AS Destabilisasi Kawasan Asia Tengah melalui Operasi Intelijen Bermodus Teror

Bagikan artikel ini

Diolah dari artikel Andrey Afanasyev di situs information clearing house berjudul:

Special Service’s Agent: Attack On Russia is Being Prepared

Catatan redaksi the global review: Nampaknya Amerika Serikat memandang dukungan Rusia dan Iran dalam krisis Suriah yang berkepanjangan sejak 2011 sampai sekarang merupakan ancaman yang cukup serius. Sedemikian seriusnya sehingga AS berencana menciptakan destabilisasi di Asia Tengah, Yang tujuan akhirnya adalah mengalihkan perhatian Rusia dan Iran dari krisis Suriah dan kawasan Timur Tengah. Informasi dan analisis dari Andrey Afanasyev berikut ini kiranya cukup menarik buat bahan kajian lebih mendalam.  

Membuktikan bahwa terorisme seringkali digunakan sebagai alat memicu ketegangan dan instabilitas politik pada sebuah negara atau kawasan. Dengan membangun stigma bahwa terorisme merupakan ulah dari kaum Islam radikal atau mahzab Islam tertentu. Padahal ini merupakan grand design yang dimainkan negara-negara besar seperti AS untuk destabilisasi kawasan seperti yang terjadi di Asia Tengah. Dengan mengorbankan citra umat Islam yang seolah-olah mendukung aksi kekerasan, kekejaman dan kebencian.

Ada informasi menarik yang berasal dari saluran komunikasi rahasia kementerian pertahanan Cina, Pakistan dan Afghanistan yang berhasil diakses oleh pihak keamanan Rusia. Bahwa saat ini sedang dipersiapkan sebuah operasi militer atau perang hibrida berskala luas terhadap Rusia, melalui Uzbekistan dan Tajikistan.   Adapun yang dimaksud perang hibrida adalah kombinasi antara serangan militer terbatas dan aksi terorisme.

Maka dalam sebuah konferensi yang baru-baru ini diselenggarakan di Taskhent, menteri luar negeri Tajikistan Sirodzhiddin Aslov menggulirkan informasiya diaktifkannya kembali aksi-aksi terorisme di kawasan Asia Tengah. Yang bergerak ke sebelah utara Afghanistan, khususnya ke daerah-daerah yang berbatasan secara langsung dengan Tajikistan.

Hal senada juga disuarakan oleh pihak intelijen Rusia pada sebuah konferensi mengenai keamanan internasional yang diselenggarakan di Rusia, yang mana saat ini ditengarai adanya sekitar 2500 sampai 4000 orang dari ISIS secara potensial siap diaktifkan. Informasi ini sudah mendapat konfirmasi sepenuhnya dari pihak kementerian pertahanan Cina. Bahkan pihak militer Cina mengklaim bahwa saat ini 3800 militant saat ini beroperasi di 150 sel-sel teroris. Mereka ini beroperasi di provinsi Nangarhar.

Disinilah para teroris yang tergabung dalam ISIS tersebut meningkatkan produksi Narkoba seraya membangun infrastruktur untuk pelatihan-pelatihan bagi para teroris. Maupun sarana perekrurtan warga masyarakat lokal untuk dijadikan para teroris. Bahkan para pimpinan ISIS tercatat sejak 2017 berhasil menambah sekitar 500 personil teroris dari luar negeri yang ditransfer dari Suriah dan Irak. Termasuk para wanita.

Mereka semua yang direkrut dipusatkan di provinsi Nangarhar, Mereka-mereka yang direkrut dari luar negeri itu berasal dari Sudan, Chechnya, dan Uzbekistan dan Prancis.   Menurut informasi, pergerakan ini akan diarahkan untuk melakukan penetrasi ke provinsi Nuristan dan Badakhshan, untuk selanjutnya ke Turkmenistan. Melalui provinsi Farah, Ghor, Sari Pul dan Faryab.

Celakanya, gubernur provinsi Nangarhar Gulab Mangal secara aktif membantu aksi teroris yang dimotori ISIS tersebut. Termasuk aktif dalam memberi bantuan keuangan. Nah menariknya, Gulanb Mangar punya hubungan histories yang panjang dengan komunitas intelijen Amerika Serikat. Sejak Amerika melalui badan intelijennya CIA membantu gerakan perlawanan bersenjata Afghanistan melawan pendudukan militer Uni Soviet. Ketika AS melakukan invasi pada 2001 dan berhasil menduduki Afghanistan, Gulab diangkat sebagai pemimpin lokal dari suku Pastun. Suku darimana Gulab berasal.

Bahkan media massa Barat seperti BBC London maupun beberapa media Amerika, sangat memandang positif sosok Gulab. Berdasarkan keterangan dari kementerian pertahanan Afghanistan, dalam waktu dekat kepemimpinan ISIS berencana untuk memperluas jaringan pengelompokkan ISIS dengan merekrut 1200 militan lagi.

Mereka akan dipusatkan di pronvinsi yang berada dalam kendali kekuasaan Gulab Mangal dan para pendukungnya. Dan bukan pula sebuah kebetulan ketika terbetik kabar pasukan Amerika Serikat disiagakan di provinsi Nangarhar.

Menurut pakar geopolitik Valery Korovin, AS dan sekutu-sekutunya memang bermaksud menciptakan aksi destabilisasi di kawasan Asia Tengah, yang sasaran akhirnya adalah ditujukan kepada Rusia. Adapun tujuan AS dengan menciptakan destabilisasi di Asia Tengah adalah untuk mengalihkan perhatian Rusia dan Iran dari Suriah. Kedua, jika operasi ini berhasil, maka instabilitas akan bisa semakin dipusatkan di sepanjang jalur maritime yang menjadi sasaran geopolitik Cina melalui proyek One Belt One Road.

Padahal jalur One Belt One Road Project tersebut bertujuan untuk memperkuat integrasi ekonomi dan logistik di kawasan Eropa-Asia.   Dengan makna lain, aksi-aksi terorisme yang sedang diaktifkan melalui Uzbekistan dan Tajikistan, sejatinya merupakan rangkaian yang terintegrasi dengan rencana strategis Amerika Serikat untuk menyerang Iran dan Rusia.

Facebook Comments