» Shinzo Abe: Personifikasi Kebangkitan Ultra Nasionalisme Jepang? » Bila Tidak Ada Visi, G-20 Merupakan Penjara Bagi Indonesia (2) » Neo Nazi dan Tangan-Tangan Israel di Ukraina » Beberapa Alasan Strategis Kesiapsiagaan Perang Rusia Untuk Mempertahankan Crimea dan Beberapa Wilayah Perbatasan Ukraina » Ukraina Dalam Perspektif Geopolitik Zbigniew Brzezinski


Hankam
01-06-2009
Ketahanan Negara
Peran TNI-AD Dalam Melindungi Segenap Bangsa dan Tumpah darah Indonesia - Bagian 6

Pembinaan Jatidiri Prajurit TNI adalah pembinaan nilai-nilai yang terkandung dalam kedudukan TNI-AD sebagai Tentara Rakyat, Tentara Pejuang, Tentara Nasional yang memberikan semangat dan perekat kepada seluruh anggota TNI-AD untuk menjadi Tentara Profesional.


Kebijakan Dan Strategi Pembinaan TNI-AD Yang Disarankan

Kebijakan Penunjang Peran TNI-AD dalam Melindungi Segenap Bangsa dan Tumpah Darah Indonesia

1.Pembinaan Jatidiri Prajurit TNI adalah pembinaan nilai-nilai yang terkandung dalam kedudukan TNI-AD sebagai Tentara Rakyat, Tentara Pejuang, Tentara Nasional yang memberikan semangat dan perekat kepada seluruh anggota TNI-AD untuk menjadi Tentara Profesional.

a.Tentara Rakyat, mengandung pengertian bahwa  TNI-AD yang berasal dari rakyat harus selalu dekat dengan rakyat, berjuang bersama rakyat dan untuk kepentingan rakyat, dengan demikian akan selalu dekat dengan rakyat, akan tetap didukung  dan dicintai oleh rakyat, sehingga akan tercipta kemanunggalan TNI-AD dengan rakyat.
b.Tentara Pejuang, mengandung pengertian bahwa TNI-AD harus selalu berjuang untuk menjaga, mengawal dan melindungi bangsa dan negara Republik Indonesia dari setiap bentuk ancaman.
c.Tentara Nasional, mengandung pengertian bahwa TNI-AD akan selalu bertindak di atas semua golongan, tidak membela satu kelompok tertentu tapi selalu membela bangsa dan negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD ‘45.

Untuk memagari dan memberikan rambu bagi ‘penampilan’ dalam kehidupan sehari-hari untuk menyatakan jatidiri prajurit sebagai Tentara Rakyat, Tentara Pejuang dan Tentara Nasional oleh TNI-AD telah diberikan pedoman kehidupan, perilaku dan tindakan melalui apa yang disebut Sapta Marga dan Sumpah Prajurit. Dengan demikian, prajurit TNI yang telah mengamalkan Sapta Marga dan Sumpah Prajurit dengan benar niscaya telah menunjukkan identitas prajurit yang benar pula.

Identitas atau jatidiri TNI(AD) apabila dihayati dengan benar oleh Prajurit TNI akan memberikan dorongan dan semangat untuk dapat melaksanakan tugasnya masing-masing dan secara kesatuan akan dapat melaksanakan tugas pokok TNI-AD di dalam pelaksanaan Sishan(kam)rata. Dengan demikian menjadi kewajiban TNI-AD untuk terus-menerus mensosialisasikan jatidiri TNI tersebut dan menjabarkan nilai-nilai yang terkandung pada jatidiri tersebut guna menyemangati jiwa prajurit TNI-AD dalam menunaikan tugas yang dibebankan kepadanya.

Di dalam kenyataan sehari-hari masih ditemukan perilaku prajurit yang tidak menggambarkan pelaksanaan dari nilai jatidiri TNI sehingga merugikan masyarakat dan menodai korps TNI. Hal itu mungkin merupakan ekses dari pengaruh lingkungan strategis terutama lingkungan global yang telah membawa nilai-nilai yang tidak sesuai dengan jatidiri TNI. Namun hal itu lazimnya masih dalam kategori perilaku oknum saja.

Kondisi demikian harus menjadi tantangan bagi TNI–AD untuk memperbaiki sistem pembinaan tradisi dan sejarah TNI-AD ke dalam lingkungan TNI-AD 

       
2.Rekrutmen Taruna AKMIL
Taruna Akmil adalah warga negara Indonesia yang terpilih untuk mengikuti pendidikan perwira di Akademi Militer Nasional. Mereka dipersiapkan untuk menjadi pemimpin TNI-AD yang berarti pula mereka akan mengemban tugas pokok TNI-AD dalam pelaksanaan Sishan(kam)rata guna melindungi segenap bangsa dan  tumpah darah Indonesia.
Oleh karena itu masalah Taruna Akmil harus menjadi perhatian semua unsur kepemimpinan TNI-AD mulai dari rekrutmen, pendidikan sampai dengan pembinaan setelah lulus menjadi perwira TNI-AD agar tetap memegang dan melaksanakan nilai-nilai yang terkandung dalam jatidiri TNI.
a.Sistem Pengadaan/Rekrutmen
b.Sumber Personil
Sumber Taruna Akmil adalah WNI yang terpilih, berkualitas, dan memenuhi syarat yang ditentukan sebagai seorang calon pimpinan TNI-AD.
Semua persiapan untuk merekrut taruna Akmil harus dipersiapkan dengan baik mulai dari kampanye sampai dengan waktu pendaftaran untuk seleksi:
1)Kampanye, dilakukan ke seluruh lapisan masyarakat baik di daerah perkotaan yang sudah maju, maupun di daerah yang kurang maju (daerah transmigran atau daerah tertinggal) untuk mendapatkan sumber daya yang lebih tinggi tingkat intelektualnya.
2)Syarat-syarat pendaftaran, harus benar-benar mudah dimengerti oleh masyarakat calon pendaftar sehingga tidak menimbulkan salah tafsir yang dapat menimbulkan keraguan.
3)Waktu seleksi, untuk mendapat calon dari sumber yang berkualitas, pelaksanaan seleksi dapat dilakukan sedini mungkin, sebelum para calon pendaftar ini masuk ke Perguruan Tinggi lain, sehingga Akmil tidak memperoleh calon Taruna dari sisa-sisa calon yang tidak diterima di Perguruan Tinggi.
4)Seleksi
a)Pelaksanaan seleksi perlu dilakukan pengawasan oleh orang yang independen dan memiliki integritas serta peduli dengan kepentingan TNI-AD untuk memperoleh calon pemimpin yang berkualitas.
b)Panitia seleksi yang dipilih benar-benar punya integritas yang tinggi, sehingga tidak mudah tergiur oleh bujuk-rayu calon atau pihak lain dengan imbalan apapun, kecuali apa yang disyaratkan oleh persyaratan calon taruna AKMIL, sehingga akan terhindar kasus suap-menyuap dalam pelaksanaan seleksi taruna Akmil.
c)Hasil seleksi adalah para warga negara calon taruna yang  terpilih dari sekian banyak calon yang mendaftar dari berbagai daerah dan lapisan masyarakat.

Kualitas calon taruna hasil seleksi yang sudah te-record dalam kertas, alangkah baiknya apabila terhadap calon taruna yang terpilih tersebut dilakukan cek-silang di lapangan masing-masing oleh petugas Komando Kewilayahan untuk melihat apakah benar-benar yang bersangkutan berkelakuan baik, untuk memperkuat keterangan berkelakuan baik yang telah diberikan oleh lembaga Polri.

b.Sistem Pendidikan 
Hasil seleksi taruna Akmil selanjutnya akan digodok di lembah Tidar untuk dibentuk menjadi perwira yang memiliki jatidiri sebagai tentara rakyat, tentara pejuang dan tentara nasional.
Untuk membentuk perwira yang berkualitas tersebut diperlukan sistem pendidikan Akmil yang dapat menjawab tuntutan kebutuhan perwira TNI-AD di lapangan penugasan guna melaksanakan Sishan(kam)rata dalam rangka menyelamatkan keutuhan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Sistem pendidikan harus didukung oleh tenaga pengajar/dosen/dan pelatih yang mumpuni di bidangnya, kurikulum yang dapat menjawab tuntutan kebutuhan lapangan, sarana dan prasarana pendidikan dan sarana alongin pendidikan yang memadai serta dukungan anggaran yang cukup untuk melaksanakan pendidikan dan juga untuk memberikan kesejahteraan kepada para pendidik dan pelatih di lembaga Akmil.

c.Kurikulum di lembaga pendidikan perwira seperti Akmil harus ditujukan untuk dapat membentuk seorang prajurit perwira sejati yang memegang teguh jati diri TNI, tanggap, tanggon dan trengginas dalam melaksanakan tugasnya di berbagai bidang penugasan TNI(AD), dengan demikian diharapkan titik berat kurikulum adalah pada military science (ilmu kemiliteran) karena perwira lulusan Akmil diarahkan untuk menjadi pemimpin militer bukan menjadi pimpinan lembaga yang lain. Meskipun demikian untuk menambah wawasan demi untuk kepentingan pengembangan kariernya dalam pelaksanaan tugas di lapangan maka dalam kurikulum pendidikan perwira dapat dimasukkan pengetahuan sosial pendukung seperti bahasa Inggris, teknologi, sosial politik dan sebagainya, tapi tidak lebih dari 30%, sehingga perbandingan antara pengetahuan militer dan non-militer adalah 70% : 30%.
        
Di samping kurikulum ilmu pengetahuan, kemampuan fisik juga perlu dibina dan selalu dipelihara guna menunjang kemampuannya untuk melaksanakan tugas nantinya.
    
Yang tidak kalah penting adalah apa yang diistilahkan Mental Kejuangan yang berkaitan jatidiri prajurit, sehingga dalam pendidikan Akmil diperlukan juga kurikulum tertentu untuk membentuk MENTAL Prajurit Sapta Marga dan Sumpah Prajurit, agar para taruna benar-benar dapat menghayati nilai-nilai yang ada dalam Sapta Marga dan Sumpah Prajurit yang harus menjadi pegangan dalam kehidupan  sebagai prajurit TNI-AD. Dengan demikian dalam penilaian kelulusan masalah mental kejuangan harus diberikan bobot tertentu yang disimbolkan pada Adhi Makayasa atau sejenisnya.

         Dalam kurikulum Akmil harus sudah dimulai pembentukan jatidiri prajurit antara lain dengan menghayati rute gerilya Panglima Besar Jenderal Sudirman pada saat masih calon prajurit Taruna dimana ditunjukkan bagaimana Panglima Besar Sudirman sebagai Tentara Rakyat melakukan perang gerilya bersama rakyat, dan juga menghayati bagaimana berjuang dengan kondisi sulit tapi pantang menyerah, walaupun tanpa persenjataan memadai berani berperang melawan penjajah.
    
Pada fase berikutnya para taruna masih harus diberikan bekal bagaimana penghayatan sebagai tentara rakyat dengan latihan Praja Yudha, Widya Yudha.
Tahap berikutnya taruna juga harus dibekali dengan kapasitas sebagai Tentara Nasional, bukan Tentara lokal kedaerahan dengan cara melakukan Latihan Integrasi Taruna Wreda (Latsitarda) dimana dalam pelaksanaannya mereka bergabung dengan rakyat, eksponen mahasiswa, dan pemuda di daerah latihan yang tempatnya berganti-ganti di seluruh Indonesia.
     Dalam kurikulum Akmil juga tidak boleh dilupakan kurikulum Sishankamrata yang akan memberikan bekal pengertian tentang Perang Rakyat Semesta karena Lulusan Akmil yang akan memimpin tugas TNI-AD dalam pelaksanaan Sishankamrata.

d.Tenaga pendidik tentu perlu mendapat perhatian, jangan sampai diberikan tenaga pendidik dari personel kelas 2 atau kelas 3 yang artinya hanya sebagai “tempat pelarian/buangan” saja atau hanya sekadar mencari kenaikan pangkat, tetapi benar-benar personel yang qualified, mumpuni sehingga akan dapat memberikan andil yang baik dalam pembentukan Perwira TNI-AD.
Pemilihan tenaga pendidik benar-benar melalui seleksi yang baik, sehingga mereka adalah orang-orang yang jadi panutan taruna dan seterusnya jadi panutan pada saat menjadi Perwira. Oleh karena itu dapat dilaksanakan pemilihan personil calon pendidik Akmil dari berbagai satuan di Kodam, Kopassus, Kostrad, Satuan Tempur, Sat Banpur, Sat Banmin dan juga dari Mabes TNI-AD, dengan berbagai macam pengalaman penugasan calon pendidik  mereka diharapkan akan berhasil melaksanakan tugas untuk mendidik/melatih para taruna untuk dijadikan perwira TNI-AD yang tangguh, tanggon dan trengginas dan apabila para pendidik tersebut kembali ke kesatuan di luar Akmil mereka akan tetap menjadi panutan perwira mantan anak didiknya.
Kalau setiap periode dilakukan hal seperti ini maka keberhasilan mendidik dan membentuk perwira yang berkualitas akan terjamin dengan baik dan perwira mantan pendidik mempunyai karir yang baik.

3.Pembinaan Kesejahteraan Prajurit

a.Kondisi Faktual
1)Bidang pekerjaan prajurit TNI adalah pekerjaan yang berbahaya, memiliki risiko tinggi, dengan konsekuensi kemungkinan kehilangan nyawa sebagai akibat dari keputusan yang disengaja. Prajurit TNI dituntut siap-siaga selama 24 jam terus-menerus dalam sehari disertai disiplin yang tingi dengan kondisi tubuh yang harus prima dalam menghadapi setiap tugas.
2)Pemaknaan prajurit TNI sebagai tentara rakyat, tentara pejuang dan tentara nasional yang profesional menuntut adanya integritas mental dan fisik serta intelektual. Kondisi tersebut akan tercapai apabila didukung kesejahteraan yang memadai untuk memperoleh kehidupan yang layak bagi prajurit beserta istri dan anaknya.
3)Kondisi faktual, terlihat bahwa sebagian besar prajurit purnawirawan (setelah pensiun) kondisi sosial-ekonominya cukup memprihatinkan, jauh dari kehidupan layak, masih menempati rumah dinas dengan risiko diusir setiap saat untuk keluar dari rumah dinas padahal mereka masih belum punya tempat tinggal/rumah yang tetap. Pada umumnya mereka tidak dapat memberikan pendidikan anak dengan baik serta tidak mampu mengikuti kegiatan sosial lainnya.
4)Dalam rangka terus mengoptimalkan pencapaian tugas pokok TNI dan dengan memperhatikan tuntutan perkembangan jaman,  sekaligus untuk meminimalkan ekses-ekses negatif yang mungkin timbul dalam setiap pelaksanaan tugas sehari-hari, maka dipandang perlu untuk mengadakan peninjauan, pembahasan ataupun studi terhadap kondisi penghasilan prajurit yang ada saat ini dengan formulasi kebutuhan nyata sehari-hari dihadapkan pada tuntutan tugas maupun tuntutan kebutuhan hidup nyata yang dari waktu ke waktu senantiasa mengalami kenaikan.
     Karena itu, menjadi tugas negara untuk mengutamakan kesejahteraan prajurit agar tuntutan pembentukan prajurit profesional dapat diwujudkan, sehingga hakikat TNI sebagai tentara rakyat, tentara pejuang dan tentara nasional bisa menjadi kenyataan.
5)Dihadapkan pada kenyataan sekarang, gaji sebagai sumber utama kesejahteraan prajurit masih sangat kecil, jauh dari memenuhi kebutuhan hidup layak seorang prajurit. Lebih-lebih dihadapkan pada lingkungan kehidupan modern yang secara psikologis, langsung atau tidak langsung akan dan menuntut penyesuaian diri prajurit dengan lingkungannya, maka persoalan “kesejahteraan” adalah masalah yang serius. Apalagi sekarang dirasakan dan terlihat tidak adanya pemerataan dan keseimbangan antar golongan kepangkatan.
6)Sistem penggajian yang berlaku sekarang dengan gaji pokok yang kecil, memperbesar tunjangan–tunjangan yang ditunjang dengan fasilitas pendukung (ULP, Beras, PPL) hanya dapat menunjang kehidupan dan dinikmati semasa masih dinas aktif, tetapi belum memberikan harapan untuk hidup layak sebagai pensiunan.
7)Harapan seorang prajurit setelah pensiun dapat mempunyai simpanan untuk menjamin masa depan, menunjang pendidikan anak, melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan maupun memiliki rumah tinggal sendiri yang tetap.
8)Pemeliharaan kesehatan dengan fasilitas Askes belum maksimal dirasakan manfaatnya bagi para purnawirawan bahkan menjadi terasa ‘alergi’ sebagai akibat pelayanan dan perlakuan yang kurang pada tempatnya oleh para petugas kesehatan. Jaminan asuransi kesehatan bila seorang pensiunan atau istri sakit didukung hanya untuk rawat inap, obat generik, lebih dari itu yang bersangkutan harus bayar sendiri. Padahal sejak masih aktif sampai pensiun setiap prajurit dipotong pendapatannya untuk Askes.

b.Kondisi yang diharapkan
1)Untuk mencapai kualitas pengabdian profesional secara integratif mental–fisik–intelektual, kesejahtaraan prajurit baik jasmani maupun rohani (fisik dan moril) termasuk keluarganya harus berlangsung beriringan secara berkesinambungan. Kesejahteraan yang memadai akan memberikan rasa bangga sebagai prajurit dan mereka dapat berkonsentrasi penuh pada tugas, dapat menjamin kesiapan satuan serta meminimalkan dampak negatif dalam pelaksanaan tugas di lapangan.
2)Kesejahteraan prajurit yag memberi harapan untuk dapat memberikan pengabdian profesional secara integratif diupayakan sebagai berikut:
a)Terpenuhinya kebutuhan biologis prajurit berupa komponen kebutuhan hidup mulai dari kebutuhan hidup minimal sampai dengan kebutuhan hidup layak atau  kebutuhan hidup ideal. Komponen kebutuhan hidup yang dimaksud meliputi kebutuhan: sandang, pangan, papan, kesehatan, kebutuhan sekunder & tertier seperti telepon, pembantu, majalah, surat kabar, tamu, perabot rumah tangga, berbagai iuran/sumbangan-sumbangan, transportasi, hiburan, kendaraan, asuransi (jaminan hidup yang diharapkan).
b)Adanya sistem penggajian tersendiri yang berlaku dalam lingkungan TNI, terlepas dari sistem penggajian nasional yang memungkinkan menaikkan besaran gaji pokok sebagai komponen utama perhitungan penghasilan dalam besaran yang memadai dan realistis. Penghasilan prajurit mengutamakan elemen-elemen gaji yang besarnya bisa memberi harapan untuk memenuhi kebutuhan hidup minimal, kebutuhan hidup layak sampai kebutuhan hidup ideal.
c)Komponen pendukung yang telah dipersiapkan (ASABRI, BPTWP, KOPERASI) dapat dikelola dengan baik, profesional, terintegrasi yang akhirnya dapat memberikan harapan dan manfaat maksimal bagi prajurit dalam menghadapi masa depan, terutama kesejahteraan masa pensiun.
d)Terpenuhinya kebutuhan harga diri prajurit yang dilakukan dalam Semua aspek pembinaan personil untuk memelihara dan meingkatkan motivasi, pengabdian seorang prajurit dijalankan dengan tertib dan benar. Masalah yang sering muncul antara lain tentang kenaikan pangkat dengan merit system, asas “reward and punishment”, perawatan personil, kesejahteraan dan moril, penyaluran. Diharapkan proses pembinaan personel dari awal sampai prajurit tersebut pensiun/purna berjalan sesuai aturan tidak banyak terjadi kebijaksanaan merusak sistem yang ada.
e)Terpenuhinya kebutuhan aktualisasi diri, dimana seorang prajurit ingin diakui keberadaan dan perannya terhadap TNI-AD oleh kesatuannya dimana prajurit itu bertugas, dalam hal ini peran Komandan Kesatuan sangat besar untuk dapat memberikan kesempatan kepada anggota kesatuan untuk dapat melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya sesuai dengan  kemampuan dan keahliannya.
 
c.Saran untuk mendukung kesejahteraan prajurit
1)Kewajiban negara untuk memenuhi kebutuhan kesejahteraan prajurit dan jaminan sosial lainnya, sebagai konsekuensi dari sifat penugasannya dengan pengorbanan sebagian hak dasarnya di bidang politik, ekonomi serta resiko pengorbanan nyawanya.
2)Agar tuntutan menjadikan prajurit yang profesional terwujud, maka kesejahteraan prajurit harus menjadi perhatian utama.
3)Sistem penggajian untuk TNI harus diberlakukan tersendiri, terlepas dengan sistem penggajian nasional yang berlaku sekarang. Struktur gaji harus dirubah total, dimana gaji pokok sebagai komponen utama perhitungan penghasilan dinaikkan (minimal 3 kali gaji pokok yang berlaku sekarang) agar dapat menopang kehidupan dan kesejahteraan prajurit. Sedangkan tunjangan-tunjangan merupakan penghasilan penunjang/tambahan tetap diberikan berdasar gaji pokok yang baru. Sehingga prajurit dalam perannya sebagai kepala keluarga selama dinas aktif punya kemampuan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan keluarga (anak dan istrinya) dan punya harapan hidup layak semasa purna tugas (pensiun).
4)Komponen pendukung yang sudah ada (Asabri, TWP, Koperasi) pengelolaannya harus terintegrasi satu sama lain. Ditangani secara profesional sehingga dapat berperan optimal menunjang kesejahteraan prajurit.
5)Khusus pengadaan perumahan pajurit, dapatnya diberikan kemudahan untuk mendapatkan fasilitas kredit perumahan dengan bunga murah atau kalu bisa 0% (nol persen) dengan jaminan oleh negara/pemerintah dan dibantu oleh BTWP untuk dapat meringankan beban angsuran rumah setiap bulannya. Apabila cara ini berjalan dan mencapai sasaran, berarti salah satu beban berat TNI dapat teratasi, pensiunan memliki rumah tinggal sehingga tidak menempati rumah dinas lagi.
6)Untuk menjamin ketenangan dalam bertugas kepada putra putri pajurit diberikan fasilitas pendidikan dan bagi yang menonjol diberikan beasiswa sampai ke perguruan tinggi atau ke Akmil.
7)Guna terjamin perawatan kesehatan prajurit dan keluarga semua instalasi kesehatan pemerintah yang terdekat diminta untuk dapat melayani kesehatan prajurit mulai sakit yang ringan sampai terberat. Yang terpenting lagi perlu disiapkan pos kesehatan di Satminkal atau lingkungan komplek TNI dengan kemampuan perawatan kesehatan awal, serta kartu Askes dapat dimanfaatkan secara optimal/dengan segala kemudahannya.

4.Pembinaan kemanunggalan TNI-AD dengan rakyat
TNI adalah Tentara Rakyat, demikian juga TNI-AD yang menjadi salah satu komponen TNI adalah Tentara Rakyat. Untuk itu TNI-AD harus selalu berada bersama rakyat, memperhatikan dan melindungi rakyat, berjuang bersama rakyat dan untuk kepentingan rakyat dalam upaya melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia.

Tercermin di sini bahwa suatu keharusan TNI-AD selalu berada di tengah-tengah rakyat dan tidak memisahkan diri dari rakyat, hal ini harus selalu diupayakan pembinaannya melalui program-program yang menjadikan TNI-AD tidak terpisah dari rakyat,
Program ini harus berkesinambungan sepanjang tahun, diharapkan  program yang dilaksanakan bersama rakyat adalah untuk kepentingan rakyat.

Segala upaya oleh pihak tertentu yang tujuannya akan memisahkan TNI-AD dengan Rakyat harus ditentang dan digagalkan upayanya karena apabila TNI-AD jauh dari Rakyat maka TNI-AD sudah kehilangan jati dirinya dan kehilangan kekuatan pendukung yang  sangat besar dalam penugasan TNI-AD

Pelaksanaan progran Kemanunggalan TNI dengan Rakyat yang sudah dan selalu dilakukan setiap tahun, yang selama ini dinilai sukses, namun sayangnya setelah terlaksananya program tersebut tidak ada kelanjutan untuk memelihara hasil program tersebut, sehingga seolah-olah terjadi kemandegan untuk program sesaat.

Hal ini yang perlu menjadi perhatian kita semua agar tercapai suatu kondisi dimana TNI-AD menjadi Tentara Rakyat, bekerja sama dengan Rakyat memiliki rasa satu dalam mempertahankan dan menegakkan NKRI.

Bagi para prajurit kegiatan manunggal dengan rakyat sudah dimulai sejak awal mejadi prajurit bahkan ditingkat mula Taruna Akmil sudah diberi penghayatan rute gerilya Pangsar Sudirman, dimana kegiatan ini dapat memberi gambaran bagaimana tentara bersama rakyat bekerjasama untuk melawan penjajah Belanda, tanpa mengenal menyerah demi mempertahankan NKRI.



Artikel Terkait
» Peran TNI-AD Dalam Melindungi Segenap Bangsa Dan Tumpah Darah Indonesia- Kesimpulan Bagian 7
» Peran TNI-AD Dalam Melindungi Segenap Bangsa dan Tumpah Darah Indonesia - Bagian 5
» Sistem Pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia -Bagian 4
» Peran TNI-AD Dalam Melindungi Segenap Bangsa Dan Tumpah Darah Indonesia -Bagian 3
» Peran TNI-AD Dalam Melindungi Segenap Bangsa Dan Tumpah Darah Indonesia-Bagian 2
» Peran TNI-AD Dalam Melindungi Segenap Bangsa Dan Tumpah Darah Indonesia- Bagian 1



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Bila Tidak Ada Visi, G-20 Merupakan Penjara Bagi Indonesia (2)
Artikel ini merupakan tulisan kedua dari artikel "Bila Tidak Ada Visi, G-20 Merupakan Penjara Bagi Indonesia (1)" Pendahuluan Sebagai tuan rumah, Indonesia dipuji oleh WTO dan korporasi transnasional ...

Krisis Ukraina, Sadarkan Indonesia Pentingnya Kesadaran dan Wawasan Geopolitik

Ukraina Dalam Perspektif Geopolitik Zbigniew Brzezinski

Gagalnya Skenario Revolusi Warna dan Titik-Balik Amerika di Ukraina

Nasib Muslim Tatar: Isu Jihad Baru di Ukraina?

Membaca Skenario Besar di Balik Penggulingan Presiden Yanukovich

Lihat lainya »
   Arsip
Kapal Perang Banjarmasin-592 Ikut Latihan Maritim Multilateral di Tiongkok

Mayday 2014 Menuju Perubahan Kesejahteraan Buruh Yang Lebih Baik

Bertarunglah yang Santun

Hamas-PLO Sepakat untuk Akhiri Perselisihan

Tiga Kejanggalan Proyek Chevron Menurut Masyarakat Kuningan

Politik Tan Malaka (1945)

Mulai Selasa Ini Obama Melawat ke Asia

AS Kerahkan Pasukan ke Polandia dan Baltik

Mengembalikan Fungsi Media, Ciptakan Pemilu Sehat

Mungkinkah Koalisi tak Bagi-bagi Kursi Menteri?

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Belum Ada Manfaatnya Obama Bagi Islam dan Kepentingan Indonesia

Judul : Obama, Islam dan Gaza
Penulis : Wawan H Purwanto
Penerbit : CMB Press
Tebal buku : 216 halaman termasuk biodata penulis
Peresensi : Muhammad Mubdi Kautsar

Lihat Lainnya »