» Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia? » Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah » Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh? » Turki Kembali Mempolitisasi Islam dan Isu Tatar Untuk Kepentingan Ukraina » Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah


Analisis
07-06-2017
Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah
Penulis : Hendrajit, Pengkaji Geopolitik dan Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI)
Kalau melihat gerakan berjamaah Arab Saudi-Kuwait-Bahrain-Uni Emirat Arab-Mesir, memutuskan hubungan diplomatik kepada Qatar, ini khas permainan Inggris. Meskipun diperwalikan permainannya kepada Amerika Serikat.

Betapa tidak aneh. Negara-negara boneka AS seperti Arab Saudi Cs yang tergabung dalam Dewan Kerjasama Teluk, tiba tiba mengorbankan salah satu anggota Dewan Kerjasama Teluk yaitu Qatar.
 
Namun, 10 ribu serdadu AS berikut CENTCOM yang merupakan pusat operasi Angkatan Udara AS di Timur Tengah, tetap bercokol di Qatar.
 
Berarti, tujuan sebenarnya dari Inggris dan AS adalah menciptakan aksi destabilisasi di kawasan Timur Tengah. Dengan semakin mempertajam pengkubuan antar negara-negara Islam. Arab Saudi-Kuwait-Bahrain-Uni Emirat Arab-Mesir versus Iran-Qatar-Suriah. Berarti terkandung di dalamnya politik adu domba alias Devide et Impera antar negara-negara Muslim di Timur Tengah.
 
Yang menarik itu, mencermati peran dan kiprah Turki sebagai irisan dari dua kutub yang bertarung ini.
 
Dalam membangun cipta kondisi, Inggris lah jagoannya. Selain itu, ada satu lagi yang aneh. Gerakan isolasi dan embargo terhadap Qatar, dilancarkan hanya beberapa minggu sejak berlangsungnya KTT Islam Arab Amerika.
 
Hal ini memperkuat dugaan saya semula, bahwa KTT tersebut agenda sesungguhnya adalah membahas tata ulang ekonomi-politik-pertahanan di Timur Tengah.
 
Agaknya, gerakan embargo dan isolasi kepada Qatar, baru episode awal. Tahap pemetaan dan pematangan situasi,Terkesan di atas permukaan, polarisasi antar dua kubu itu adalah antara negara-negara Arab pro AS dan blok Barat versus pro Iran-Suriah-Rusia-Cina.
 
Padahal, kalau kita cermati dengan seksama, Qatar sejatinya juga bagian dari negara boneka AS yang sebelumnya juga tergabung dalam negara-negara Dewan Kerjasama Teluk atau Gulf Cooperation Council/GCC.
 
Isu yang digulirkan seiring dengan gerakan berjamaah mengisolasi dan mengembargo Qatar, adalah soal dukungan negeri kaya minyak tersebut terhadap ihwanul Muslimin maupun dukungan Qatar bersama-sama dengan Iran mendukung Presiden Mesir Bashar al Assad menghadapi pemberontakan para Jihadis binaan AS.
 
Namun alasan atau dalih semacam itu hanya di tataran siasat dan taktiis untuk menebar isu. Agenda sesungguhnya adalah mencipakan aksi destabilisasi di kawasan Timur Tengah. Sebuah prakondisi yang dibutuhkan untuk melakukan tata ulang di kawasan tersebut. Membenturkan dua kubu di kalangan negara-negara di Tmur Tengah, namun saat yang yang sama, AS beserta Ingggris dan blok Barat, tetap mengendalikan geopoliitik Timur Tengah.


Artikel Terkait
» Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh?
» Turki Kembali Mempolitisasi Islam dan Isu Tatar Untuk Kepentingan Ukraina
» Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah
» Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina
» Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina
Dalam beberapa bulan belakangan ini, Presiden AS Donald Trump dengan sengaja membesar-besarkan ancaman senjata nuklir dan serangkaian uji coba rudal jarak menengah Korea Utara (Korut) meskipun ...

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Lihat lainya »
   Arsip
Nahdha Project Iringi Naiknya Morsi Menjadi Presiden Mesir

Presiden Lantik 9 Pengarah dan Kepala UKP PIP

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah

7 Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Qatar

Perdana Menteri Malaysia Resmikan Siaran TV Digital

KPK Tetapkan 6 Tersangka Kasus Suap DPRD Jatim

Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh?

Lima Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik

Presiden Ajak Seluruh Elemen Bangsa Jaga Pancasila

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »