» Memberi Makna Baru tentang Motif Politik Di Balik Pembunuhan Presiden Panama Omar Torrijos » Membaca Langkah Trump dari Perspektif The Power of Oil » Membaca IORA dari Sisi Lain Geopolitik » Indonesia dan Geopolitik Samudra Hindia » Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing


Isu Hangat
04-06-2012
Menuju APEC 2013 Di Indonesia
PERAN STRATEGIS INDONESIA DI FORUM APEC MELALUI SKEMA KERJASAMA MP3EI- Program of Development of Siberia and the Far East (Merujuk Artikel Sebelumnya: Skema Alih Teknologi Rusia)
Penulis : TIM PENGKAJI APEC: Rusman dan Ferdiansyah Ali

Terkait dengan tulisan kami sebelumnya tentang Skema Alih Teknologi Rusia, mau tidak mau harus mengeksplorasi hubungan Indonesia-Rusia itu. Mengingat pentingnya momentum KTT APEC September 2012 mendatang, sebagai prakondisi menuju peran Kepemimpinan Indonesia dalam KTT APEC di Bali 2013.


Menurut Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia Djauhari Oratmangun, Vladivostok merupakan salah satu hal yang kiranya perlu jadi pertimbangan pemerintah RI dalam kerangka kerjasama ekonomi-perdagangan Indonesia-Rusia. Menurut Dubes Oratmangun, Vladivostok saat ini semakin penting bagi peningkatan kerjasama Indonesia dengan Rusia di berbagai sektor seperti investasi, perdagangan, pendidikan dan pariwisata.

Dengan demikian, Vladivostok bukan sekadar merupakan salah satu kota terbesar dan berkembang di wilayah Timur Jauh Rusia yang akan menjadi tuan rumah KTT APEC September 2012, tetapi juga merupakan jembatan penghubung perekonomian dan perdagangan Rusia dengan kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia.

Namun demikian, untuk mendukung kea rah kerjasama strategis ekonomi-perdagangan terkait KTT APEC 2012 maupun KTT Bali 2013, kiranya perlu digali lebih jauh skema yang bisa menopang kerjasama tersebut.

Pertama-tama, tentu saja Indonesia harus menggunakan forum APEC di Vladivostok September mendatang, untuk menyerap dan mempelajari pengalaman Rusia, dalam memanfaatkan semaksimal mungkin forum APEC bagi percepatan, pertumbuhan dan pemberdayaan ekonomi nasional Indonesia di kawasan Asia Pasifik, utamanya di kawasan Asia Tenggara.

Salah satu yang kiranya perlu dipertimbangkan adalah, bagaimana mensinergikan skema yang dipunyai Indonesia dan Rusia, yang selama ini sudah berjalan di kedua negara masing-masing. Pemerintah Indonesia, punya program bernama Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Indonesia (MP3EI). Sedangkan Rusia menerapkan Program of Development of Siberia and the Far East.

Dari berbagai data yang berhasil dihimpun tim riset Global Future Institute, MP3EI berencana akan meluncurkan sekitar 84 proyek infrastruktur senilai 536,3 triliun rupiah atau 58,4 miliar dolar Amerika Serikat tahun ini, sebagai bagian dari program MP3EI. Tentu saja ini harus jadi perhatian segenap stake holders kebijakan luar negeri lintas kementerian baik kementerian luar negeri, kementerian ekonomi, kementerian perdagangan, kementerian perindustrian, pariwisata dan bahkan kelautan.

Karena itu, menyambung dan memperkuat gagasan pemikiran yang kami tuangkan dalam artikel kami terdahulu terkait skema alih teknologi Rusia, sudah saatnya dalam menghadapi KTT APEC 2012 maupun 2013, Pemerintah Indonesia harus menciptakan kerjasama yang terintegrasi antara kementerian terkait bidang luar negeri, pertahanan dan perekonomian nasional. Karena ketiganya selain terkait, juga saling mendukung satu sama lain.

Apalagi dengan fakta bahwa program MP3EI merupakan program percepatan dan perluasan ekonomi yang diarahkan untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan ekonomi strategis di kawasan Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Papua, Maluku. Dengan demikian, geopolitik harus menjadi salah satu fokus kajian yang kiranya bisa menjadi landasan pertimbangan kebijakan strategis dalam menjalin kerjasama strategis dengan mitra-mitra strategis Indonesia baik negara-negara yang tergabung dalam APEC maupun dengan Rusia sebagai salah satu mitra dalam forum APEC ini.

Ini penting untuk kami garisbawahi, mengingat fakta bahwa sektor-sektor swasta berencana akan diikutsertakan untuk menanam investasi triliunan rupiah dalam skema Program MP3EI tersebut.

Berarti, kerjasama strategis antara pihak swasta Indonesia dan negara-negara mitra dalam Forum APEC harus dipertimbangkan secara komprehensif dan menyeluruh atas dasar saling menguntungkan dan dengan dengan didasari oleh kesetaraan dalam ikatan kerjasama baik di tingkat hulu hingga hilir.

Dalam konteks tersebut, Pemerintah dalam menerapkan Program MP3EI, khususnya Menteri Koordinasi Perekonimian Nasional, perlu mempertimbangkan nilai strategis Program Rusia melalui Skema   Program of Development of Siberia and the Far East.

Karena itu menarik pernyataan Gubernur  Gubernur Primosrky Krai Vladimir Mikhlushevsky ketika bertemu Dubes Oratmangun di Vladivostok. Vladimir Mikhlushevsky menyatakan bahwa wilayah Primorsky Krai dan kota Vladivostok saat dipandang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi wilayah Timur Jauh Rusia. Wilayah ini berbatasan langsung dengan kawasan pertumbuhan ekonomi Asia Timur dan dekat dengan pusat-pusat perkembangan ekonomi APEC.

Meski perlu verifikasi dan eksplorasi lebih jauh dari para pemangku kepentingan perekonomian kita, namun jika pernyataan Gubernur Primosrky Krai Vladimir Mikhlushevsky cukup valid dan faktual, maka tak diragukan lagi bahwa wilayah Primorsky Kraj dan kota Vladivostok mempunyai nilai strategis secara geopolitik bagi Indonesia. Dan karenanya, harus menjadi bahan pertimbangan penting bagi para pemangku kepentingan Indonesia baik di jajaran kementerian perekonomian nasional maupun kementerian luar negeri.

Sepertinya bukan sebuah kebetulan jika pihak Rusia memilih Rusky Island di Vladivostok sebagai lokasi KTT APEC September 2012 mendatang. Maka itu, pentingnya mensinergikan Program MP3EI dan Skema   Program of Development of Siberia and the Far East kiranya cukup beralasan. Bahkan peluang menuju kerjasama tersebut sudah tercipta. Dari pihak Indonesia, Dubes Djauhari Oratmangun menyampaikan niatnya untuk segera mendorong para pelaku bisnis Indonesia memanfaatkan potensi ekonomi yang dimiliki Primorsky Krai.

“Kita akan mengajak sektor pemerintah dan swasta Indonesia untuk lebih sering berkunjung ke Vladivostok. Waktu tempuh perjalanan udara langsung Vladivostok-Indonesia hanya kurang lebih 6 jam, lebih pendek dari penerbangan langsung Vladivostok-Moskow yang mencapai 9 jam atau Moskow-Jakarta”, kata Dubes Djauhari Oratmangun.

Tentu saja kedekatan jarak tempuh tidak bisa dijadikan salah satu faktor terpenting keputusan kerjasama tersebut. Fakta yang lebih strategis seharusnya secara jeli menjadi bahan pertimbangan Pemerintah RI. Salah satunya, Rusia menurut informasi sedang mempertimbangkan akan membentuk Badan Usaha Milik Negara yang secara khusus bertujuan mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia, di Siberia, Wilayah Timur Jauh Rusia. Sekaligus mencanangkan pembangunan berskala nasional dalam proyek-proyek di bidang infrastruktur. Sudah barang tentu, hal ini sejalan dengan Skema Program MP3EI pemerintah Indonesia yang juga akan menggalakkan proyek pembangunan infrastruktur.

Jika skema kerjasama MP3EI- Skema   Program of Development of Siberia and the Far East bisa terwujud, kami yakin hal ini tidak saja menguntungkan antar pemerintah Indonesia-Rusia, melainkan juga menguntungkan bagi rakyat kedua negara(People-based Development). Artinya, sektor ril perekonomian Indonesia akan hidup kembali setelah sekian lama didominasi oleh perekonomian yang hanya berkutat pada perputaran di pasar modal.  

Selain itu, ketertarikan pihak Rusia itu sendiri untuk mengajak kerjasama sektor swasta Indonesia menurut kami jauh lebih menarik lagi dipandang dari perspektif strategis hubungan Indonesia-Rusia kini dan kelak.

Apalagi ketika saat ini sudah ada sinyal positif ketika Ketua KADIN Primorsky Krai Vladimir Brezhnev dalam pertemuan terpisah dengan Dubes Djauhari Oratmangun, secara terbuka menyatakan ketertarikannya untuk meningkatkan hubungan ekonomi dan perdagangan dengan Indonesia.

Tentu saja ini prakondisi yang cukup menguntungkan bagi Indonesia dalam menjalin kerjasama strategis atas dasar kerjasama yang saling menguntungkan. Apalagi di sektor pendidikan pun, kerjasama kedua negara sudah terjalin dengan baik.

Seperti terungkap dalam pemberitaan di situs Kementerian Luar Negeri RI, dalam pertemuan dengan Dubes Oratmangun, telah diadakan pertemuan dengan Acting Rektor Far Eastern Federal University (FEFU) Igor Vatulin. Dan dalam pertemuan tersebut, telah dibahas berbagai upaya peningkatan kerjasama di bidang pendidikan, seperti pengiriman mahasiswa dan tenaga pengajar.
Jadi, dipandang dari berbagai sisi, prospek kerjasama Indonesia-Rusia di berbagai bidang cukup beralasan untuk digalakkan dan diintensifkan pada tataran yang lebih strategis dan berjangka panjang.  




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing
Sebenarnya para olahragawan dan olahragawati yang “ketangkap basah” menggunakan doping, bukan hal baru terjadi di dunia olahraga. Ketika olahraga dewasa ini semakin erat kaitannya dengan prestise ...

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Membaca Langkah Trump dari Perspektif The Power of Oil

Kontroversi Keberadaan Freeport

Penyebaran Paham Radikalisme: Ancaman Nyata Kedaulatan NKRI

Menyikapi Kasus Freeport

Bangkitnya Komunisme dalam Konstelasi Politik Indonesia

Bom Panci di Cicendo, Pesan Eksistensi Kelompok Radikal

Mewujudkan Spirit Demokrasi Pancasila

Perilaku Barbaristik dalam Politik Aceh

Saatnya Mengambil Alih Freeport

Waspadai Eskalasi Propaganda Aktivis Pro Papua Merdeka

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »