» Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah » Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina » Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif » Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat


Isu Hangat
05-07-2012
Pernyataan Sikap Global Future Institute (GFI) tentang Upaya Asing Hancurkan Industri Rokok dan Petani Tembakau di Indonesia

Berdasarkan hasil diskusi terbatas yang diselenggarakan oleh tim kajian GFI Rabu 4 Juli 2012, kami  berpendapat bahwa maraknya gejolak dan keresahan sosial di masyarakat khususnya stakeholders (pemangku kepentingan) dunia rokok adalah terkait rencana pemerintah memberlakukan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Dampak Tembakau. 


Fakta, Data dan Kronologi: 

(1)  Keputusan WTO 2002 perihal tembakau langsung diadopsi oleh Indonesia tanpa ratifikasi sama sekali. Padahal pada saat yang sama Cina dan India, sebagai kelompok tiga besar negara penghasil tembakau di dunia melakukan ratifikasi atas keputusan WTO guna melindungi produk tembakau dan rokok di dalam negeri masing-masing.

(2) Catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2008  menyebut, ada 68-an juta perokok aktif di Indonesia. Diperkirakan sekarang mencapai 70 juta menghabiskan sekitar 250 miliar batang rokok per tahun. Dan diperkirakan terus akan meningkat setiap tahunnya. Dengan demikian Indonesia merupakan pasar menggiurkan bagi industri-industri rokok di dunia. 

(3) Saat ini Amerika Serikat (AS) sebagai salah satu economic powers di Indonesia tengah gencar mengembangkan asymmetric strategy (asimetris/non militer) dibanding manuver simetris (militer)-nya, meski eksistensi gerakan militer masih mengemuka hingga kini. Entah sebab apa, tampaknya ia lebih mengkedepankan strategi asimetris daripada gerakan simetris yang cenderung terbuka, high cost dan perlu “restu” internasional;  sedang sifat asimetris yang cerdas bisa bermain di bawah dan ke atas, atau baik mengurai hilir maupun mengobrak-abrik hulu. Watak asimetris  adalah melemahkan bahkan menghancurkan pilar-pilar ekonomi suatu negara bangsa melalui gerakan massa, mengadu-domba elemen bangsa, mengacak-acak sistem informasi, bahkan mengubah tatanan aturan dan perundang-undangan suatu negara agar berpihak dengan kepentingannya.

(4) Gencarnya isu pembatasan ruang, kampanye anti dan fatwa haram rokok yang didanai jutaan dolar Amerika dari Bloomberg Initiative kepada organisasi massa (Ormas), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Pemerintah Daerah/Kementerian, Universitas Negeri dan lembaga-lembaga lain, jelas merupakan serangan asimetris asing di tataran hilir dengan menggunakan “pemain lokal”, sedang serangan ke hulu (sistem) ialah operasionalisasi  RPP Dampak Tembakau di Indonesia.

(5) Salah satu motivasi terlihat jelas, pertama mematikan industri rokok dan tembakau, kedua mengangkat industri farmasi milik asing melalui produk-produk farmasi seperti permen karet nikotin, koyok transdermal, habitrol, semprot hidung, obat hirup dan lainnya.

(6) Merujuk perhitungan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, bila diberlakukan RPP tersebut diperkirakan ada 500.000 orang terkena PHK, bahkan sumber lain menyatakan dampaknya justru lebih parah lagi yaitu mematikan sekitar 30-an juta para pemangku kepentingan di dunia rokok.  

Dengan merujuk hal-hal di atas, maka kami dari GFI menyatakan keprihatinan mendalam atas “bencana” sosial dan ekonomi di Indonesia pada umumnya, dan industri rokok serta petani tembakau pada khususnya.  

Kami dari GFI menyatakan sikap:

(1) Bahwa gejolak dan keresahan sosial di masyarakat dengan akan diberlakukan RPP Dampak Tembakau jangan dianggap sekedar efek dari “perang dagang” semata, karena sesungguhnya secara sistematis merupakan gerakan asimetris asing yang hendak menyerang sistem ekonomi Indonesia. Ungkapan perang dagang adalah pendangkalan ancaman yang bertujuan menggiring opini publik agar bersifat apatis dan masa bodoh. 

(2) Kepada LSM, Ormas, Pemda dan Kementrian terkait, serta lembaga-lembaga lain yang telah menerima dana dari Bloomberg Initiative ---apapun alasannya--- hendaknya menyadari kekhilafan tersebut, bahwa selama ini telah menjadi bagian asimetris asing yang bertujuan melemahkan bahkan menghancurkan perekonomian bangsa sendiri dari sisi internal.

(3) Kepada para delegasi dan korps diplomat yang berada dalam naungan Kementerian Luar Negeri dan kementerian-kementerian terkait lainnya, hendaknya senantiasa berpijak, berorientasi dan memperjuangkan KEPENTINGAN NASIONAL dalam forum-forum apapun, dengan merujuk pada Tujuan Nasional sebagai bunyi dalam Pembukaan UUD 1945, yang intinya  1) melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, 2) mencerdaskan kehidupan bangsa, dan 3) memajukan kesejahteraan umum dan lainnya.

(4) Kepada para elit politik, anggota DPR, Kementrian terkait  dan para pengambil kebijakan di republik ini kiranya membatalkan RPP Dampak Tembakau karena niscaya bakal menimbulkan gejolak sosial dan ekonomi di masyarakat secara berkepanjangan, dan lebih jauh lagi justru meloloskan tujuan asimetris asing di Bumi Pertiwi.

(5) Sebagai catatan terakhir GFI, adanya data bahwa Indonesia Corruption Watch (ICW) pun ternyata juga menerima dana dari Bloomberg sebesar 45.470 dolar Amerika Serikat sejatinya  merupakan cermin bahwa serangan asimetris asing terhadap Indonesia adalah “satu komando”.

 

(Tim Perumus : Hendrajit, M. Arief Pranoto, Rusman, dan Ferdiansyah Ali)




 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Moon Jae-in Menjadi Presiden ke-19 Korea Selatan

Warga Korsel Pilih Presiden Baru

GFI Ingatkan 5 Poin Pesan Panglima TNI

Wapres Buka Peringatan Hari Pers Sedunia 2017

Top! Pelajar Indonesia Gelar Festival Budaya di Manchester

Kehadiran Kapal Induk Cina Terbaru Menuai Spekulasi

Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik

Kongres Ulama Perempuan di Cirebon Dihadiri oleh 15 Negara

Sekjen PBB Serukan Penyelesaian Politik bagi Krisis Yaman

China Luncurkan Kapal Induk Buatan Dalam Negeri

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »