» Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina » Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif » Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)


Hankam
01-11-2009
Global Future Institute Mendesak Menteri Pertahanan Baru Segera Membeli Beberapa Kapal Selam Berteknologi Tinggi, Berkemampuan Canggih dan Harga Relatif Murah
Penulis : Tim Riset Global Future Institute (GFI)

Beberapa waktu yang lalu, melalui situs ini kami dari Global Future Institute mengangkat sebuah artikel mengenai kekuatan angkatan laut Republik Rakyat Cina. Ternyata kekuatan angkatan laut Cina cukup luar biasa pesat perkembangannya baik dari segi personil maupun peralatan. Lalu bagaimana dengan kekuatan angkatan laut Indonesia sekarang?


Sayang sekali, sejak Presiden Sukarno turun dari tampuk kekuasaan pada 1967, angkatan laut kita turun drastis dari segi kualitas peralatannya. Padahal, sewaktu era kepresidenan Sukarno 1945-1967, kapal selam yang dimiliki angkatan laut kita ketika itu mampu menjalankan misi membantu Pakistan yagn ketika itu sedang terlibat perang melawan India.

Berbagai saran dan desakan kalangan pemerhati pertahanan dan kemiliteran untuk membeli kapal selam dengan kualitas tinggi, ternyata sampai hari ini masih tidak ditanggapi secara serius oleh Departemen Pertahanan.

Ini tentu saja cukup mencemaskan mengingat Indonesia merupakan Negara kepulauan dan memiliki wilayah laut yang amat luas. Sehingga sudah seharusnya memiliki armada militer laut yang cukup memadai, berkualitas namun dengan harga yang relatif cukup murah.

Saat ini, anggaran militer Indonesia baru sebsar 33 triliun rupiah, sehingga dinilai masih cukup rendah jika dibandingkan Singapore, India, apalagi Cina. Karena itu, Global Future Institute menyambut baik pernyataan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Tedjo Edhy Purdijatno yang mengatakan: Jika Indonesia hendak membeli kapal selam, hendaknya membeli kapal selam yang memiliki kualitas yang baik, seperti yang dimiliki oleh negara-negara lain. Karena jika kapal selam yang dibeli kapal selam lama atau model lama, maka Indonesia akan tetap mengalami ketertinggalan dengan negara lain.

Pernyataan Kepala Staf Angkatan Laut kita tersebut diutarakan pada Agustus lalu, ketika masa kepresidenan SBY yang keduakalinya masih belum dilantik. Sekarang setelah SBY resmi dilantik, maka pernyataan KSAL kita tersebut sudah selayaknya menjadi bahan pertimbangan penting Menteri Pertahanan baru kita Purnomo Yusgiantoro.

Konteks dan makna pernyataan KSAL Edhy Purdjianto tersebut menjadi sangat strategis saat ini ketika dikaitkan dengan semakin meningkatnya ancaman dari Negara tetangga kita Malaysia baik dari segi Pertahanan dan Keamanan dan bahkan dari bidang social-budaya.

Bahkan tersirat dalam pernyataannya Agustus lalu, KSAL mengkuatirkan Malaysia sebagai ancaman yang cukup serius dari segi kesiapan Negara jiran tetrsebut dari segi peralatan armada militer lautnya. Bahkan informasi terkini yang berhasil dihimpun tim riset Global Future Institute, Malaysia saat ini sudah membeli beberapa kapal selam dari Perancis. Bisa jadi, inilah yang menjadi kekuatiran KSAL Edhy Purdjianto. “Vietnam mau beli 6 kapal selam dari Rusia. Kalau Singapura sudah punya 4, Malaysia juga sudah punya 4," katanya. Sayangnya KSAL tidak menyebut secara eksplisit bahwa Malaysia telah membeli beberapa kapal selam dari Perancis.

Secara umum KSAL hanya mengingatkan bahwa negara-negara tetangga saat ini telah memiliki kapal selam yang cukup tangguh dan banyak. Karenanya, jika Indonesia ingin memiliki kapal selam hendaknya kapal selam yang berteknologi dan berkemampuan yang canggih.

Pertanyaan kunci dalam soal ini yang harus segera ditangani dan dijawab oleh Menteri Pertahanan baru Purnomo Yusgiantoro adalah, segera memutuskan dari Negara mana kita membeli kapal selam yang sesuai criteria KSAL kita yaitu kapal selam yang berteknologi dan berkemampuan canggih. Dan untuk itu, Global Future Institute mendesak Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro untuk segera membeli beberapa kapal selam sebagaimana dinyatakan oleh KSAL kita tersebut.

Demikianlah rangkuman diskusi kecil tim Global Future Institute dengan beberapa peneliti bidang pertahanan Jumat Malam 30 Oktober lalu di Wisma Daria.

Diskusi kita selanjutnya akan digelar minggu depan oleh Tim peneliti Global Future Institute dengan tujuan untuk menjawab pertanyaan strategis di atas, yaitu Negara mana yang kiranya memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh KSAL Edhy Purdjianto. 

Rekomendasi ini sejalan dengan pernyataan mantan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono yang memandang perlunya pengadaan kapal selam sebagai alat pukul dalam strategi pertahanan kita sebagai Negara kepulauan terbesar di dunia.

Jadi, tunggu apa lagi. Bagi Menteri Pertahanan baru Purnomo Yusgiantoro, tidak ada pilihan lain kecuali memprioritaskan pengadaan kapal selam secepatnya.





 






Artikel Terkait
» Meneropong Kekuatan Angkatan Laut Bersenjata Cina
» Terbongkarnya Operasi Leech, Ungkap Permainan Ganda Intelijen India di Myanmar
» Jepang Luncurkan Kapal Induk Kedua
» 'Pasukan' F-16 Arab di Arizona
» Manuver Enam Kapal Perang Amerika di Laut Cina Selatan dan Natuna Dorong Asia Tingkatkan Keamanan Laut
» Mewaspadai Meningkatnya Kekuatan Militer Cina
» Perbandingan Kekuatan Militer Korea Selatan Versus Korea Utara
» Daulat Ambalat Itu Harga Mati: Presiden
» Peran TNI-AD Dalam Melindungi Segenap Bangsa Dan Tumpah Darah Indonesia- Kesimpulan Bagian 7
» DPR Mendatang Harus Revisi UU Pertahanan No.3/2002
» Menakar Kekuatan Angkatan Bersenjata Australia



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
GFI Ingatkan 5 Poin Pesan Panglima TNI

Wapres Buka Peringatan Hari Pers Sedunia 2017

Top! Pelajar Indonesia Gelar Festival Budaya di Manchester

Kehadiran Kapal Induk Cina Terbaru Menuai Spekulasi

Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik

Kongres Ulama Perempuan di Cirebon Dihadiri oleh 15 Negara

Sekjen PBB Serukan Penyelesaian Politik bagi Krisis Yaman

China Luncurkan Kapal Induk Buatan Dalam Negeri

Pilkada Rasa Devide et Impera

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »