» Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia? » Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah » Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh? » Turki Kembali Mempolitisasi Islam dan Isu Tatar Untuk Kepentingan Ukraina » Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah


Diplomasi
06-06-2017
Oleh: Zainuddin Zein
Lima Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik

Lima negara Arab memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar. Kelima negara tersebut adalah Saudi Arabia, Mesir, Uni Emirat Arab, Yaman dan Bahrain. Di susul kemudian oleh Maldives, Libya.


Alasan permukaan memanasnya hubungan diplomatik negara-negara tersebut dengan Qatar, tuduhan Qatar membiayai ISIS dan Al Qaidah. Sebuah alasan yang tidak masuk akal. Sebab negara-negara tersebut juga satu kubu dalam isu tersebut. Utamanya, sama-sama membiayai kelompok pemberontak yang berafiliasi dengan ISIS dan Al Qaidah maupun yang lain di Suriah.
 
Lantas apa sesungguhnya yang terjadi? Konflik Saudi Arabia dan Mesir, bukan kali ini saja. Dalam kasus Arab Spring di Mesir, Qatar bersebrangan dengan Saudi Arabia. Qatar mendukung Mursi yang berlatar belakang Ihwanul Muslimin (di Indonesia bernama PKS) . Sedangkan Saudi Arabia mendukung Jenderal As Sisi. Dan ini makin terlihat saat pertemuan negara-negara Arab dengan Donald Trump. Dimana Raja Salman berdampingan dengan As Sisi Presiden Mesir.
 
Maka alasan permukaan ini kemungkinan menargetkan organisasi Ihwanul Muslimin sebagai bagian dari isu besar ISIS Dan Al Qaidah. Apalagi sejak 2014, Arab Saudi menjadikan Ihwanul Muslimin (IM) sebagai salah satu organisasi terlarang dan memasukkan sebagai salah satu organisasi teroris.
 
Dan pemutusan hubungan diplomatik ini bagian cara menekan Qatar agar tidak melindungi dan mensupport Ihwanul Muslimin. Dimana bagi Arab Saudi IM dianggap sebagai ancaman keberlangsungan monarki. Bukti keberhasilan IM di Turki mengambil kekuasaan dan memelopori penggulingan Hosni Mubarrok di Mesir, membuat penguasa Arab Saudi khawatir dan terancam.
 
Yang menarik adalah menunggu sikap Turki, dimana IM berkuasa. Apakah akan membangun solidaritas dengan Qatar, ataukah berlagak menjadi penengah atas konflik diplomatik tersebut.
 
Catatan: Qatar adalah lokasi pangkalan terbesar Amerika Serikat di Timur Tengah. sebanyak 11.000 personel ditempatkan di negara ini.



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina
Dalam beberapa bulan belakangan ini, Presiden AS Donald Trump dengan sengaja membesar-besarkan ancaman senjata nuklir dan serangkaian uji coba rudal jarak menengah Korea Utara (Korut) meskipun ...

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Lihat lainya »
   Arsip
Nahdha Project Iringi Naiknya Morsi Menjadi Presiden Mesir

Presiden Lantik 9 Pengarah dan Kepala UKP PIP

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah

7 Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Qatar

Perdana Menteri Malaysia Resmikan Siaran TV Digital

KPK Tetapkan 6 Tersangka Kasus Suap DPRD Jatim

Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh?

Lima Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik

Presiden Ajak Seluruh Elemen Bangsa Jaga Pancasila

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »