» Paradoks Indonesia Ditengah Kebangkitan Ekonomi Asia Abad 21 » Bila Tidak Ada Visi, G-20 Merupakan Penjara Bagi Indonesia » PKS, Kita, dan Perkembangan Terbaru di Syria » Rontoknya Teori Polisi Dunia! (Bag-2/Habis) » Rontoknya Teori Polisi Dunia! (Bag-1)


Internasional
03-07-2012
Ancaman Iran Menutup Selat Hormuz
Iran Akan Balas Sanksi dengan Menutup Selat Hormuz

Seorang anggota parlemen Republik Islam Iran mengatakan bahwa parlemen akan menyusun rencana ganda yang urgen untuk menutup Selat Hormuz guna merespon sanksi Uni Eropa terhadap industri minyak negara itu.


Ebrahim Aqa Mohammadi pada Senin (2/7) mengatakan, "Komite Majlis Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Iran telah menyusun rencana untuk memblokir kapal tanker pembawa minyak melalui Selat Hormuz yang menuju ke negara-negara yang menjatuhkan sanksi terhadap Iran."

Ia menambahkan, program tersebut telah dikodifikasikan untuk menanggapi sanksi yang dikenakan pada minyak Iran oleh 27 negara anggota Uni Eropa.

Selat Hormuz adalah perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia di sebelah barat sampai ke Laut Oman.

Selat tersebut merupakan salah satu jalur yang paling penting di dunia pelayaran, dengan arus sekitar 15 juta barel minyak perhari.


Para menteri luar negeri Uni Eropa di bawah tekanan AS pada tanggal 23 Januari menyetujui sanksi baru terhadap Tehran untuk mencegah negara-negara anggota blok ini membeli minyak mentah Iran atau melakukan bisnis dengan Bank Sentral Iran serta membekukan aset negara tersebut di seluruh negara Uni Eropa. Sanksi mulai berlaku pada Ahad, 1 Juli.

Embargo tersebut dimaksudkan untuk menekan Iran atas program nuklirnya, yang diklaim AS, Israel dan sekutunya memiliki aspek militer.

Tehran berulang kali membantah tuduhan itu dengan alasan bahwa sebagai penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan anggota Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Iran memiliki hak untuk menggunakan teknologi nuklir untuk tujuan sipil. (IRIB Indonesia/RA)


Sumber :Iran Indonesian Radio
Artikel Terkait
» The Guardian: Iran Melawan Sanksi dengan Cadangan Devisanya
» China Daily: AS Tidak Ingin Isu Nuklir Iran Terselesaikan
» Serangan Cyber ke Kementerian Perminyakan Iran Berasal dari AS
» Senat AS Setujui Sanksi-Sanksi Terhadap Iran
» Analis: Isu Nuklir, Alat Barat untuk Melumpuhkan Iran



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Malaysia, Sarang Baru Perdagangan Narkoba di Asia Tenggara?
Terbetik kabar, Malaysia sekarang jadi sarang jual beli narkoba di Asia Tenggara. Karakterisitiknya maupun pencitraannya sebagai negara Religius Islam, sepertinya jadi samaran yang sempurna buat dijadikan ...

BRICS, G-2O, dan IMF

Mengkaji Hubungan Strategis Rusia – Indonesia dari Perspektif Geopolitik (Bag-1)

Saatnya Menoleh ke Rusia Bagi Kepentingan Strategis Indonesia

Bom Boston dan Aksi Destabilisasi AS di kawasan Heartland dan Caucasus

Indonesia, Rusia dan Cina Harus Galang Kerjasama Bendung Skema TPP Amerika Serikat di Asia Pasifik

Lihat lainya »
   Arsip
Malaysia, Sarang Baru Perdagangan Narkoba di Asia Tenggara?

Ada Skema Besar Yang Dimainkan Dalam Kasus Impor Daging Sapi

Yang Harus di Reformasi Sesungguhnya Pola Kepemimpinan Sentralistik

Inspirasi Telur Busuk, Wisnu Harumkan Nama Indonesia

World Bank Ingatkan, China Adalah Bom Waktu

Pekerja seks PD II diperlukan, kata Hashimoto

Korsel Salahi Kontrak Pembuatan Kapal Selam Dengan Indonesia

Presiden Afghanistan Inginkan Bantuan Militer dari India

Presiden Afghanistan Inginkan Bantuan Militer dari India

Segera Terbit: The Global Review Quarterly Edisi Ketiga, Mei 2013

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang : Dina Y. Sulaeman
PRAHARA SURIAH

“Hasil perang ini tidak hanya berpengaruh bagi masa depan Suriah. Situasi di Suriah telah membagi dua dunia. Ini adalah konflik internal yang membawa konsekuensi global.”

Demikian narasi sebuah film dokumenter Rusia karya Proddubniy, dkk. Konflik Suriah melibatkan sangat banyak ‘pemain’, mulai dari Sekjen PBB, para presiden dari AS, Inggris, Prancis, Turki, raja-raja Arab, pasukan Suriah, pasukan jihad, hingga para pengguna internet. Inilah era Facebook, Twitter, dan blog. Kelompok oposisi Suriah membuat sangat banyak rekaman video amatir dan disebarluaskan di internet. Para blogger antiperang pun memberikan ‘serangan’ balasan. Informasi bertaburan dan bersilangsengkarut. Ibarat menyusun puzzle, inilah puzzle yang terlihat rumit. Posisi masing-masing kepingannya sulit diidentifikasi.

Buku ini telah menyusun kepingan puzzle itu, supaya kita semua dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari konflik Suriah. Karena, kejelian dan kecerdasan dalam mencermati konflik akan menghindarkan bangsa Indonesia dari perang saudara atau konflik yang tak perlu.

Lihat Lainnya »