» “Kegenitan Geopolitik” » Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik » Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik » Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing » Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara


Timur Tengah
27-06-2017
Iran Desak Eropa Bantu Promosikan Dialog di Teluk Persia

Menteri luar negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, Senin, meminta Eropa menggunakan pengaruhnya untuk mempromosikan dialog di Teluk Persia setelah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir dan Bahrain memutuskan hubungan dengan Qatar awal bulan ini.


Menyalahkan Iran atau Qatar karena "terorisme" adalah usaha yang dilakukan oleh negara-negara itu untuk menghindari tanggung-jawab atas kegagalan mereka dalam menangani tuntutan rakyat mereka sendiri, katanya dalam sebuah pidato di ibu kota Jerman di mana ia mengusulkan mekanisme baru keamanan regional untuk negara-negara Teluk.

"Suatu hari Iran, kemudian Qatar," katanya. "Itu adalah upaya untuk menghindari tanggung jawab, lepas dari pertanggungjawaban atas hal yang sangat mendasar ... kegagalan sistem negara untuk mengatasi, untuk menanggapi tuntutan penduduknya. "

Presiden Iran Hassan Rouhani telah menyuarakan dukungan untuk Qatar dalam konfrontasinya dengan pesaingnya, Arab Saudi, dan negara sekutunya yang menuduh Qatar mendukung militan Islam, sebuah tuduhan yang dibantah Qatar.

Pekan lalu empat negara Arab, yaitu Saudi Arabia, Uni Emirat Arab (UEA), Mesir dan Bahrain, telah mengirimkan 13 tuntutan kepada Qatar, termasuk penutupan televisi Al Jazeera dan mengurangi kedekatan hubungan dengan Iran, sebagai syarat untuk mengakhiri krisis di kawasan tersebut.

Tuntutan tersebut disampaikan sebagai upaya untuk mengakhiri krisis di Teluk Arab setelah empat negara tersebut memutuskan hubungan dengan Qatar dengan tuduhan mendukung kelompok teroris.

Qatar, negara yang mempunyai kebijakan politik lebih terbuka, termasuk menjalin hubungan dekat dengan Iran, serta mendukung gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir, telah menimbulkan kekhawatiran bagi negara Arab lainnya, terutama Saudi Arabia yang masih konservatif.

Tuntutan lainnya adalah menutup pangkalan militer Turki di Qatar.

Qatar juga dituntut agar mengumumkan secara resmi hubungan mereka dengan gerakan teroris, serta kelompok militan lainnya, termasuk Ikhwanul Muslimin, ISIS, al Qaeda, Hezbullah dan Jabhat Fateh al Sham.

Namun sejauh ini Qatar selalu membantah tuduhan keempat negara yang sejak 5 Juni lalu memutuskan hubungan diplomatik serta hubungan ekonomi dengan Qatar.

Keempat negara tersebut memberikan waktu sepuluh hari kepada Doha untuk memberikan jawaban, tapi tidak ada penjelasan lebih lanjut jika 13 tuntutan tersebut tidak dipenuhi oleh Qatar.

Sementara itu Qatar mengaku sedang meninjau daftar tuntutan yang diajukan oleh empat negara Arab yang memberlakukan boikot terhadap negara Teluk kaya itu, namun mengatakan bahwa daftar tersebut tidak masuk akal atau tidak dapat ditindaklanjuti.

Pernyataan tersebut mengatakan bahwa Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson, baru-baru ini telah meminta Arab Saudi dan negara lainnya untuk membuat daftar keluhan yang masuk akal dan dapat ditindaklanjuti.

"Daftar ini tidak memenuhi kriteria tersebut," katanya dilansir Reuters.



Artikel Terkait
» UEA: Embargo Udara hanya Berlaku untuk Perusahaan Qatar
» Pejabat Senior Palestina Protes Karena Dilarang Masuk ke Mesir
» Palestina Minta Dukungan Indonesia di Konferensi Paris
» Pasukan Irak Dekati Benteng ISIS di Mosul
» Israel Diminta Hentikan Pembangunan Permukiman di Wilayah Palestina
» Kesulitan Terbesar AS di Suriah



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Indonesia Dan ASEAN Harus Pertimbangkan kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia Sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik
Belakangan ini, persaingn global AS versus Cina di Asia Pasifik semakin menajam. Indonesia, yang sejatinya merupakan pelopor strategi perimbangan kekuatan di antara dua kutub yang sedang ...

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Lihat lainya »
   Arsip
Trump Dikte Anaknya Berbohong, Gedung Putih Cari Pembenaran

Pabrik Farmasi asal Jerman Siap Beroperasi

HMI Cabang Padang: Keluarkan Israel dari Keanggotaan PBB

Indonesia Dan ASEAN Harus Pertimbangkan kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia Sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik

Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik

Erdogan Kunjungi Teluk untuk Redakan Sengketa Qatar

Wapres Jusuf Kalla Bahas Kerja Sama Maritim dengan Vietnam

PERPPU N0. 2/2017, PERPU CCTV

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »