» Paradoks Indonesia Ditengah Kebangkitan Ekonomi Asia Abad 21 » Bila Tidak Ada Visi, G-20 Merupakan Penjara Bagi Indonesia » PKS, Kita, dan Perkembangan Terbaru di Syria » Rontoknya Teori Polisi Dunia! (Bag-2/Habis) » Rontoknya Teori Polisi Dunia! (Bag-1)


Artikel Pilihan
28-06-2012
Menuju APEC 2013 Di Indonesia
Indonesia Perlu Pertimbangkan Far Eastern Federal University Sebagai Model Kerjasama Pendidikan Tinggi Berskala Asia Pasifik
Penulis : Rusman dan Ferdiansyah Ali, Tim Pengkaji APEC 2012-2013

Pendidikan, Menjawab Tantangan Masa Depan

Global Future Institute berpandangan bahwa kerjasama bidang pendidikan sangatlah penting kerjasama ekonomi antar negara-negara yang tergabung dalam forum APEC. Dengan kata lain, sebagai forum kerjasama ekonomi Asia Pasifik (APEC), harus segera merumuskan langkah-langkah menghadapi tantangan masa depan. Pengalaman membuktikan bahwa masalah paling utama adalah pengembnagan sumberdaya manusia. 


Karena seperti kita sadari bersama, kelangkaan tenaga-tenaga ahli professional merupakan masalah paling krusial yang dihadapi oleh negara-negara forum kerjasama ekonomi regional APEC. Menyadari bahwa masalah kerjasama bidang pendidikan pada dasarnya bersifat lintas-negara-bangsa, maka solusi menciptakan kerjasama pendidikan haruslah dimulai dalam kerangka kerjasama internasional. Karena melalui kerjasama pendidikan berskala internasional itulah, pada perkembangannya akan meningkatkan kualitas dari sumberdaya manusia, sehingga mampu menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mendorong pembangunan ekonomi yang inovatif. Sekaligus menciptakan kemakmuran di kalangan negara-negara anggota APEC.

Karena itu Global Future Institute sangat mendesak segera diciptakannya kerjasama antar negara-negara di Asia Pasifik dalam bidang pendidikan tinggi. Dan pada saat yang sama, kerjasama pendidikan tersebut harus dimulai di semua sektor termasuk program kerjasama dalam kerangka peningkatan pembangunan regional, mempromosikan peningkatan kecakapan dan ketrampilan menanggapi tantangan masa depan dalam rangka masyarakat global. Selain itu, perlu juga semakin ditingkatkannya kerjasama antar universitas, serta kerjasama dalam bidang bidang khusus seperti matematika, pengadaan lembaga-lembaga pendidikan dan dukungan bagi para mahasiwa agar semakin meningkatkan mobilitasnya. 

Saat ini sudah ada beberapa model terkait internasionalisasi pendidikan tinggi seperti misalnya adanya beberapa program kerjasama, yang mana para lulusan menerima dua gelar kesarjanaan, satu dari universitas dimana si lulusan tersebut menempuh studi, dan dari universitas lainnya yang telah menjalin kerjasama dengan universitas dimana lulusan tersebut menempuh studi di program S-1. 

Namun kiranya perlu kami ingatkan bahwa internasionalisasi pendidikan tinggi tidak sebatas kerjasama antar universitas dalam rangka penerimaan gelar kesarjanaan. Pada lingkup yang lebih luas, juga ditujukan untuk mendorong mobilitas para lulusan perguruan tinggi ke semua sektor profesi dan bidang kerja, dan pengadaan fasilitas sistem pendidikan jarak jauh. Sehingga seorang lulusan sebuah perguruan tinggi, dapat menempuh pendidikan tingkat lanjutan pada bidang keahlian tertentu di beberapa universitas yang berbeda. Hal ini sangatlah penting saat ini mengingat beberapa proyek penelitian sekarang diselenggarakan secara lintas disiplin ilmu dan dari berbagai cabang keilmuan. 

Karena itu kami memandang penting dan amat mendesak untuk mendorong peningkatan mobilitas para lulusan perguruan tinggi sehingga masyarakat bisa menikmati pendidikan seumur hidup (lifelong learning), melalui  berbagai bentuk pendidikan yang disediakan oleh beberapa lembaga pendidikan tinggi dari mancanegara. Kami yakin bahwa model pendidikan seperti ini akan semakin meningkatkan kompetisi secara adil bagi para profesional muda (Young Professional) di negara-negara forum kerjasama ekonomi APEC. 

Begitupun, Global Future Institute menyadari bahwa pendidikan merupakan sistem yang tertutup, sehingga tidak semua negara-negara di forum APEC mendorong adanya pertukaran antar mahasiswa maupun dosen. Dan kalaupun ada, ada satu masalah yang cukup menghambat, yaitu terkait penguasaan bahasa negara bersangkutan sebagai medium ajar-mengajar. Belum lagi soal standarisasi dan harmonisasi kurikulum. Pada tataran ini, GFI merasa perlu adanya diskusi khusus mengidentifikasi masalah tersebut sekaligus solusi pemecahannya. 

Dalam rangka itu lah, kiranya menarik melakukan studi banding terhadap Rusia, dalam hal pengadaan fasiltias sistem pendidikan jarak jauh. Ini menarik mengingat Rusia merupakan negara yang sangat besar. Dari riset selintas yang berhasil dihimpun Tim Pengkaji APEC GFI, bagi rakyat Rusia yang bermukim di daerah-daerah terpencil sehingga tidak memungkinkan mendapat akses pendidikan tinggi melalui universitas-universitas yang berkualitas, maka sistem pendidikan jarak jauh dipandang sebagai satu-satunya sarana yang efektif untuk mendapatkan fasilitas pendidikan tinggi yang layak, sekaligus meningkatkan keahlian dan ketrampilannya. Menariknya lagi, fasilitas pendidikan bagi orang orang cacat juga mendapatkan fasilitas pendidikan yang cukup layak. 

Far-Eastern Federal University, Model Pendidikan Tinggi ala Rusia

Subyek yang cukup inspiratif yang kiranya layak jadi pertimbangan para pemangku kepentingan (Stakeholders) KTT APEC 2012-2013, adalah sebuah proyek ambisius yang berada dalam kendali dan pengelolaan Far-Eastern Federal University di Rusia. 

Subyek ini mencuat pertamakali pada waktu pertemuan para menteri pendidikan negara-negara forum APEC membahas peningkatan kerjasama pendidikan dan ilmu pengetahuan. Karena itu, GFI berpandangan sangatlah penting Indonesia menaruh perhatian khusus pada multi-campus university  berskala Asia Pasifik yang dikembangkan oleh Far-Eastern Federal University. 

Yang menarik dari gagasan Rusia tentang multi-campus university tersebut adalah, bahwa kerjasama antar kampus dari negara-negara forum APEC, merupakan model yang dapat memberikan akses pendidikan dan kurus kepada para mahasiswa  dalam berbagai disiplin ilmu dan bidang keahlian yang menjadi minat masing masing mahasiswa. Begitu menurut Tagir Khuziyatov, Dekan dari Fakultas Hubungan International Far-Eastern Federal University. 

Sekadar sebagai contoh, Rusia telah dipercaya untuk mewakili model pendidikan ala Far Eastern Federal University di Korea Selatan. Dan model Rusia ini, merupakan salah satu dari tiga pusat studi terbesar yang ada di Korea Selatan. Dan pusat studi ini dibangun melalui keputusan presiden Rusia pada 2009. Dan program pembangunan universitas ini ditujukan untuk meningkatkan pusat pendidikan dan ilmu pengetahuan berskala internasional. 

Model universitas ini akan mengadakan serangkaian studi tentang masalah-masalah kontemporer dunia saat ini. Beberapa prioritas yang akan dikaji adalah isu sumberdaya kelautan, teknologi alternatif, nano industry, bidang pengobatan (bio-medicine), dan kerjasama Rusia dengan beberapa negara di kawasan Asia Pasifik. 

Sebagai prakarsa Rusia, sudah dibahas pada pertemuan-pertemuan para pejabat Senior APEC di St Petersburg pada Desember 2011. Bahkan awal tahun ini, sudah disetujui pada Konferensi The Association of Pacific Universities. Karena itu Indoenesia sudah seharusnya mencermati prakarsa Rusia ini, yang menurut rencana Rusia akan mempresentasikan rencana konseptual multi-campus university ini di hadapan para kepala-kepala negara pada KTT APEC September 2012 mendatang. 

Maka itu, terkati dengan prakarsa Rusia melalui Far-Eastern Federal University tersebut, GFI memberi apresiasi yang setinggi-tingginya terhadap pesatnya pembangunan universitas tersebut. Dan sudah selayaknya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan maupun para pemangku kepentingan pendidikan tinggi di Indonesia, mempertimbangkan model pendidikan tinggi ala Rusia ini sebagai inspirasi. 



Artikel Terkait
» Geliat Asimetris AS dalam KTT APEC-2013: Hancurkan Industri Rokok dan Farmasi di Indonesia!
» GFI Sambut Baik Dimasukkannya Beberapa Poin Penting Perumusan Desain Besar Kebijakan Luar Negeri RI
» Beberapa Isu Strategis Yang Perlu Dirumuskan Menyusul Pertemuan Para Menteri Perdagangan di Rusia 4-5 Juni 2012
» POINTERS ISU AKTUAL MASALAH HANKAM DAN PERBATASAN
» KTT APEC 2013: MOMENTUM KEBANGKITAN KEMBALI POLITIK LUAR NEGERI BEBAS AKTIF RI
» Asisten Deputi Hubungan Internasional, Kedeputian Politik, SETWAPRES Mengundang Global Future Institute (GFI) Hadiri Diskusi Terbatas dengan tema ”Identifikasi Permasalahan dalam Perumusan Desain Besar tentang Kebijakan Luar Negeri RI”
» GLOBAL FUTURE INSTITUTE BENTUK Tim PENGKAJI PERAN INDONESIA PADA KTT APEC 2013 Di Bali



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Malaysia, Sarang Baru Perdagangan Narkoba di Asia Tenggara?
Terbetik kabar, Malaysia sekarang jadi sarang jual beli narkoba di Asia Tenggara. Karakterisitiknya maupun pencitraannya sebagai negara Religius Islam, sepertinya jadi samaran yang sempurna buat dijadikan ...

BRICS, G-2O, dan IMF

Mengkaji Hubungan Strategis Rusia – Indonesia dari Perspektif Geopolitik (Bag-1)

Saatnya Menoleh ke Rusia Bagi Kepentingan Strategis Indonesia

Bom Boston dan Aksi Destabilisasi AS di kawasan Heartland dan Caucasus

Indonesia, Rusia dan Cina Harus Galang Kerjasama Bendung Skema TPP Amerika Serikat di Asia Pasifik

Lihat lainya »
   Arsip
Menlu Rusia: Militan di Suriah Tidak Komitmen dengan Perdamaian

Isreal Siap Serang Suriah

50 Tahun Uni Afrika, Dubes Zimbabwe Acungkan Jempol ke RI

Susahnya Hambat Pelarian Pajak dan KTT Uni Eropa di Brussel

Kepentingan AS dalam Bom Boston

Paradoks Indonesia Ditengah Kebangkitan Ekonomi Asia Abad 21

Inilah 8 Balon Pilpres Iran yang Lolos Uji Kelayakan

TNI Terima Penghargaan Pelestarian Hutan dan Konservasi dari Menhut RI

Kesenian Angklung Meriahkan HUT ke-57 AB Maroko di Kongo

Uni Eropa Cantumkan Hizbullah dalam List Kelompok Teroris

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang : Dina Y. Sulaeman
PRAHARA SURIAH

“Hasil perang ini tidak hanya berpengaruh bagi masa depan Suriah. Situasi di Suriah telah membagi dua dunia. Ini adalah konflik internal yang membawa konsekuensi global.”

Demikian narasi sebuah film dokumenter Rusia karya Proddubniy, dkk. Konflik Suriah melibatkan sangat banyak ‘pemain’, mulai dari Sekjen PBB, para presiden dari AS, Inggris, Prancis, Turki, raja-raja Arab, pasukan Suriah, pasukan jihad, hingga para pengguna internet. Inilah era Facebook, Twitter, dan blog. Kelompok oposisi Suriah membuat sangat banyak rekaman video amatir dan disebarluaskan di internet. Para blogger antiperang pun memberikan ‘serangan’ balasan. Informasi bertaburan dan bersilangsengkarut. Ibarat menyusun puzzle, inilah puzzle yang terlihat rumit. Posisi masing-masing kepingannya sulit diidentifikasi.

Buku ini telah menyusun kepingan puzzle itu, supaya kita semua dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari konflik Suriah. Karena, kejelian dan kecerdasan dalam mencermati konflik akan menghindarkan bangsa Indonesia dari perang saudara atau konflik yang tak perlu.

Lihat Lainnya »