa lain merasa ‘disingkirkan’ serta seolah-olah berada di luar koridor kebhinekaan;
 
Kedua, persatuan dan kesatuan sebagai anasir dalam rangka mengakumulasi kekuatan nasional malah dipecah-belah. Tak hanya membelah antarelemen di masyarakat, bahkan telah mengadu-domba antarinstitusi negara;
 
Ketiga, bahwa kebangsaan sebagai konsep untuk hidup bersama justru dilumpuhkan;
 
Keempat, geopolitik baik sebagai doktrin maupun ilmu dalam rangka mewujudkan kedaulatan negara, dalam praktiknya malah didangkalkan;
 
Kelima, negara kebangsaan (nation state) sebagai konsep peletakkan negara sebagai sarana utama guna mewujudkan cita-cita, tujuan dan kepentingan nasional, justru dilencengkan bahkan hendak dibubarkan;
 
Keenam, negara kepulauan (archipelago state) sebagai konsepsi untuk mempertahankan keutuhan wilayah malah mau disewakan, bahkan diserahkan ke asing atas nama investasi, dan lain-lain.
 
Sepertinya, potret buram keenam dasar wawasan nusantara kita bukanlah fiksi, tetapi riil terjadi dan nyata. Ada anekdot yang menyatakan: “Tidak ada yang abadi di Bumi Pertiwi melainkan devide et impera,” agaknya bukan sekedar guyonan belaka. Bahwa virus adu domba tersebut bukan saja telah memasuki sistem negara, namun telah mendarah-daging. Bagaimana solusi?
 
Tak bisa tidak. Dibutuhkan kesadaran bersama atas wawasan nusantara yang meliputi keenam dasar geopolitik di atas dan mutlak harus ‘dimurnikan’ kembali. Jangan diobok-obok. Tidak boleh dikotori. Jangan ada satu-dua kelompok yang mengklaim dan/atau merasa paling bhineka, atau sebaliknya. Jika Minahasa ‘dicubit’ maka seluruh anak bangsa merasa sakit, lalu melawan, dan lain-lain. Apabila Aceh diganggu, semua komponen bangsa berteriak, bangkit bersama, dan seterusnya.
 
Hayo, murnikan kembali 6 (enam) dasar geopolitik kita guna mematikan virus devide et impera gaya baru!



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Indonesia Dan ASEAN Harus Pertimbangkan kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia Sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik
Belakangan ini, persaingn global AS versus Cina di Asia Pasifik semakin menajam. Indonesia, yang sejatinya merupakan pelopor strategi perimbangan kekuatan di antara dua kutub yang sedang ...

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Lihat lainya »
   Arsip
Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik

Erdogan Kunjungi Teluk untuk Redakan Sengketa Qatar

Wapres Jusuf Kalla Bahas Kerja Sama Maritim dengan Vietnam

PERPPU N0. 2/2017, PERPU CCTV

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumber

Iran Harap Perang Yaman Tidak Sulut Konfrontasi Iran-Saudi

RI -Jepang Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Kesehatan

Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »