Dari Kacamata Intelijen, NAMRU-2 Merupakan Kejahatan Bio Terorisme

Bagikan artikel ini

Sony S, Perwira Intelijen dari Badan Intelijen Strategis (BAIS). Dipresentasikan dalam Seminar GFI  Bertajuk Strategi Mencegah Beroperasinya Kembali NAMRU-2 Gaya Baru di Indonesia.

Yang pertama dari kacamatan intelijen, Namru itu jahat. Karena apa? Dari pendeteksian kami, itu semua berkedok. Apa yang sudah dipaparkan oleh pemateri sebelumnya dalam seminar ini, memang itu benar semua adanya, bahwa operasi Namru adalah adalah operasi intelijen Amerika Serikat yang berkedok lembaga penelitian bidang kesehatan.

Untuk itu, tinggal kita sekarang dan bagaimana Indonesia sekarang menyikapinya. Dari kacamata intelijen, Namru ini adalah ancaman. Dalam hal ini ancaman yang dimaksud berupa intensitas dan, kapabilitas, akibat gerakan intelijen yang dihasilkan Namru ini. Memang, impact dari  Namru ini tidak bisa dirasakan sekarang, tapi 30 tahun kedepan misalnya. Akan tetapi, jika tak dari sekarang kita deteksi, maka akan berimbas kepada generasi Indonesia selanjutnya. Bisa nanti kita bayangkan, bagaimana anak cucu kita terjangkit penyakit-penyakit aneh.

Sebagai pengalaman, kami berkoordinasi dengan karantina tumbuhan di berbagai daerah yang kerap kali dikunjungi oleh peneliti atau turis-turis asing.

Dan mereka ini semua, menurut kami merupakan intelijen luar negeri yang sedang melakukan kerja-kerja intelijen dengan berbagai misi.

Dalam pengalaman lain lagi misalnya, operasi intelijen asing memang banyak di Indonesia. Semisal apa yang pernah kami dapatkan saat berkoordinasi dengan pihak Direktorat Imigrasi. Disana banyak sekali kami temukan kalau masuknya berbagai teknisi hingga periset luar negeri yang masuk ke Indonesia adalah bagian dari kegiatan intelijen.

Kembali lagi soal Namru ini, kita harus lakukan kerja deteksi sebagai langkah mewaspadai kalau operasi intelijen dari Namru ini muaranya kepada kejahatan Bio-Terorism. Apa yang dilakukan dari aktifitas Bio-Terorism itu seperti penyuntikan zat bahan kimia yang disebar di Danau misalnya. Dampak dari injeksi biology weapons memang tidak berimbas dalam jangka pendek, namun dapat kita rasakan daya rusaknya berpuluh tahun mendatang.

Dengan demikian, kita bersama harus mewaspadai berbagai kegiatan kerjasama yang dilakukan dengan pihak asing, baik dari kerjasama ekonomi, IPTEK hingga militer. Karena deteksi dan pengamatan kami beranggapan seperti ini. Apakah teknisi-teknisi yang berkerja di Freeport adalah teknisi sungguhan? Lalu apakah para periset yang sedang meneliti hutan di Indonesia adalah murni untuk kerja-kerja keilmuan semata? Untuk semua ini, alangkah baiknya kita sama-sama mawas diri dengan membangkitkan sense of intelligence

Facebook Comments