» Menelisik Sejarah Kebijakan Maritim Rusia (Menyongsong ASEAN-Russia Summit, di Sochi, Rusia, 18-20 Mei 2016) » Asia Tenggara Sebagai Kawasan Bebas Nuklir Sesuai dengan Semangat KAA Bandung 1955 dan ZOPFAN ASEAN » Suriah, Pusaran Pertarungan Global AS-Inggris-Perancis dan Rusia » Ada Usaha Untuk Meruntuhkan Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia dan Netralitas ASEAN » Indonesia Harus Mendorong Terciptanya Keseimbangan Kekuatan Baru di Asia Tenggara Melalui KTT ASEAN-Rusia Mei 2016


Lingkungan Hidup
05-11-2010
Lingkungan Jakarta
Kondisi Lingkungan Jakarta Krisis

Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLHD) DKI Jakarta, Peni Susanti menilai bahwa kondisi lingkungan Jakarta dalam keadaan krisis. Hal tersebut disebabkan oleh pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup yang umumnya berasal dari kegiatan industri, pemukiman, perkantoran, jasa akomodasi dan kegiatan masyarakat.


Selain itu, penanganan air bersih dan air limbah, serta kondisi hidrologi kota Jakarta juga cukup mencemaskan. Hal ini sudah tentu akan semakin memperparah kondisi kritis lingkungan kota Jakarta,” kata Peni disela acara Seminar Sehari Krisis Lingkungan Hidup di DKI Jakarta dan Penerapan Undang-Undang Lingkungan Hidup Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Ballroom Central Park, Jakarta Barat, Rabu (3/11).

Menurut Peni, ketersediaan air yang rendah antara lain disebabkan oleh dialihfungsikannya permukaan daerah-daerah resapan untuk perumahan, kawasan perindustrian, perkantoran, jasa akomodasi dan perdagangan.

Sehingga air tanah yang jumlahnya sudah sangat sedikit dan telah tercemar oleh intrusi air laut dan limbah domestik. Serta mengakibatkan banyaknya penyedotan air tanah dalam dan dangkal baik yang legal maupun ilegal.

BPLHD DKI mencatat saat ini 53 persen konsumen air di Jakarta menggunakan air tanah, sedangkan sebanyak 47 persen menggunakan air PAM. ”Sebagian besar dari 53 persen itu adalah konsumen rumah tangga," ujarnya, "Selebihnya perkantoran, apartemen, mal, hingga industri.”

Peni mengatakan, presentase kualitas air yang baik untuk dikonsumsi jumlahnya semakin sedikit.

Untuk wilayah Jakarta Utara hanya 13 persen yang baik dikonsumsi, Jakarta Barat tujuh persen, Jakarta Pusat sembilan persen, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur masing-masing 35 persen.

Hingga Agustus 2010, lanjut Peni, jumlah sumur bor air tanah yang ada di DKI Jakarta telah mencapai 4.011 sumur dengan jumlah pengambilan sebagai beban pajak mencapai sekitar 20 juta meter kubik per tahun. ”Jika hal ini terus terjadi, dikhawatirkan akan mengakibatkan berbagai kerusakan lingkungan," kata dia.

Kerusakan yang diakibatkan antara lain penurunan muka air tanah, amblesnya permukaan tanah, dan penyusupan air asin yang berasal dari laut. Menurut Peni, dalam rangka terwujudnya Kota Jakarta yang memiliki lingkungan berkelanjutan, pengelolaan lingkungan harus dikembangkan dengan berbagai perangkat kebijakan program.

Serta kegiatan yang didukung oleh sistem pengelolaan lingkungan lainnya, termasuk pencegahan, penanggulangan kerusakan dan pencemaran serta pemulihan kualitas lingkungan sesuai dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009. ”Langkah perlindungan dan pengelolaan air tersebut harus mengacu pada konsep 5 R yaitu Reduce,Reuse, Recharge, Recycling dan Recovery,” kata dia. 


Sumber :Republika online
Artikel Terkait
» Dinilai Rusak Lingkungan, Burger King Tolak Beli Minyak Goreng Indonesia
» Menteri: Komitmen Penghijauan Baru Dijalankan 174 Daerah
» Indonesia Anggap Perlunya Kemitraan Global dalam Atasi Masalah Air Dunia
» Hutan Indonesia akan Punah pada 2022
» Pengelolaan Air di Indonesia Buruk
» Kerusakan Lingkungan Bukan Sekadar Isu tapi Fakta



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Ada Usaha Untuk Meruntuhkan Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia dan Netralitas ASEAN
Kita harus bedakan Cina Republik Kita dan Rakyat Cina. Pertumbuhan kekuatan ekonomi dan keuangan dari para taipan seberang laut (Overseas China) yang berkiblat pada Kapitalisme berbasis ...

Dalam Soal Ianfu (Comfort Women), Korea Selatan Bukan Satu-satunya Korban Kejahatan Perang Jepang

Blunder AS dalam Perang Suriah

Indonesia Harus Bisa Mencegah Terseretnya Negara-Negara OKI Dalam Proxy War Arab Saudi versus Iran

MEA: Peluang atau Ancaman?

Rencana Mundurnya James “Bob” Moffet, Indikasi Adanya Strategi Freeport Ganti Aktor Baru Untuk Pertahankan Kesepakatan Lama

Lihat lainya »
   Arsip
Menelisik Sejarah Kebijakan Maritim Rusia (Menyongsong ASEAN-Russia Summit, di Sochi, Rusia, 18-20 Mei 2016)

TNI Terima 2 Granat dari Masyarakat Papua

Masih Layakkah Partai Aceh Memimpin Aceh 2017 sampai 2022?

Menghina Presiden RI sama dengan Menghina NKRI

Pemerintah Tidak Berhadil Membalikkan Tren Penurunan Ekspor Sepanjang 18 Bulan

Pertama, Pesawat Militer Cina Mendarat di Pulau Sengketa

Wapres JK Sampaikan Kritik Pedas Kepada Negara-negara OKI

PPRC TNI Fokus Latihan Pembebasan Sandera

Panglima TNI: Kopassus Itu Ibarat Angin

Satgas Pamtas 431/SSP Ajarkan Baca Tulis Warga di Papua

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Lihat Lainnya »