» Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia? » Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah » Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh? » Turki Kembali Mempolitisasi Islam dan Isu Tatar Untuk Kepentingan Ukraina » Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah


Hankam
09-06-2017
Nahdha Project Iringi Naiknya Morsi Menjadi Presiden Mesir
Penulis : Nugroho Prasetyo, Pegiat Sosial Budaya

Dengan digulirkannya sebuah program teknokratis-populis yang dirancang untuk pemulihan ekonomi Mesir. Setelah dilanda krisis beberapa tahun sebelumnya, walau tidak mirip, Nahdha Project mengingatkan kita pada Revolusi Mental ala Jokowi. Namun, sebagaimana dikritik oleh Khaled Fahmy di Ahram, ada satu agenda yang dilupakan oleh Mursi, yaitu reformasi kepolisian.


Selama bertahun-tahun di bawah Hosni Mubarak, polisi menjadi entitas —meminjam istilah Foucault— panoptik : memata-matai dan mengontrol semua aktivitas warga negara dengan kuasa yang mereka miliki. Mesir punya istilah khusus untuk ini : mabahits amn daulah (sebangsa intelijen). Polisi menjadi alat negara untuk merepresi musuh-musuh politiknya.

Tak salah jika beberapa sastrawan Mesir menggambarkan bagaimana menakutkannya lembaga ini dalam beberapa novelnya : penangkapan, mata-mata, hingga fitnah bisa berlangsung kapan saja dan kepada siapa saja. Corak kepolisian yang sangat represif inilah yang kemudian, di masa Morsi, menjadi poin kunci untuk menjelaskan mengapa masa pemerintahannya tidak kondusif.

Jokowi mungkin bukan Morsi. Di awal, di sekeliling presiden ada orang-orang semacam Andi Widjojanto atau Rizal Sukma yang pernah terlibat dengan proyek bernama Reformasi Sektor Keamanan.

Pertanyaannya sekarang, reformasi sektor keamanan macam apa yang ingin ditampilkan di era Jokowi jika kepolisian —institusi yang sangat terkait dengan keamanan sipil— tak mampu mengendalikan dirinya dan tak lebih dari alat kekuasaan untuk merepresi musuh-musuh politik ? Tayangan ILC bertema "Membidik Habib Rizieq" di TV One tadi malam (6/6/2017) menjawabnya secara tuntas.

Atau, jangan-jangan fenomena itu penanda awal keruntuhan kekuasaan Jokowi, sebagaimana halnya awal kejatuhan Morsi di Mesir.



Artikel Terkait
» Membangun Karakter Bangsa Guna Memperkuat Ketahanan Nasional
» Panglima TNI: Bangsa Indonesia Tidak Akan Membiarkan ISIS Berkembang
» Menanti Gebrakan BG di BIN
» Nasionalisme Buta Mahasiswa Papua



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina
Dalam beberapa bulan belakangan ini, Presiden AS Donald Trump dengan sengaja membesar-besarkan ancaman senjata nuklir dan serangkaian uji coba rudal jarak menengah Korea Utara (Korut) meskipun ...

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Lihat lainya »
   Arsip
Nahdha Project Iringi Naiknya Morsi Menjadi Presiden Mesir

Presiden Lantik 9 Pengarah dan Kepala UKP PIP

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah

7 Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Qatar

Perdana Menteri Malaysia Resmikan Siaran TV Digital

KPK Tetapkan 6 Tersangka Kasus Suap DPRD Jatim

Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh?

Lima Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik

Presiden Ajak Seluruh Elemen Bangsa Jaga Pancasila

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »