» Paradoks Indonesia Ditengah Kebangkitan Ekonomi Asia Abad 21 » Bila Tidak Ada Visi, G-20 Merupakan Penjara Bagi Indonesia » PKS, Kita, dan Perkembangan Terbaru di Syria » Rontoknya Teori Polisi Dunia! (Bag-2/Habis) » Rontoknya Teori Polisi Dunia! (Bag-1)


Artikel Pilihan
02-07-2012
Saatnya Bagi Indonesia Mendirikan Konsulat Jenderal di Vladivostok
Penulis : Rusman dan Ferdiansyah Ali, Tim Pengkaji APEC 2012-2013

Para pemangku kepentingan dalam kebijakan luar negeri Indonesia sudah saatnya memandang Vladivostok sebagai wilayah yang bernilai cukup strategis dalam beberapa waktu ke depan.  Berpenduduk 800 ribu jiwa, Vladivostok saat ini merupakan pusat transportasi yang cukup sibuk. Apalagi dengan adanya jalur perkereta-apian Trans-Siberian Railway yang membentang antara Moskow, ibu kota Republik Federasi Rusia, menuju Vladivostok sebagai bagian dari kawasan Timur Jauh Rusia. 


Bahkan melalui Vladivostok, ternyata hanya cukup  menempuh beberapa jam perjalanan lewat udara, menuju Asia Utara. Tak berlebihan jika Vladivostok dipandang sebagai “Pintu Masuk” Rusia menuju Asia Pasifik. Dengan begitu, sebagai kota terbesar di Timur Jauh Rusia, Vladivostok cukup kondusif untuk menjadikan dirinya sebagai kota pusat pembangunan dan pengembangan ekonomi maupun wilayah yang terintegrasi ke dalam ekonomi global. 

Apalagi fakta bahwa saat ini Vladivosotok juga sedang giat-giatnya mengembangkan infrastruktur pelabuhan-pelabuhan modern, sehingga bisa melayani kapal-kapal nelayan dan kapal-kapal perdagangan dari berbagai negara. Karena itu tak mengherankan jika Vladivostok memiliki jalur lalu-lintas laut yang terhubung dengan pelabuhan-pelabuhan di Cina, Jepang, Australia, Korea dan beberapa negara lainnya. 

Menariknya lagi, beberapa kapal kontainer yang berasal dari Asia, kemudian bergerak menuju Eropa Barat, maupun sebaliknya, dengan memanfaatkan Trans-Siberian Railway tersebut.  

Bukan itu saja. Vladivostok pun sudah harus dipandang sebagai pusat kebudayaan yang mewakili budaya Eropa maupun kawasan timur Asia. Karena itu tidak mengherankan jika Vladivostok dipandang sebagai kota kosmopolitan yang masih dipengaruhi oleh aura kejayaan eropa  pada masa silam.  

Selain itu Vladivostok  juga terkenal dengan sumber kekayaan lautnya seperti Ikan Laut. Selain itu kota ini juga menyediakan fasilitas perbaikan kapal, lembaga-lembaga pendidikan, dan beberapa pelabuhan yang bekerjasama dengan beberapa kota di kawasan Asia Pasifik. 

Maka gagasan untuk tukar-menukar  berbagai keunggulan Vladivostok dengan beberapa kota di kawasan Asia Pasifik, sangat diharapkan oleh pihak Rusia menyusul momentum Rusia sebagai Tuan Rumah pada KTT APEC September 2012 mendatang.  Dan Indonesia, harus mempertimbangkan hal ini sebagai peluang yang cukup besar  untuk semakin meningkatkan kerjasama strategis dengan Rusia atas dasar kesetaraan dan saling menguntungkan. 

Yang tak kalah penting, saat ini Vladivostok telah menjadi pusat aktivitas diplomatik dari beberapa negara, dan karenanya  mereka telah mendirikan konsul atau bahkan konsulate jenderal di kota tersebut. Beberapa di antaranya adalah:

1.  The Republic of India-konsulat jenderal

2.  The United States of America-konsulat jenderal

3.  The Republic of Korea, konsulat jendral

4.  Japan, konsulat jendral

5.  The Socialist Republic of Vietnam

6.  The People’s Republic of China

7.  Ukraine, konsulat jendral

8.  The Democratic People’s Republic of Korea, 

9.  The Commonwealth of Australia, konsulat

10. Canada, konsulat

11. The Republic of Armenia

12. The People’s Republic of Bangladesh

13. The United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland, konsul kehormatan

14. New Zealand, konsul kehormatan

15. The Kingdom of Thailand, konsul kehormatan

16. The Republic of Philippines, konsul jendral kehormatan

17. The Republic of Chili, konsul kehormatan. 

Karena itu, dengan melihat perkembangan pesat Vladivostok sebagai kota pusat perekonomian maupun budaya, sudah saatnya bagi Kementerian Luar Negeri kita untuk mendirikan konsulat atau bahkan jika dimungkinkan, konsulat jenderal. 

Posisi strategis Vladivostok sebagai Pintu Masuk ke kawasan Asia Pasifik pada perkembangannya telah dipandang oleh berbagai kalangah pakar  politik internasional sebagai wilayah yang cukup strategis di kawasan Timur Jauh Rusia.  



Artikel Terkait
» Indonesia Perlu Pertimbangkan Far Eastern Federal University Sebagai Model Kerjasama Pendidikan Tinggi Berskala Asia Pasifik
» Geliat Asimetris AS dalam KTT APEC-2013: Hancurkan Industri Rokok dan Farmasi di Indonesia!
» GFI Sambut Baik Dimasukkannya Beberapa Poin Penting Perumusan Desain Besar Kebijakan Luar Negeri RI
» POINTERS ISU AKTUAL MASALAH HANKAM DAN PERBATASAN
» KTT APEC 2013: MOMENTUM KEBANGKITAN KEMBALI POLITIK LUAR NEGERI BEBAS AKTIF RI
» GLOBAL FUTURE INSTITUTE BENTUK Tim PENGKAJI PERAN INDONESIA PADA KTT APEC 2013 Di Bali



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Malaysia, Sarang Baru Perdagangan Narkoba di Asia Tenggara?
Terbetik kabar, Malaysia sekarang jadi sarang jual beli narkoba di Asia Tenggara. Karakterisitiknya maupun pencitraannya sebagai negara Religius Islam, sepertinya jadi samaran yang sempurna buat dijadikan ...

BRICS, G-2O, dan IMF

Mengkaji Hubungan Strategis Rusia – Indonesia dari Perspektif Geopolitik (Bag-1)

Saatnya Menoleh ke Rusia Bagi Kepentingan Strategis Indonesia

Bom Boston dan Aksi Destabilisasi AS di kawasan Heartland dan Caucasus

Indonesia, Rusia dan Cina Harus Galang Kerjasama Bendung Skema TPP Amerika Serikat di Asia Pasifik

Lihat lainya »
   Arsip
PM Palestina Menyambut Pembebasan Pasukan Mesir

Assad: Suriah Tegas untuk Melawan Teroris

Aliansi Oposisi Suriah Mulai Perundingan Tiga Harinya di Istanbul

Iran Menentang Pangkalan Militer AS di Afghanistan

Indonesia Akan Hadiri Special Anniversary of Golden Jubilee Uni Afrika

Lagi, Pusat Kebudayaan Indonesia Dibuka di RRT

Bentrokan di Tripoli Berlanjut, Korban Tewas Meningkat

Indonesia Dorong D-8 Perkuat Profil Dalam Kerja Sama Internasional

Pilpres Iran di Mata Institusi Amerika Serikat

Menlu Rusia: Militan di Suriah Tidak Komitmen dengan Perdamaian

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang : Dina Y. Sulaeman
PRAHARA SURIAH

“Hasil perang ini tidak hanya berpengaruh bagi masa depan Suriah. Situasi di Suriah telah membagi dua dunia. Ini adalah konflik internal yang membawa konsekuensi global.”

Demikian narasi sebuah film dokumenter Rusia karya Proddubniy, dkk. Konflik Suriah melibatkan sangat banyak ‘pemain’, mulai dari Sekjen PBB, para presiden dari AS, Inggris, Prancis, Turki, raja-raja Arab, pasukan Suriah, pasukan jihad, hingga para pengguna internet. Inilah era Facebook, Twitter, dan blog. Kelompok oposisi Suriah membuat sangat banyak rekaman video amatir dan disebarluaskan di internet. Para blogger antiperang pun memberikan ‘serangan’ balasan. Informasi bertaburan dan bersilangsengkarut. Ibarat menyusun puzzle, inilah puzzle yang terlihat rumit. Posisi masing-masing kepingannya sulit diidentifikasi.

Buku ini telah menyusun kepingan puzzle itu, supaya kita semua dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari konflik Suriah. Karena, kejelian dan kecerdasan dalam mencermati konflik akan menghindarkan bangsa Indonesia dari perang saudara atau konflik yang tak perlu.

Lihat Lainnya »