» Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik » Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik » Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing » Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara » Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia


Tick News
06-06-2017
Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh?
Penulis : M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)
Dalam (geo) politik, berlaku adagium: "Setiap tujuan niscaya membawa korban". Itu sudah lazim dan jamak terjadi. Bahwa selevel Qatar saja dijadikan dan/atau menjadi “korban,” lalu, apa sesungguhnya persoalan internal mereka ---Persia-Gulf Cooperation Council/GCC atau Dewan Kerjasama Teluk--- sehingga harus mengorbankan salah satu (Qatar) sekutunya sendiri?

Bila mengikuti kajian strategis Deep Stoat, bahwa konflik di Timur Tengah tak akan jauh dari minyak dan gas bumi. Itulah komoditi paling sexy di dunia. "If you would understand world geopolitic today, follow the oil," kata Deep Stoat. Jika ingin memahami perkembangan geopolitik, ikuti aliran minyak (dan gas). Kenapa? Karena disitu simpul-simpul hegemoni para adidaya bertemu serta beradu kuat. Dengan kata lain, konflik lokal di regional GCC plus Mesir bukanlah faktor tunggal yang berdiri tersurat, niscaya ada sebab lain tersirat bahkan di bawah permukaan.
 
Ya. Meski banyak rumor dan/atau isu beredar akibat putusnya diplomatik antara Saudi Arabia, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA) dan Mesir terhadap Qatar sebagai “korban,” terdapat beberapa isu beredar bahwa Qatar membeli minyak dari Islamic State of Iraq and Syam (ISIS), atau Qatar membangun kerjasama secara intens dengan Iran terutama terkait ekpor-impor minyak, sedang Iran justru dianggap ‘musuh abadi’ oleh Saudi Arabia sejak era 1980-an, ataupun adanya isu tentang munculnya Imam Mahdi yang mana isu dimaksud “menakutkan” bagi sistem dan model pemerintahan Dinasti Saud dan lain-lain.
 
Untuk mempersingkat bahasan, tulisan ini hanya menyoal 2 (dua) faktor saja:
Pertama, bahwa Qatar membiayai kelompok teroris dalam hal ini adalah Ikhwanul Muslimin (IM), kiprah IM selain bersama Hamas getol melawan Israel, juga ia tergolong organisasi terlarang di Saudi Arabia dan Mesir;
 
Kedua, adanya fake news alias hoax, atau berita palsu yang berasal dari kantor berita Qatar (QNA) yang merilis ucapan Emir Qatar, Syech Tamim bin Hamad Al Thani dalam pemberitaan di televisi, Selasa (30/5). Adapun isi running text adalah: “Tidak ada kebijaksanaan dalam menyembunyikan permusuhan terhadap Iran," kendati berita itu telah dihapus oleh QNA.
 
Mari kita bahas dari belakang dulu, faktor yang kedua. Apa boleh buat. Bisa dikatakan lucu, janggal, dan konyol. Kenapa? Betapa kebijakan negara atas pemutusan diplomatik terhadap sebuah negara lain (bahkan sekutu di GCC sendiri) hanya berbasis berita palsu atau hoax.
 
QNA diretas! Kata Al Thani. Selanjutnya untuk membuktikan bahwa QNA diretas, Qatar meminta Amerika Serikat (AS) mengirim tim Federal Bureau of Investigation (FBI) ke Doha. Hal ini diungkap seorang sumber di FBI kepada AFP. "Dukungan Amerika telah diminta dan sebuah tim telah dikirim ke Doha sejak Jumat lalu, bekerja dengan kementerian dalam negeri Qatar”.
 
Retorikanya, “Seandainya kelak hasil penyelidikan FBI membuktikan bahwa QNA memang diretas dan berita yang menyinggung Saudi Arabia ternyata hoax semata, akankah Raja Salman bersama mitra kawasan membatalkan keputusan tersebut?” Retorika ini agak sulit dijawab.
 
Luka Sosial dan Kerusakan Politik
 
Bahwa usai rilis Saudi Press Agency (SPA), maka luka-luka sosial politik dan kerusakan aspek-aspek lain langsung merebak. Seperti sektor ekonomi contohnya, atau aspek budaya, pariwisita dan lainnya meluas di Qatar termasuk juga “luka-luka dan kerusakan” di Saudi Arabia sendiri bersama para negara mitra pemutus diplomatik. Betapa perbatasan ditutup, lalu lintas udara dan laut dengan Qatar dihentikan, Etihad Airways, maskapai penerbangan UEA, menunda penerbangan ke/dari Qatar mulai Selasa pagi (6/5), investor dan para perusahaan Saudi di Qatar didesak untuk melakukan hal sama. Bahkan tentara Qatar yang kini terlibat perang (keroyokan) di Yaman pun akan dipulangkan dengan dalih ‘perlindungan keamanan nasional’ karena Qatar mendukung kelompok sektarian dan teroris seperti al-Qaidah, ISIS, IM, dan lainnya yang sering mengganggu stabilitas kawasan.
 
Luar biasa. Ketiga negara Teluk tersebut memberi waktu kepada warga negara mereka sendiri yang berkunjung ke Qatar dan/atau warga Qatar yang tinggal di negara mereka agar meninggalkan negara dimaksud dalam kurun dua minggu ke depan.
 
Itulah gambaran luka sosial dan kerusakan di bidang politik, ekonomi, budaya, pariwisata, dan lain-lain akibat pemutusan diplomatik sepihak terhadap Qatar. Kenapa? Dalam hitungan jam, usai SPA merilis berita pemutusan, terlihat banyak antrian rakyat Qatar di toko-toko membeli bahan makanan untuk stok bila dampak ‘blokade’ dari Saudi Arabia Cs berakibat berkurangnya bahan makanan.
 
Qatar Sponsor Teroris
 
Tak bisa dipungkiri, memang hanya sedikit negara di Timur Tengah yang secara terang-terangan berani menentang Israel dan membantu perjuangan Palestina/Hamas yaitu Iran, Syria dan Qatar. Ada yang lain?
Bahwa Dinasti Saud dibawah kepemimpinan Raja Salman, sebenarnya baru memulai rekonstruksi hubungan dengan IM dan Hamas demi stabilitas kawasan. Karena perkembangan situasi, kemungkinan Salman tidak memiliki pilihan lain atas ‘desakan’ Donald Trump. Barangkali ia dilempar dua pilihan: “Putuskan hubungan dengan Qatar dan IM, atau silahkan hadapi sendiri ancaman dari Iran (tanpa bantuan AS)?"
 
Asumsinya, kedekatan Qatar dengan Negeri Para Mullah dinilai merupakan permainan kontra (intelijen) skema oleh Iran atas hegemoni AS di kawasan oleh karena selama ini kelompok GCC dalam orbit Paman Sam. Hingga hari ini, Kementerian Intelejen Iran masih dianggap salah satu yang terbaik di dunia.
 
Di satu sisi, AS berani melepas Qatar melalui tangan Saudi karena bercokol pangkalan Amerika terbesar di GCC yang justru berada di Qatar dengan jumlah tentara sekitar 11.000-an orang. Istilahnya, ia dilepas kepalanya namun dipegang ekornya. Sedang pada sisi lain, sepertinya Paman Sam tengah melakukan mapping terbaru pasca KTT Islam Arab-Amerika, betapa ia melihat kedekatan Qatar dan Rusia terkait sponsor konflik di Syria. Artinya, di bawah kepemimpinan Trump, ingin melihat peta baru, mana negara yang pro dengan dirinya, siapa separuh-separuh, siapa kontra, dan lain-lain.
 
Selanjutnya fakta serta analisa di atas, jika dibedah melalui perspektif asymmetric warfare yang berpola ITS (Isu-Tema-Skema) lalu dikaitkan dengan kajian strategis Deep Soat, if you would understand world geopolitic today follow the oil, maka yang kini terjadi di Kawasan Teluk/ GCC yang berupa pemutusan diplomatik oleh Saudi Arabia terhadap Qatar, masih dikategorikan isu permulaan belaka. Artinya, akan ada langkah berikutnya. Lalu pertanyaannya, apa agenda atau tema lanjutan usai isu ditebar? Tak lain ialah mengubah situasi dan kondisi politik di Kawasan Teluk agar memanas, gonjang-ganjing, dan sebagainya. Itu agendanya. Mengapa demikian?
 
Secara faktual, ini sungguh berbahaya, karena hampir separuh minyak dunia berasal dari kawasan ini. Sebagai ilustrasi misalnya, sewaktu dulu meruncingnya hubungan politik antara Iran dan AS, lalu tatkala Iran mengancam AS hendak menutup Selat Hormuz karena alasan kepentingan nasionalnya terganggu, maka harga minyak pun seketika melambung tinggi, industri-indistri senjata laris manis, pun demikian juga harga barang dan jasa sebagai efek domino naiknya harga minyak. Meskipun belakangan diketahui bahwa kejadian tersebut ternyata cuma perang kata-kata belaka, tetapi inilah dampak langsung terkait situasi di GCC apabila kondisi politik meningkat tegang.
 
Sebagaimana dimaklumi bersama, anjloknya harga minyak akibat dampak kebijakan No Oil Saudi serta America First-nya Trump telah membuat Saudi Arabia harus berbenah diri. Kenapa? Tampaknya harga minyak tak bakal kembali ke USD 100/per barel, paling naik turun antara USD 50/per barel. Maka konsekuensi logis yang mutlak dilakukan ialah mereka harus mengurangi para pekerja asing di perusahaan-perusahaan yang dikelola oleh negara. Jika selama ini, mereka manja karena mampu menggaji serta mempekerjakan para ahli dari luar negeri, maka hari ini harus bekerja keras.
 
Bahkan sekelas Aramco ---“Pertamina”-nya Saudi--- yang memiliki ribuan tenaga asing pun secara bertahap akan dikurangi. Bukannya bangkrut, tetapi manajemen melihat cash flow berkurang jauh akibat pemasukan dari minyak terpangkas separuh lebih.
 
Mengakiri tulisan ini, serta merujuk judul tulisan: “Kemana isu Qatar hendak dilabuhkan?” Wait and see. Dengan kata lain, bila prediksi yang berbasis pola peperangan asimetris di atas yaitu agenda ‘gonjang-ganjing kawasan’ berjalan sesuai skenario lalu diikuti naiknya harga minyak. Maka itulah skema yang dikehendaki oleh sang tuan. Akan tetapi, jika skenario tersebut meleset, artinya harga minyak tidak terpengaruh atas situasi yang memanas akibat kebijakan blokade di Kawasan GCC maka kerugian justru menimpa Saudi Arabia sendiri dan kawasan sekitarnya karena telah ada luka-luka sosial serta kerusakan politik, ekonomi, budaya, dan lain-lain sebagai dampak pemutusan diplomatik secara sepihak terhadap Qatar.
 
Demikian kira-kira adanya.
 
 
 
Bahan Bacaan:
- No room for dialogue with Iran: Deputy Crown Prince Mohammed bin Salman http://www.arabnews.com/node/1093611/saudi-arabia 


Artikel Terkait
» Turki Kembali Mempolitisasi Islam dan Isu Tatar Untuk Kepentingan Ukraina
» Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
» Memberi Makna Baru tentang Motif Politik Di Balik Pembunuhan Presiden Panama Omar Torrijos
» Membaca Langkah Trump dari Perspektif The Power of Oil
» Membaca IORA dari Sisi Lain Geopolitik
» Indonesia dan Geopolitik Samudra Hindia
» Strategi Geopolitik Arab Saudi Gandeng Jepang-Indonesia-Cina Amankan Jalur Sutra



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Indonesia Dan ASEAN Harus Pertimbangkan kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia Sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik
Belakangan ini, persaingn global AS versus Cina di Asia Pasifik semakin menajam. Indonesia, yang sejatinya merupakan pelopor strategi perimbangan kekuatan di antara dua kutub yang sedang ...

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Lihat lainya »
   Arsip
Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik

Erdogan Kunjungi Teluk untuk Redakan Sengketa Qatar

Wapres Jusuf Kalla Bahas Kerja Sama Maritim dengan Vietnam

PERPPU N0. 2/2017, PERPU CCTV

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumber

Iran Harap Perang Yaman Tidak Sulut Konfrontasi Iran-Saudi

RI -Jepang Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Kesehatan

Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »