Demi Kemanusiaan dan Kedaulatan, Dunia Harus Pukul Balik AS dan Sekutunya

Bagikan artikel ini

Bayangkan sesaat jika dunia akan berdiri berbarengan karena muak dan lelah dengan kesombongan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya, termasuk di dalamnya NATO. Dunia ini, dunia kita, apa yang akan terjadi ketika dunia menepikan Washington dan sekutu-sekutu Brussels-nya, dengan, misalnya, memblokir setiap pengiriman barang ke pelabuhan-pelabuhan Amerika Serikat, seperti pelabuhan laut, bandara dan pelabuhan jalan. Kedap udara. Tidak ada yang masuk. Bayangkan pula bila dunia menyatakan berhenti melakukan eksport makanan, obat-obatan, barang elektronik, mobil dan lain-lain.

Hal yang sama juga berlaku untuk Israel. Jika dunia melakukan penyumbatan total dan menghentikan pengiriman barang, makanan, bahan bakar, obat-obatan. Tentu tindakan semacam ini benar-benar ilegal dan tidak dapat diterima oleh hukum internasional apa pun, oleh standar Piagam PBB, oleh Hukum dan Arahan Hak Asasi Manusia – oleh nilai-nilai etika moral manusia, bukan?

Namun, pertanyaannya, bukankah negera-negara seperti AS dan Isreal juga melakukan hal yang sama beberapa dekade. Lihat misalnya negara-negara yang menjadi sasaran amuk AS seperti Kuba, Venezuela, Bolivia; juga keterlibatannya dalam konflik yang terus berlangsung antara Israel dengan Palestina. Belum lagi paksaan dan pencekikan yang terus berlanjut, tanpa henti kepada negara-negara yang dianggap lemah dan memberikan ancaman bagi kepentingan nasionalnya.

Lihat misalnya embargo terlama – ilegal, tidak manusiawi dan kriminal langsung yang dijatuhkan Washington pada Kuba – 60 tahun. Karena Kuba telah memilih sosialisme sebagai bentuk negara dan pemerintahannya. Kuba selamat dan tidak akan pernah menyerah pada tiran di utara.

Sekarang AS memperluas palet pembunuhannya dengan impunitas untuk mendominasi dan menaklukkan negara demi negara yang mereka anggap tidak cukup untuk tunduk pada perintah tuan mereka. Venezuela telah menjadi target selama dua dekade, sejak mantan Presiden Hugo Chavez terpilih secara demokratis pada tahun 1998; dan Iran, sejak Shah yang diberlakukan AS digulingkan pada 1979 – tepatnya 40 tahun lalu – oleh Revolusi Islam Iran. Venezuela dan Iran kaya akan sumber daya alam, terutama hidrokarbon dan juga emas, tanah jarang, logam dan batu berharga lainnya.

Bertentangan dengan apa yang ingin dibayangkan, badan-badan dunia internasional, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi internasional terkait tetap diam membisu atas sikap agresif AS dan Israel. Ketika seorang pejabat tingkat tinggi menyampaikan beberapa kritik terhadap AS atau Israel dan sejenak viral menjadi “berita”, maka sejenak pula ia menghilang, seolah-olah itu tidak pernah terjadi. Dan memang, tidak ada yang terjadi. Mereka – AS dan Israel – melanjutkan kejahatan mereka tanpa dihukum.

Yang terbaru adalah deklarasi terbuka perang ekonomi oleh Washington, embargo total pada Venezuela; embargo sekarang diubah menjadi blokade laut. Langkah serupa juga diberlakukan pada Iran. Hal ini berarti bahwa tidak ada barang dagangan – tidak peduli seberapa penting untuk bertahan hidup, seperti makanan dan obat-obatan, diizinkan masuk ke Venezuela. Tiga hari yang lalu, AS menangkap secara ilegal sebuah kapal kargo yang berusaha mengirim makanan dan obat-obatan ke Venezuela – di Terusan Panama, wilayah yang tidak dimiliki atau dikuasai AS lagi. Bukankan tindakan AS itu dianggap sudah “membunuh” hak dasar kemanusiaan rakyat Vnezuela.

Kapal itu membawa kue kedelai, dari mana Venezuela menghasilkan makanan. Sudahlah, bahwa kargo sepenuhnya dibayar oleh Venezuela. Dan ini tampaknya hanya permulaan. Kapal yang meninggalkan Venezuela dengan pengiriman bensin ke negara-negara klien juga akan disumbat sehingga menyita, atau lebih tepatnya mencuri, sumber pendapatan utama Venezuela untuk bertahan hidup, memberi makan dan menyediakan perawatan kesehatan bagi rakyatnya. Padahal total lebih dari 130 miliar dolar AS aset Venezuela yang disita – dicuri – oleh AS di seluruh dunia.

Hampir. Ya, memang ada beberapa protes kolektif oleh negara-negara sebagai bagain dari solidaritas, seperti anggota kunci dari Forum Sao Paulo, serta lebih dari 60 anggota Gerakan Non-Blok (GNB – total 120 anggota) yang sangat aktif dalam beberapa tahun terakhir membela Venezuela di PBB. Protes dan deklarasi protes juga terjadi oleh anggota ALBA, aliansi perdagangan Amerika Latin (ALBA – Aliansi Bolivarian untuk Rakyat Amerika Kita, 11 anggota [Venezuela, Kuba, Bolivia, Nikaragua, Dominika, Ekuador, Antigua dan Barbuda, Saint Vincent dan Grenadines, Saint Lucia, Grenada dan Federasi Saint Kitts dan Nevis]).

Tetapi yang paling menarik adalah orang-orang hipokrit, mereka menulis dan berteriak bahwa rakyat Venezuela mati kelaparan, bahwa pemerintah Maduro mengabaikan rakyatnya. Namun, para penuduh ini bertteriak dalam kepalsuan dengan diam dan membisu meyuarakan tindakan jahat AS dan para sekutunya mencekik Venezuela dan mencuri aset-aset luar negerinya, termasuk cadangan asing dan emas, makanan dan impor orbat-obatan. Nyatanya, mereka hanya menjadi penonton.

Sebagai tambahan, Komisaris Hak Asasi Manusia, Madame Michelle Bachelet, adalah seorang hipokrit, yang baru-baru ini mengunjungi Venezuela, atas undangan Presiden Nicolas Maduro. Dalam misi Hak Asasi Manusia, Bachelet yang menyampaikan laporan tentang SDM Venezuela bertindak penuh kebohongan karena tidak menyebutkan telah terjadi upaya kudeta yang dimotori AS, oposisi yang didanai AS dan kekejaman berdarah yang dilakukan pada penduduk Chavista. Belum lagi upaya pencekikan dan kelaparan oleh AS dan Eropa. Bachelet sekarang maju ke depan mengecam blokade angkatan laut. Hebat. Tapi dia tidak menentang embargo mematikan oleh AS dan Uni Eropa. – Kredibilitas apa yang tersisa untuk Komisi Hak Asasi Manusia tersebut? – Dunia dapat melihatnya – semuanya dibeli, dipaksa untuk diserahkan, seperti banyak lembaga PBB lainnya oleh inkorporasi para pembunuh (Murderers Inc).

Jika kita tidak hati-hati, mereka akan segera menguasai dunia. Syukurlah, ada Rusia dan Cina – yang juga menjadi target sanksi AS-UE. Tapi kedua negara adidaya tersebut masih terlalu besar dan kuat untuk lawan oleh AS dan sekutu-sekutunya.

Demikian pula, Uni Eropa telah berbuat lalim selama ratusan tahun sebagai penjajah di Afrika, Asia dan Amerika Latin – dan terus dalam peran kolonial modern melalui kontrol ekonomi sebagian besar Afrika. Uni Eropa ini juga telah memberi sanksi kepada Venezuela selama bertahun-tahun atas perintah Washington, tentu saja, siapa lagi? – Sekarang mereka mengutuk blokade laut, tetapi melanjutkan rezim sanksi rutin mereka.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Ekonomi dan Kebijakan (CEPR) yang berbasis di Washington DC, di bawah bimbingan Mark Weisbrot, co-direktur CEPR dan Jeffrey Sachs, profesor ekonomi, Direktur Pusat Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Columbia, New York , Sanksi AS dan UE telah menelan korban sekitar 40.000 jiwa Venezuela. Ini terutama sejak Agustus 2017, ketika Washington meningkatkan tindakan koersif sepihak terhadap Venezuela dan perusahaan minyak negaranya, PDVSA, memotongnya dari pasar keuangan internasional.

Ya, dunia akan memiliki banyak alasan untuk berdiri melawan AS dan Israel. Jika keduanya terus didiamkan, maka tidak menutup kemungkinan, AS dan sekutu-sekutunya akan memberlakukan embargo semacam itu dalam skala jangka panjang yang tidak terbatas. Itu ilegal. Tapi kita hidup di dunia di mana hukum internasional tidak diperhitungkan – di mana hukum dibuat, saat kita pergi, oleh hegemon yang dideklarasikan sendiri, AS dan sekutu Timur Tengah simbiotiknya, Israel. Dengan demikian telah dan sepertinya akan terus berlangsung tatanan hukum, moral dan etika yang tidak seimbang. Saatnya dunia bersatu melawan segala bentuk ketidakadilan yang dilakukan oleh AS dan sekutu-sekutunya. Akankah itu terjadi? Ya, kita lihat saja nanti.

Sudarto Murtaufiq, Peneliti Senior Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments