» Paradoks Indonesia Ditengah Kebangkitan Ekonomi Asia Abad 21 » Bila Tidak Ada Visi, G-20 Merupakan Penjara Bagi Indonesia » PKS, Kita, dan Perkembangan Terbaru di Syria » Rontoknya Teori Polisi Dunia! (Bag-2/Habis) » Rontoknya Teori Polisi Dunia! (Bag-1)


Kesehatan
07-03-2011
Kurang Tidur? Matikan Teknologi Di Sekitar Anda

Ketergantungan kepada televisi, telepon selular dan komputer jinjing dibayar mahal oleh warga Amerika --membuat mereka kurang tidur.


Kegemaran secara nasional untuk menonton televisi setiap malam sebelum tidur, bermain permainan video hingga tengah malam atau memeriksa surat elektronik atau pesan singkat (SMS) sebelum mematikan lampu dapat mengganggu tidur.

"Sayangnya, telepon selular dan komputer yang membuat hidup kita lebih produktif dan menyenangkan dapat mengganggu hingga pada titik yang membuat kita kurang tidur pada malam hari dan membuat jutaan warga Amerika tidak segar keesokan harinya," kata wakil ketua Yayasan Tidur Nasional (NSF) yang berbasis di Washington, Russel Rosenberg dalam satu pernyataan.

Hampir 95 persen orang yang ditanyai NSF mengatakan mereka menggunakan beberapa alat elektronik sejam sebelum tidur dan dua pertiganya mengakui mereka tidak mendapatkan tidur yang cukup dalam satu minggu.

Charles Cziesler dari Harvard Medical School and Brigham and Women`s Hospital di Boston mengatakan paparan dari cahaya buatan sebelum tidur dapat meningkatkan kewaspadaan dan menahan terlepasnya hormon untuk mendorong tidur --melatonin.

"Teknologi telah menginvasi kamar tidur," kata Czeisler dalam satu wawancara. "Invasi oleh teknologi yang membuat manusia terjaga itu ke kamar tidur dapat berdampak pada tingginya jumlah responden yang mengatakan mereka mengalami kurang tidur secara rutin dari yang jumlah waktu tidur yang mereka butuhkan."

Generasi "baby boomers" atau orang yang berusia 46-67 tahun adalah kelompok usia terbesar yang menonton televisi setiap malam sebelum tidur, sementara lebih dari sepertiga kelompok 13-18 tahun dan 8 persen dari generasi muda berusia 19-29 tahun bermain "video games" sebelum tidur.

Enam puluh satu persen juga mengaku mereka menggunakan komputer atau komputer jinjing setidaknya beberapa malam setiap pekannya.

Kecenderungan untuk tetap berhubungan dengan teknologi berarti ada lebih banyak orang yang harus mengatasi masalah tiba-tiba tertidur, terbangun karena suara telepon selular, SMS atau surat elektoronik pada malam hari.

"Satu dari sepuluh anak mengatakan mereka terbangun oleh SMS setelah tidur, orang-orang tidak mematikan "blacberry" mereka," kata Czeisler dan menambahkan bahwa hal ini menjadi beban untuk aktivitas tidur.

Generasi Z, berusia 13-18 tahun adalah kelompok yang paling kurang tidur dengan 22 persen menggambarkan diri mereka "mengantuk" dibanding sembilan persen dari generasi "baby boomers".

Ahli tidur merekomendasikan para remaja untuk tidur 9 jam 15 menit pada malam hari namun para remaja yang diwawancarai mengatakan mereka hanya tidur rata-rata selama 7 jam dan 26 menit.

"Saya paling khawatir terhadap kondisi kurang tidur kelompok usia 13-18 tahun," kata Czeisler. "Anak-anak saat ini kurang tidur 1,5 - 2 jam setiap malam dibanding mereka di usia yang sama seabad yang lalu. Artinya mereka kehilangan 50 jam waktu tidur per bulan," ujarnya.

Kurang tidur bagi warga Amerika berdampak negatif pada pekerjaa, suasana hati, keluarga, kebiasaan menyetir, kondisi seksual dan kesehatan, menurut NSF.

Semua kelompok usia mengonsumsi minuman berkafein --sekitar 354 mililiter per orang-- per hari dan melakukan tidur siang, kadang lebih dari satu kali dalam satu hari.

"Orang tua harus menyingkirkan teknologi semacam ini dari kamar tidur anak-anak bila mereka ingin anak-anaknya baik (di sekolah)," kata Czeisler. (ANTARA/Reuters Life!)


Sumber :Antaranews.com
Artikel Terkait
» Kebisingan Lalu Lintas Dorong Resiko Terkena Stroke
» Tak Cuma Bikin Pedas, Cabai Juga Bermanfaat Bagi Kesehatan
» Berhenti Minum Soda, Sekarang!
» Gaya Hidup Sehat, Mata Sehat di Usia Tua
» Agar Mata Tak Cepat Lelah Saat di Depan Komputer



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Malaysia, Sarang Baru Perdagangan Narkoba di Asia Tenggara?
Terbetik kabar, Malaysia sekarang jadi sarang jual beli narkoba di Asia Tenggara. Karakterisitiknya maupun pencitraannya sebagai negara Religius Islam, sepertinya jadi samaran yang sempurna buat dijadikan ...

BRICS, G-2O, dan IMF

Mengkaji Hubungan Strategis Rusia – Indonesia dari Perspektif Geopolitik (Bag-1)

Saatnya Menoleh ke Rusia Bagi Kepentingan Strategis Indonesia

Bom Boston dan Aksi Destabilisasi AS di kawasan Heartland dan Caucasus

Indonesia, Rusia dan Cina Harus Galang Kerjasama Bendung Skema TPP Amerika Serikat di Asia Pasifik

Lihat lainya »
   Arsip
Inilah 8 Balon Pilpres Iran yang Lolos Uji Kelayakan

TNI Terima Penghargaan Pelestarian Hutan dan Konservasi dari Menhut RI

Kesenian Angklung Meriahkan HUT ke-57 AB Maroko di Kongo

Uni Eropa Cantumkan Hizbullah dalam List Kelompok Teroris

Seniwati Indonesia Persembahkan Seni Pahat di Iran

RI-Tunisia: Pembelajaran Demokrasi Tidak Akan Berhenti

Polemik Undang-undang Pemilu Lebanon

Bisakah Indonesia Bangkit?

Malaysia, Sarang Baru Perdagangan Narkoba di Asia Tenggara?

Ada Skema Besar Yang Dimainkan Dalam Kasus Impor Daging Sapi

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang : Dina Y. Sulaeman
PRAHARA SURIAH

“Hasil perang ini tidak hanya berpengaruh bagi masa depan Suriah. Situasi di Suriah telah membagi dua dunia. Ini adalah konflik internal yang membawa konsekuensi global.”

Demikian narasi sebuah film dokumenter Rusia karya Proddubniy, dkk. Konflik Suriah melibatkan sangat banyak ‘pemain’, mulai dari Sekjen PBB, para presiden dari AS, Inggris, Prancis, Turki, raja-raja Arab, pasukan Suriah, pasukan jihad, hingga para pengguna internet. Inilah era Facebook, Twitter, dan blog. Kelompok oposisi Suriah membuat sangat banyak rekaman video amatir dan disebarluaskan di internet. Para blogger antiperang pun memberikan ‘serangan’ balasan. Informasi bertaburan dan bersilangsengkarut. Ibarat menyusun puzzle, inilah puzzle yang terlihat rumit. Posisi masing-masing kepingannya sulit diidentifikasi.

Buku ini telah menyusun kepingan puzzle itu, supaya kita semua dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari konflik Suriah. Karena, kejelian dan kecerdasan dalam mencermati konflik akan menghindarkan bangsa Indonesia dari perang saudara atau konflik yang tak perlu.

Lihat Lainnya »