» Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing » Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara » Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia » AS Gunakan Afghanistan Sebagai Ajang Uji Coba Peralatan Militer dan Metode Perang » Implementasi Pemahaman Wawasan Nusantara Dalam Wujudkan Negara Maritim Indonesia


Ekonomi dan Bisnis
06-07-2017
Dibalik Sukses Pengendalian Harga-harga Pangan pada Idul Fitri 2017
Penulis : Sigid Kusumowidagdo, Human Captal Advisor di Bank Pundi Indonesia Tbk

Kita menghargai upaya pemerintah yang cukup berhasil untuk mengendalikan harga-harga kebutuhan pokok dan kelangkaan pangan di hari raya Idul Fitri 2017. Walaupun tetap ada kenaikan harga tetapi masih dalam batas mormal dalam waktu yang terbatas.

4 Juli pukul 21:49 · 
DIBALIK SUKSES PENGEMDALIAN HARGA2 PANGAN PADA LEBARAN 2017
Kita menhargai upaya pemerintah yang cukup berhasil untuk mengendalikan harga2 kebutuhan pokok dan kelangkaan pangan di hari raya lebaran 2017. Walaupun tetap ada kenaikan harga tetapi masih dalam batas mormal dalam waktu yang terbatas.

Tetapi perlu kita ketahui bahwa upaya pemerintah mengandung berbagai hal yang dapat bisa lebih diperbaiki dari biaya segi dan ekonomi dampaknya pada pengembangan ekonomi kita terutama di bidang pertanian. Pemerintah telah menggunakan instrumen kebijakan impor yang tidak kondusif terhadap produktivitas para petani kita di pedesaan. Pemerintah telah melakukan impor yang masih menggunakan devisa yang tidak mudah diperoleh yang lebih menguntungkan importir dan petani luar negeri.
 
Di pihak petani lokal membanjirnya bahan pangan impor akan menekan harga produk petani lokal dan berlawanan dengan program pemerintah yang dicanangkan pemerintah Jokowi -JK untuk swasembada pangan (self sufficiency) dan keamanan pangan (food security).
 
Selama bulan Maret, April, Mei 2017 terjadi impor bahan pangan masif untuk mengantisipasi kebutuhan hari raya. Data dibawah menunjukan data beberapa contoh bahan pangan yang diimpor dengan devisa yang besar:

1. Impor Daging sapi (umumnya eks Australia)

    April 2017 : 17,97 juta ton = US $ 59,15 juta

    Maret 2017 : 13,97 juta ton = US $ 45,108 juta

2.Impor Kedelai 

   April 2017 : 207,8, ribu ton = US $ 92,6 Juta

   Maret 2017 : 242,2 ribu ton = US $ 108,8 juta 

3. Impor Biji Gandum/ Maslin 

    April 2017 : 934,3 ribu ton=US $167,2 juta

    Maret 2017 : 741.3 ribu ton= US $ 214 juta.

4.Impor Gula Pasir

   April 2017 : 6.808 ribu ton = US $ 3,8 Jiuta dolar

   Maret 2017 : 2,085 ribu ton = US $ 1,2 juta 

5.Impor Garam

   April 2017 : 319,9 ribu ton = US $ 10,4 juta

   Maret 2017 : 210,1 ribu tom = US $ 7,6 juta

6.Impor Mentega

   April 2017 : 2,745 ton = US $ 10,9 juta 

   Maret 2017 : 1,876 ton = US $ 10,0 juta.

7.Impor Minyak Goreng

   April 2017 : 2,745 ton = US $10,9 juta

   Maret 2017 : 2,731 ton = US $ 3,4 juta

8. Impor Cabai

    April 2017 : 98,8 ton = US $ 155 ribu

    Maret 2017 : 73,5 ton = US 96 ribu

9. Impor Singkong (cassava)

    April 2017 : 4,998 ton = US $ 94,6 ribu

    Maret tidak ada impor

10. Impor Bawang Putih China 

     April 2017 : 36,17 juta ton = US $ 11,93 juta.

     Maret 2017 : 22,85 juta ton =US $ 11,24 juta

Disamping itu ada impor beras bulan Januari - Februari 2017 sekitar US $11.94 juta.
 
Hampir semua yang kita impor mampu diproduksi Indonesia tetapi tanpa program yang benar-benar pro petani Indonesia maka kebutuhan pokok pangan ini tidak akan dipenuhi di dalam negeri dan pemerintah akan sering mengambil jalan pintas untuk mengimpor yang menguntungkan importir dan petani di negara-negara lain.
 
Sumber data utama : Data Kementerian Perdagangan


Artikel Terkait
» Ilustrasi Listrik
» Holding BUMN dan Bancakan Kekuasaan
» Impor Pangan Meningkat, Program Swasembada Pangan Tersendat
» RAPBNI 2017: Defisit akan Naik menjadi Rp 332,9 Triliun, Ditutup dengan Surat Utang Negara Rp 399 Triliun
» G-20, MIKTA, dan Indonesia
» Jokowi dan PM Australia Bahas Tambahan Kuota Impor Sapi



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak
Kalau benar manuver diplomatik AS melalui DK-PBB tersebut dimaksudkan untuk mengajak seluruh dunia mengisolasi dan mengembargo Korea Utara, lantas bagaimana sikap Indonesia? ...

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Lihat lainya »
   Arsip
Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara

Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia

AS Gunakan Afghanistan Sebagai Ajang Uji Coba Peralatan Militer dan Metode Perang

Implementasi Pemahaman Wawasan Nusantara Dalam Wujudkan Negara Maritim Indonesia

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Turki Dukung RI Jadi Anggota DK PBB

Dibalik Sukses Pengendalian Harga-harga Pangan pada Idul Fitri 2017

Freeport: Memperpanjang Pelecehan dan "Freedom of Looting"

Arab Saudi dan Sekutu Beri Tambahan Waktu Dua Hari kepada Qatar

TNI Belum Berencana Kirim Pasukan ke Marawi

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »