» Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina » Antara Balkanisasi, Musuh Imajiner dan Pahlawan Fiktif » Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik » Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)


Hankam
29-11-2009
Jepang: Intelijen
Jepang berhasil Luncurkan Roket Pembawa Satelit Mata-Mata

Pemerintah Jepang, Sabtu (27/11) berhasil meluncurkan roket pembawa satelit ke luar angkasa. Roket buatan Jepang, H-2A ini membawa satelit ke luar angkasa untuk keperluan intelijen.


Menurut pejabat Jepang, Hisashi Michigami, roket pembawa satelit senilai US$565 juta ini berhasil diluncurkan dari Tanegashima. Michigami menambahkan, satelit tersebut akan mengumpulkan data intelijen untuk kepentingan pertahanan dan diplomasi Jepang. ”Pengumpulkan intelijen itu vital bagi keamanan nasional kami,” jelas Michigami.

Ditenggarai peluncuran roket tersebut didasari kekhawatiran Jepang atas progran nuklir Korea Utara. Pada tahun 1998, Korea Utara sempat menghebohkan Jepang dengan rudalnya yang melintasi Jepang dan mendarat di Samudera Pasifik.

Dalam beberapa tahun belakangan Jepang selalu mengandalkan bantuan Amerika Serikat untuk mendapatkan data intelijen. Baru di tahun 2003, Jepang berhasil meluncurkan dua satelit mata-mata. Roket H-2A meruapkan kali kelima bagi Jepang mengerahkan satelit ke luar angkasa untuk keperluan intelijen.

Michigami juga menjelaskan Jepang selama ini telah mengandalkan tiga satelit mata-mata. Namun satelit keempat, sejak 2007, tidak berfungsi dengan baik karena masalah elektrik. Sama seperti satelit lainnya, satelit yang dibawa roket H-2A ini akan bertugas di luar angkasa sekitar lima tahun. (AP/GFI)



Artikel Terkait
» TNI AL Beli 17 Tank Amphibi Buatan Rusia
» Korea Selatan Berencana Terapkan Dinas Militer Sukarela untuk Wanita
» Korea Selatan Serahkan 10 tank Amphibi kepada Indonesia
» Global Future Institute Mendesak Menteri Pertahanan Baru Segera Membeli Beberapa Kapal Selam Berteknologi Tinggi, Berkemampuan Canggih dan Harga Relatif Murah
» Meneropong Kekuatan Angkatan Laut Bersenjata Cina
» Pakistan Pasok Bolivia Enam Pesawat Jet Buatan Cina
» Jepang Luncurkan Kapal Induk Kedua
» Jepang Masih Menuntut Pulau Tok Sebagai Daerah Teritorial



 

Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
GFI Ingatkan 5 Poin Pesan Panglima TNI

Wapres Buka Peringatan Hari Pers Sedunia 2017

Top! Pelajar Indonesia Gelar Festival Budaya di Manchester

Kehadiran Kapal Induk Cina Terbaru Menuai Spekulasi

Membaca Pulau Reklamasi dari Perspektif Geopolitik

Kongres Ulama Perempuan di Cirebon Dihadiri oleh 15 Negara

Sekjen PBB Serukan Penyelesaian Politik bagi Krisis Yaman

China Luncurkan Kapal Induk Buatan Dalam Negeri

Pilkada Rasa Devide et Impera

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »