Diplomasi Masjid Indonesia-Arab Saudi, Upaya Mewujudkan Perdamaian Dunia

Bagikan artikel ini

Masjid menjadi elemen penting dalam diplomasi antara Indonesia dengan Arab Saudi. Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki lebih dari 800 ribu masjid dan musholla. Sedangkan Arab Saudi menjadi satu-satunya otoritas yang berwenang melayani dua tempat suci umat Islam, yakni Masjidil Haram di kota Mekah al Mukarramah dan Masjid Nabawi di Madinah al Munawwarah. Selain itu, terdapat pula Masjid Quba, dan Masjid Qiblatain di kota Madinah.

Sewaktu Kepala Negara Kerajaan Arab Saudi (KAS), Raja Salman bin Abdul Aziz al Saud, melakukan kunjungan kenegaraan ke Jakarta dan Bogor, sekaligus berlibur ke Denpasar pada 1-12 Maret 2017, terjadi diplomasi masjid antar kedua negara.

Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia (RI), Muhammad Jusuf Kalla, telah menggunakan posisinya sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI) sewaktu bertemu Raja Salman. Bahkan Wapres Kalla berhasil membuat Raja Salman terkejut sekaligus kagum terhadap Indonesia sebagai negara dengan masjid dan musholla terbanyak di dunia.

Kalau Raja Salman dikenal sebagai Khadimul Haramain atau Pelayan Dua Tanah Haram, maka Wapres Kalla adalah Ketua Umum PP DMI yang berkhidmat untuk melayani 800 ribu masjid dan musholla di seluruh Indonesia. Dengan gaya diplomasi seperti itulah Wapres Kalla memperkenalkan diri di depan Raja Salman.

Dampaknya, komunikasi antar kedua pemimpin negara berlangsung sangat hangat, akrab, dan bersahabat. Sedangkan isu bersama dalam pertemuan pada 3 Maret 2017 di Hotel Raffles, Jakarta, itu adalah masjid.

Menurut sensus penduduk Tahun 2010 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) RI, tercatat ada 207.176.162 penduduk Muslim di Indonesia. Angka ini mencapai 87,18 persen dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 237.641.326 jiwa.

Dampaknya, Indonesia memiliki kuota haji terbesar di dunia dengan jumlah 221.000 jamaah haji pada tahun 2018. Angka kuota haji ini ditentukan oleh pemerintah Arab Saudi sebagai negara pemegang otoritas Masjidil Haram. Hal ini sesuai dengan kesepakatan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Amman, Yordania, pada tahun 1987. OKI sepakat bahwa dari setiap 1.000 orang penduduk Muslim di suatu negara, hanya satu orang yang berkesempatan untuk menunaikan ibadah haji.

Dengan demikian, Indonesia dan Arab Saudi merupakan dua negara yang memiliki peranan penting di OKI dan Dunia Islam. Indonesia merupakan negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Indonesia juga menjadi negara dengan masjid dan musholla terbanyak di dunia. Bahkan Wakil Presiden RI juga mengemban amanat sebagai Ketua Umum PP DMI.

Sementara Arab Saudi merupakan negara yang berwenang melayani jamaah haji dan umrah dari seluruh dunia setiap tahun. Kota suci Mekah dan Madinah pun terletak di Arab Saudi. Bahkan Kepala Negara KAS bergelar Khadimul Haramain. Ia memimpin otoritas negara untuk melayani dua tanah suci umat Islam se-dunia, Mekah dan Madinah.

Selain itu, Indonesia dan Arab Saudi merupakan negara besar dan paling berpengaruh di Kawasan masing-masing. Indonesia berada di kawasan Asia Tenggara dan Arab Saudi berada di kawasan Teluk.

Dengan luas wilayah mencapai 1.910.931 Km2 (2/3 wilayah adalah lautan) dan memiliki 17.504 pulau, Indonesia berhak atas predikat negara kepulauan terbesar di dunia sekaligus negara terluas ke 13 di dunia. Apalagi posisi Indonesia sangat strategis, yakni terletak diantara Benua Asia dan Benua Australia serta diantara Samudera Hindia dan Pasifik.

Dampaknya, Indonesia menjadi negara paling berpengaruh di kawasan Asia Tenggara atau di lingkup negara-negara Association of South East Asian Nations (ASEAN). Bahkan kebijakan luar negeri Indonesia sangat berpengaruh terhadap dinamika politik luar negeri di Australia, Papua New Guinea, dan negara-negara Oceania lainnya.

Sedangkan Arab Saudi memiliki wilayah seluas 2.150.000 Km2, lebih luas dari Indonesia. Arab Saudi juga menjadi negara produsen sekaligus importir minyak bumi terbesar di dunia sehingga dikenal sebagai Petrodollar.

Menurut data De Golyer dan Mac Naughton pada 2019, Arab Saudi mengendalikan cadangan minyak bumi sebesar 268,5 miliar barel. Cadangan minyak ini terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Apalagi Arab Saudi memiliki perusahaan Arab-America Cooperation (ARAMCO), yakni perusahaan konsesi antara Arab Saudi dan Amerika Serikat yang bertugas mengeksplorasi dan memproduksi minyak bumi.

Dampaknya, Arab Saudi menjadi negara paling berpengaruh di Kawasan Teluk atau di lingkup negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC). Bahkan kebijakan luar negeri Arab Saudi dapat mempengaruhi dinamika politik luar negeri di Timur Tengah, negara-negara Liga Arab dan OKI, serta Amerika Serikat dan dunia.

Di sisi lain, Indonesia dan Arab Saudi merupakan dua dari hanya tiga negara anggota OKI yang menjadi anggota Group of Twenty (G-20) atau Kelompok Negara 20 Ekonomi Utama Dunia. Negara OKI lainnya yang menjadi anggota G-20 adalah Turki.

Menurut International Monetary Fund (IMF), Indonesia merupakan salah satu dari 10 negara yang paling menguasai (mendominasi) perekonomian dunia pada 2016. Sembilan negara lainnya ialah Cina, Amerika Serikat, India, Jepang, Jerman, Rusia, Brazil, Inggris, dan Perancis. Dengan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar US$ 3.027,83 miliar, Indonesia menyumbang 2,34 persen dari PDB dunia pada 2016.

Bahkan Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati, memprediksi bahwa Indonesia akan menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kelima di dunia pada tahun 2045.

Sedangkan Arab Saudi adalah negara yang berperan penting sekaligus menjadi pengendali utama atau Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC). Pada 2016, Arab Saudi mampu mengeksplorasi dan memproduksi minyak bumi sebesar 10.460.710 barel per hari di area seluas 2.149.690 Km2.  Bahkan negara berpenduduk 33.413.600 jiwa per 1 Januari 2018 itu sedang serius mempersiapkan Visi 2030.

Di bawah kepemimpinan Raja Salman dan Pangeran Mahkota Muhammad bin Salman, Arab Saudi ingin mengurangi ketergantungan ekonomi terhadap sektor minyak bumi. Caranya ialah dengan melakukan diversifikasi ekonomi secara besar-besaran dari sektor minyak bumi ke sektor jasa dan layanan umum (public service) seperti kesehatan, pendidikan, infrastruktur, dan pariwisata. Dengan modal dasar inilah Arab Saudi berpredikat sebagai salah satu dari 20 negara dengan ekonomi terkuat di dunia (G-20).

Lebih lanjut, Indonesia dan Arab Saudi juga memiliki kebijakan politik luar negeri yang sama terhadap Israel dan Palestina. Kedua negara tidak pernah membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Bahkan kedua negara secara tegas mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Negara Palestina secara de facto dan de jure.

Sebaliknya, Indonesia dan Arab Saudi tidak pernah membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Kedua negara tidak pernah mengakui eksistensi Israel secara de facto dan de jure.

Dampaknya, dari 57 negara anggota OKI, hanya empat negara yang hingga kini mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Israel, yakni Yordania, Mesir, Turki, dan Mauritania. Keempat negara itu juga membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Dengan demikian, Indonesia dan Arab Saudi merupakan dua negara besar yang beperan penting dan berpengaruh di Dunia Islam dan OKI, bahkan di tingkat global.

Indonesia dan Arab Saudi juga menjalin kerja sama erat di bidang sejarah dan budaya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Indonesia terpilih sebagai tamu kehormatan dalam Festival Janadriyah ke 33 di Riyadh, Arab Saudi. Festival sejarah dan budaya internasional terbesar di Timur Tengah ini berlangsung sejak 20 Desember 2018 hingga 9 Januari 2019.

Terpilihnya Indonesia menandai babak baru dalam hubungan bilateral kedua negara. Khususnya pasca kunjungan kenegaraan sekaligus liburan Raja Salman ke Indonesia bersama 1.500 rombongan kerajaan.

Dalam festival Janadriyah ke 33, Indonesia menempati paviliun sebesar 2.500 meter persegi. Bahkan diperkirakan sekitar 10 juta orang telah berjunjung ke Festival Janadriyah. Adapun Luas paviliun ini 10 kali lipat lebih besar dari paviliun India pada Festival Janadriyah ke 32. Saat itu, India juga menjadi tamu kehormatan.

Artinya, Indonesia memiliki posisi istimewa di mata Raja Salman, khususnya dalam hubungan kebudayaan dengan Arab Saudi. Apalagi penetapan Indonesia sebagai tamu kehormatan dilakukan melalui Dekrit Raja Salman pada September 2018.

Indonesia pun memiliki 1.340 suku bangsa dan sedikitnya 3.000 jenis tarian asli Indonesia menurut sensus penduduk pada tahun 2010 oleh BPS RI. Kondisi ini turut menjadi pertimbangan utama Raja Salman untuk mengundang Indonesia sebagai tamu kehormatan dalam Festival Janadriyah ke 33.

Kemudian di era pemerintahan Presiden Joko Widodo, Indonesia mendapat kehormatan dan tanggung jawab sebagai tuan rumah penyelenggara Konferensi Asia Afrika (KAA) ke 60 pada 19-24 April 2015 di Jakarta dan Bandung. Indonesia juga mampu menjadi penyelenggara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa (LB) V OKI Tentang Palestina dan Al-Quds Al-Sharid di Jakarta pada 6-7 Maret 2016. Bahkan Indonesia kembali menjadi tuan rumah penyelenggara World Islamic Economic Forum (WIEF) Ke-12 pada 2-4 Agustus 2016 lalu. Ketiga perhelatan akbar tingkat internasional ini menunjukkan pengaruh besar dan peranan penting Indonesia di level internasional.

Hal ini dapat terjadi dengan dukungan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia selama lima tahun terakhir (2014-2019) yang relatif stabil, sekitar lima persen. Pada triwulan III tahun 2018, tercatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,17 persen atau Rp 2,68 triliun dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III tahun 2017. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) RI ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi terbesar keempat diantara negara-negara G-20. Tepatnya di bawah India, Cina, dan Turki.

Dengan segenap modal dasar dan sumber daya yang dimiliki, Indonesia dan Arab Saudi berpotensi besar untuk mewujudkan perdamaian dan Ketertiban dunia. Poros Jakarta-Riyadh dapat menjadi kelanjutan dari kerja sama dan interaksi kedua negara dalam berbagai forum dan organisasi internasional. Misalnya KAA, Gerakan Non-Blok (GNB), OKI, WIEF, G-20, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBN).

Kedua negara juga memiliki peranan penting dan pengaruh besar terhadap dinamika politik dan ekonomi di Kawasan Asia Tenggara, Teluk, Timur Tengah, Asia, Australia, Afrika, Amerika, dan Dunia Islam. Kondisi ini semakin memperkuat maksud dan tujuan baik Indonesia untuk mewujudkan perdamaian dunia bersama Arab Saudi.

Masjid memiliki peran dan fungsi pokok sebagai pusat peradaban umat secara universal. Masjid pun menjadi pusat aktivitas ekonomi, sosial, budaya, politik, dan militer umat Islam. Maka Jakarta-Riyadh, sebagai poros perdamaian dunia, merupakan salah satu manifestasi dari peran dan fungsi pokok masjid di level global.

Muhammad Ibrahim Hamdani, S.I.P., M.Si., Ketua Pimpinan Pusat (PP) Perhimpunan Remaja Masjid (PRIMA) DMI dan Peneliti di Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam (PKTTI) Universitas Indonesia (UI)

Facebook Comments