» Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia? » Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah » Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh? » Turki Kembali Mempolitisasi Islam dan Isu Tatar Untuk Kepentingan Ukraina » Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah


Hankam
09-06-2017
Federasi Nusantara dan Segala Hal yang Perlu Diperjuangkan
Penulis : Dadang Merdesa, Pemerhati Masalah-masalah Sosial Politik

Ketahuilah...
PDIP lumayan besar di Jawa Barat, sebab sejak PKI dibubarkan, mayoritas eksodus ke PDI, terlebih setelah jadi PDIP...


Adapun Keluarga DI-TII dan sebagian Ummat PNI: Partai Nasionalis Indonesia, hijrah ke GOLKAR...

Kini,
Paska Revolusi 212, dan Pilgub DKI Jakarta, Ummat Marhaen dan Kaum Muslimin, banyak yang beralih ke GERINDRA...

Itulah resiko pemilihan langsung dari Pilpres dan PILKADA. Selera Rakyat terhadap Partai dan Figur Pemimpin sangat dinamis dan berlebihan. Sementara Elit Partai dan Elit Penguasa, sangat minus keADABan, bagaikan serigala berebut buruannya...

Maka solusi dari kondisi sedemikian itu, sudah sepuluh tahun lebih saya wacanakan kePEMIMPINan dengan Lelaku Dijalan KeBUDAYAan sekaligus keNABIan. Sesuai dengan ayat di Quran:"...Kuciptakan manusia ber-SUKU-BANGSA agar saling mengenal..." Suku-Bangsa adalah entitas keBUDAYAan. Itulah mengapa ada semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Yang sejatinya konsep keTATA-NEGARAan Bangsa-Bangsa di NUSANTARA adalah FEDERASI, Federasi Nusantara. Seperti yang dianut Masyarakat Aseli Benua Amerika...

Di Quran juga, tertera ayat yang menyatakan, "Di setiap Negeri, diturunkan para Nabi dan kenabian, yang berasal dari negeri tersebut..."

Itulah kenapa saya setuju dengan istilah "DEMOKRASI-TERPIMPIN" yang berkoneksi dengan PANCASILA pada sila 4, "Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmah, Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan"
Yang kini, setelah UUD 45 asli diamandemen jadi UUD 2002 dan satu-satunya institusi yang masih menganut Demokrasi-Terpimpin, adalah TNI. Yang masih menganut sistem hirarki dalam jenjang Pengambilan keputusan kebijakan. Yang tentu saja masih logika DEMOKRASI, tak ada hubungannya dengan MILITERisme. Justru sekarang ini ada banyak tokoh SIPIL ketum partai tapi kelakuan FASIS dan MILITERISTIK dan beraroma MILITERISME dan berpenyakit SIPILIS...

Dari uraian di atas, justru Konsep Negara IMPERIUM, sangat bertentangan dengan Lelaku keNABIan. Itulah yang menjelaskan kenapa Nabi Muhammad SAW mengirim surat pada Kaisar Romawi, untuk mengajak kembali ke ISLAM = nilai-nilai kenabian= berserah diri pada Sunnahtulloh, hukum semesta alam = pasrah = selamat...

Dari situlah konsep Khilafah Hizbut Tahrir adalah konsep IMPERIUM, seperti halnya dengan konsep Khilafah Wahabi juga Khilafah Katolik...

Maka dengan sendirinya, kalau saja Khilafah HTI dibubarkan, maka khilafah-Wahabi, khilafah-Syiah dan khilafah-Katolik juga musti dibubarkan, sebab sama-sama berkonsep Imperium, tentunyaaahh...

Adapun "Saya Pancasila" sangatlah bertendensi untuk menghilangkan sisi "keMANUSIAan". Sebab ada usaha untuk penyeragaman Manusia Nusantara, yang berdampak pada hilangnya JATI-DIRI keNUSANTARAan dan Peradaban Bangsa-Bangsa NUSANTARA. Sehingga, Manusia Indonesia jadi minus KREATIFITAS, jadi gerombolan yang gampang dikendalikan oleh Imperium Kapitalisme-Global dan Imperium #KapitalismeGlobalCHINA, dengan kata lain Jalur Perdagangan OBOR One Belt, One Road, tentunyaaahh...

 



Artikel Terkait
» Nahdha Project Iringi Naiknya Morsi Menjadi Presiden Mesir
» Membangun Karakter Bangsa Guna Memperkuat Ketahanan Nasional
» Panglima TNI: Bangsa Indonesia Tidak Akan Membiarkan ISIS Berkembang



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina
Dalam beberapa bulan belakangan ini, Presiden AS Donald Trump dengan sengaja membesar-besarkan ancaman senjata nuklir dan serangkaian uji coba rudal jarak menengah Korea Utara (Korut) meskipun ...

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Lihat lainya »
   Arsip
Nahdha Project Iringi Naiknya Morsi Menjadi Presiden Mesir

Presiden Lantik 9 Pengarah dan Kepala UKP PIP

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah

7 Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Qatar

Perdana Menteri Malaysia Resmikan Siaran TV Digital

KPK Tetapkan 6 Tersangka Kasus Suap DPRD Jatim

Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh?

Lima Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik

Presiden Ajak Seluruh Elemen Bangsa Jaga Pancasila

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »