» Paradoks Indonesia Ditengah Kebangkitan Ekonomi Asia Abad 21 » Bila Tidak Ada Visi, G-20 Merupakan Penjara Bagi Indonesia » PKS, Kita, dan Perkembangan Terbaru di Syria » Rontoknya Teori Polisi Dunia! (Bag-2/Habis) » Rontoknya Teori Polisi Dunia! (Bag-1)


Hankam
02-07-2012
Kontingen IMT Indonesia Pantau Proses Damai di Filipina Selatan

Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI Yohanes Kristiarto S. Legowo, secara resmi menerima Kontingen Tim Pengamat Internasional (IMT) Indonesia dalam rangka memantau proses perjanjian damai antara Pemerintah Filipina dengan Moro Islamic Liberation Front (MILF) di KBRI Manila, Minggu (1/7/2012).  Indonesia mengirimkan 15 orang pengamat yang terdiri dari 10 personel militer dan 5 personel sipil dibawah pimpinan Kolonel Inf Khairully.      


Acara penyambutan tersebut dihadiri oleh seluruh Home Staff KBRI Manila, Athan RI Manila Kolonel Laut Djakaria P. Girsang, Hon. Secretary Teresitha Quintos Deles, Kepala Kantor Penasihat Kepresidenan untuk Proses Perdamaian (OPPAP) Filipina dan Usec. Yasmin Busran Lao, anggota Panel Perdamaian GPH-MILF (Wakil dari GPH).
 
Selama kurun waktu pelaksanaan IMT sampai saat ini, Perwakilan Tim Pengamat Internasional Indonesia merupakan delegasi yang pertama kalinya yang diserahkan secara resmi oleh Dubes LBBP RI  sebagai Perwakilan Pemerintah RI dan diterima langsung oleh Perwakilan Pemerintah Filipina Hon. Secretary Teresitha Quintos Deles.
 
Tim Pengamat Internasional Indonesia tiba di Manila pada tanggal 30 Juni 2012, selanjutnya akan diberangkatkan ke Cotabato City pada tanggal 2 Juli 2012 dengan didampingi oleh Duta Besar LBBP RI, Athan RI Manila Kolonel Laut Djakaria P. Girsang, Hon. Secretary Teresitha Quintos Deles, Kepala Kantor Penasihat Kepresidenan untuk Proses Perdamaian (OPPAP) Filipina dan Usec. Yasmin Busran Lao, anggota Panel Perdamaian GPH-MILF (Wakil dari GPH)
 
Duta Besar LBBP RI Yohanes Kristiarto S. Legowo secara resmi akan mengantar Tim Pengamat Internasional Indonesia kepada Ketua IMT (Head of Mission/HOM) Mayjend Dato’ Abdul Rahim Bin Hj Mohd Yusuff, pada tanggal 2 Juli 2012 di Markas Pusat IMT.
 
Selanjutnya Tim Pengamat Internasional Indonesia akan melaksanakan Latihan Pengenalan (Induction Trainning) selama satu minggu sebelum ditugaskan di “Tim Site” masing-masing.
 
Authentikasi :

Atase Pertahanan RI Manila, Kolonel Laut Djakaria P. Girsang


Sumber :Puspen TNI
Artikel Terkait
» TNI Siapkan Satgas IMT ke Philipina Selatan



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Malaysia, Sarang Baru Perdagangan Narkoba di Asia Tenggara?
Terbetik kabar, Malaysia sekarang jadi sarang jual beli narkoba di Asia Tenggara. Karakterisitiknya maupun pencitraannya sebagai negara Religius Islam, sepertinya jadi samaran yang sempurna buat dijadikan ...

BRICS, G-2O, dan IMF

Mengkaji Hubungan Strategis Rusia – Indonesia dari Perspektif Geopolitik (Bag-1)

Saatnya Menoleh ke Rusia Bagi Kepentingan Strategis Indonesia

Bom Boston dan Aksi Destabilisasi AS di kawasan Heartland dan Caucasus

Indonesia, Rusia dan Cina Harus Galang Kerjasama Bendung Skema TPP Amerika Serikat di Asia Pasifik

Lihat lainya »
   Arsip
Malaysia, Sarang Baru Perdagangan Narkoba di Asia Tenggara?

Ada Skema Besar Yang Dimainkan Dalam Kasus Impor Daging Sapi

Yang Harus di Reformasi Sesungguhnya Pola Kepemimpinan Sentralistik

Inspirasi Telur Busuk, Wisnu Harumkan Nama Indonesia

World Bank Ingatkan, China Adalah Bom Waktu

Pekerja seks PD II diperlukan, kata Hashimoto

Korsel Salahi Kontrak Pembuatan Kapal Selam Dengan Indonesia

Presiden Afghanistan Inginkan Bantuan Militer dari India

Presiden Afghanistan Inginkan Bantuan Militer dari India

Segera Terbit: The Global Review Quarterly Edisi Ketiga, Mei 2013

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang : Dina Y. Sulaeman
PRAHARA SURIAH

“Hasil perang ini tidak hanya berpengaruh bagi masa depan Suriah. Situasi di Suriah telah membagi dua dunia. Ini adalah konflik internal yang membawa konsekuensi global.”

Demikian narasi sebuah film dokumenter Rusia karya Proddubniy, dkk. Konflik Suriah melibatkan sangat banyak ‘pemain’, mulai dari Sekjen PBB, para presiden dari AS, Inggris, Prancis, Turki, raja-raja Arab, pasukan Suriah, pasukan jihad, hingga para pengguna internet. Inilah era Facebook, Twitter, dan blog. Kelompok oposisi Suriah membuat sangat banyak rekaman video amatir dan disebarluaskan di internet. Para blogger antiperang pun memberikan ‘serangan’ balasan. Informasi bertaburan dan bersilangsengkarut. Ibarat menyusun puzzle, inilah puzzle yang terlihat rumit. Posisi masing-masing kepingannya sulit diidentifikasi.

Buku ini telah menyusun kepingan puzzle itu, supaya kita semua dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari konflik Suriah. Karena, kejelian dan kecerdasan dalam mencermati konflik akan menghindarkan bangsa Indonesia dari perang saudara atau konflik yang tak perlu.

Lihat Lainnya »