» Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik » Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik » Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing » Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara » Uranium, Freeport McMoran dan Indonesia


Tick News
25-07-2017
Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik
Penulis : Hendrajit, Pengkaji Geopolitik dan Direktur Eksekutif Global Future Institute
Belakangan ini, persaingan global AS versus Cina di Asia Pasifik semakin menajam. Indonesia, yang sejatinya merupakan pelopor strategi perimbangan kekuatan di antara dua kutub yang sedang bersaing sejak berlangsungnya Perang Dingin pada 1950-1990, nampaknya sudah saatnya menggagas sebuah kerjasama alternatif di bidang ekonomi di kawasan ini. 

Maka itu, gagasan membangun kerjasama strategis ASEAN-Eurasian Economic Union (UEE) nampaknya perlu dipertimbangkan sebagai alternatif agar Indonesia keluar dari jebakan perebutan pengaruh kedua negara adikuasa tersebut. Bukan itu saja. Bahkan melalui skema baru kerjasama ekonomi tersebut, Indonesia bisa ikut serta membangun sebuah kutub kekuatan baru di Asia Pasifik. 
 
Melalui skema baru kerjasama ekonomi dengan UEE, Indonesia dan ASEAN akan mendapatkan keuntungan strategis dalam dua hal. Pertama, kemunculan Rusia sebagai pemain baru dalam percaturan ekonomi dan perdagangan di Asia Tenggara. Kedua, melalui skema UEE Indonesia dan ASEAN akan memperluas lingkup kerjasama ekonomi dan perdagangannya tidak saja dengan Rusia, melainkan dengan beberapa negara yang berada di kawasan Asia Tengah lainnya. 
 
Seperti kita ketahui bersama, UEE sebagai organisasi kerjasama ekonomi internasional yang telah diluncurkan pada 2015 lalu, beranggotakan Rusia, Armenia, Belarus, Kazakhstan, dan Kirgizstan. Tidak mengherankan jika pada perkembangannya kemudian beberapa negara ASEAN seperti Kamboja, Thailand, Singapura menaruh minat untuk menjalin kerjasama dengan UEE. 
 
Sebagai misal, pada 1 Juni 2016 lalu, telah tercapai kesepakatan antara UEE dan Vietnam, sehingga Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev mengatakan bahwa kesepakatan zona perdagangan bebas pertama antara UEE dan negara dunia ketiga (dalam hal ini Vietnam), akan membuka jalan bagi UEE untuk mencapai kesepakatan serupa dengan negara-negara lain. Barang tentu, keikutsertaan Indonesia dalam skema UEE sangatlah diharapkan banyak kalangan baik di dalam maupun luar negeri. 
 
Terutama yang mendambakan terciptanya suatu tata ekonomi dunia baru yang lebih adil dan seimbang, di tengah semakin menguatnya tekanan dan desakan AS maupun blok Eropa Barat untuk menciptakan suatu KUTUB TUNGGAL/UNOPOLAR bidang ekonomi dan perdagangan di Asia Pasifik, dan Asia Tenggara pada khususnya.
 
Indonesia sebagai negara terbesar di Asia Tenggara maupun sebagai perintis terbentuknya ASEAN pada 1967 lalu, sudah selayaknya mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh gagasan membangun kerjasama strategis dengan UEE. 
 
Sehingga gagasan pembentukan kerjasama strategis ASEAN-UEE bisa dipertimbangkan sebagai alternatif di luar skema Trans Pacific Partnership yang didukung AS, Inggris dan Jepang. Maupun skema Perjanjian Perdagangan Bebas yang dirancang oleh RRC melalui Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). 
 
Sebagaimana sudah kita ketahui bersama, keberadaan TPP maupun RCEP sejatinya merupakan pencerminan dari semakin meruncingnya persaingan dan perebutan pengaruh antara AS versus RRC di kawasan Asia Tenggara, dan Asia Pasifik pada umumnya. 
 
Jika pada kenyataannya baik TPP maupun RCEP sama-sama merupakan alat Proxy War antara AS versus Cina di ranah ekonomi dan perdagangan di Asia Tenggara maka kiranya mempertimbangkan kerjasama ASEAN-UEE menjadi sebuah gagasan alternatif yang cukup brilyan. 
 
Gagasan semacam ini semakin menarik ketika Presiden Rusia Vladimir Putin itu beberapa wakitu lalu telah mengisyaratkan bahwa perlu dibangun kemitraan yang lebih luas antara UEE, ASEAN maupun dalam kerangka kerjasama Shanghai Cooperation Organization (SCO) yang pada hakekatnya merupakan kerjasama ekonomi dan perdagangan antara Rusia dan Cina. 
 
Berarti gagasan membangun hubungan kemitraan antara ASEAN-Rusia nampaknya jauh lebih strategis dibandingkan ASEAN-Cina mengingat melalui Rusia, Cina pun bisa diikutsertakan dalam kerangka kerjasama yang sudah terbangun bersama Rusia melalui SCO sejak 2001 lalu. 
 
Namun dengan skema ASEAN-UEE, Indonesia jusru bisa membangun kerjasama strategis Indonesia-Rusia-Cina dalam kerangka hubungan yang lebih setara namun saling menguntungkan dan saling menguatkan. 
 
Dengan makna lain, dalam konteks kerjasama multilateral dengan melibatkan Rusia dan Cina, Indonesia dan negara-negara ASEAN lalinnya akan mempunyai posisi tawar yang jauh lebih menguntungkan terhadap blok AS dan Uni Eropa. 
 
Karena baik Rusia maupun Cina, pada dasarnya punya agenda strategis yang jauh lebih selaras dan sehaluan dengan Indonesia dan ASEAN. Yaitu ingin menciptakan suatu tatanan ekonomi internasional yang jauh lebih adil, sekaligus membendung upaya AS dan beberapa negara Uni Eropa untuk menciptakan Kutub Tunggal/Unipolar di bidang ekonomi dan perdagangan seperti terlihat melalui dukungannya dalam pembentukan Perjanjian TPP. 
 
Jika Indonesia dan ASEAN pada akhirnya berhasil menjalin kerjasama strategis ekonomi dan perdagangan dengan UEE, maka selain kerjasama strategis ASEAN bersama Rusia dan Cina akan semakin erat dan solid, pada perkembangannya Indonesia dan ASEAN akan mendapatkan akses untuk menjalin kerjasama yang lebih erat dan lebih strategis dengan negara-negara di kawasan Asia Tengah seperti Kazakhstan dan Kirgizstan, tidak saja di bidang ekonomi dan perdagangan, melainkan juga di bidang politik-keamanan maupun di bidang sosial-budaya.   


Artikel Terkait
» Indonesia Harus Berperan Aktif bersama ASEAN Menolak Manuver Diplomatik AS Mengisolasi Korea Utara
» Implementasi Pemahaman Wawasan Nusantara Dalam Wujudkan Negara Maritim Indonesia
» Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah
» Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik
» Membaca IORA dari Sisi Lain Geopolitik
» Indonesia dan Geopolitik Samudra Hindia



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Indonesia Dan ASEAN Harus Pertimbangkan kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia Sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik
Belakangan ini, persaingn global AS versus Cina di Asia Pasifik semakin menajam. Indonesia, yang sejatinya merupakan pelopor strategi perimbangan kekuatan di antara dua kutub yang sedang ...

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Indonesia Harus Membujuk Korea Utara Agar Bersikap Moderat dan Lunak

Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia?

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Lihat lainya »
   Arsip
Indonesia dan ASEAN Harus Pertimbangkan Kerjasama ASEAN-Uni Ekonomi Eurosia sebagai Alternatif Menajamnya Persaingan AS-Cina di Asia-Pasifik

Erdogan Kunjungi Teluk untuk Redakan Sengketa Qatar

Wapres Jusuf Kalla Bahas Kerja Sama Maritim dengan Vietnam

PERPPU N0. 2/2017, PERPU CCTV

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Meskipun Sudah Meminta Maaf, Pemerintah Jepang Tetap Mempertunjukkan Watak Agresif Dan Ekspansionistik

Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumber

Iran Harap Perang Yaman Tidak Sulut Konfrontasi Iran-Saudi

RI -Jepang Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Kesehatan

Pelatihan Bela Negara Harus Dalam Bingkai Untuk Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru Yang Dilancarkan Asing

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »