“Harga Mahal” Rumah Tangga seorang Prabowo: Masih Ada Fitnah?

Bagikan artikel ini

Sebagai capres penantang dalam Pilpres 2019, figur Prabowo Subianto, paling rentan diterpa isu Rumah Tangga atau Keluarga ketimbang petahana. Di saat mantan presiden maupun capres petahana Joko Widodo (Jokowi), sesuai meme yang ‘berseliweran’ di jagad sosial media, pamer “keharmonisan” keluarga atau rumah tangga, capres Prabowo justru ditampilkan ‘jomblo’. Prabowo ditampilkan disharmoni dengan “mantan” istrinya.

Padahal, “keharmonisan” yang ditampilkan para mantan presiden, tak dipungkiri, terkadang bersifat semu. Bak kisah “Putri Cinderella di sebuah Negeri Impian”. Tak jarang kita mendengar cerita-cerita disharmoni di balik pamer kemesraan para presiden atau “selebritis” di muka publik, yang sudah menjadi “Rahasia Umum”. Mudah ditebak, sang uploader (pengunggah) — diduga dari kubu lawan, tengah melakukan negative campign (kampanye negatif) terhadap Prabowo yang saat ini kelihatan ‘single’.

Diketahui, Prabowo merupakan suami Titiek Soeharto, anak mantan Presiden Soeharto, penguasa Orde Baru yang telah berkuasa selama lebih kurang 32 tahun. Tidak diketahui pasti, apakah isu “bercerai” atau “berpisahnya” Prabowo dengan Titek, benar resmi dan tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA) atau “sekadar berpisah”. Namun “vonis sosial” sudah diterima Prabowo bahwa Ia bercerai dengan Titiek.

Publik tidak pernah tahu persis mengapa Prabowo terkesan “berpisah” dengan Titek. Apa latar belakangnya dan yang menjadi penyebabnya. Akibatnya, fitnah soal Rumah Tangga Prabowo menjadi “Bola Panas”, terutama jelang Pilpres yang mengantarkan Prabowo menjadi Capres untuk kedua kalinya di 2019 mendatang.

Sesungguhnya, persoalan rumah tangga seseorang adalah wilayah private (pribadi) dan bukan untuk konsumsi publik. Namun karena Prabowo dikenal sebagai figur publik, apalagi capres, maka semua urusan pribadinya pun seperti dinilai layak “diadili” secara publik. Selama ini orang atau publik hanya tahu dirinya berpisah dengan istrinya karena sebab-sebab pribadi, padahal sebenarnya tidak begitu. Sependek pengetahuan penulis, tentu saja.

Perpisahan Prabowo dengan Titiek justru menjadi pertaruhan besar dan harga yang harus “dibayar mahal” oleh seorang Prabowo dalam mengemban misi patriotismenya mempertaruhkan diri, jiwa bahkan keluarga atau rumah tangganya demi apa yang diyakininya sebagai seorang Ksatria yang komit membela bangsa dan negaranya. Bias kepentingan pribadi? Sebagai manusia biasa, boleh jadi ada. Tetapi dibandingkan untuk kepentingan bangsa yang lebih besar, menjadi tak terbandingkan. Terkesan sebagai bombastis, tapi sesungguhnya itulah yang terjadi. Setidaknya menurut cerita orang-orang terdekatnya, terutama yang pernah berada dalam lingkungan Cendana.

Konon, di penghujung kekuasaan Soeharto pada 1998, kumpul hampir seratusan orang tokoh di Cendana menghadap Soeharto. Kala itu, karena desakan sejumlah aksi mahasiswa dan masyarakat yang masif, Prabowo tampil ke muka menyampaikan aspirasi itu dan meminta Soeharto, yang kebetulan mertuanya sendiri, turun tahta dan segera melimpahkan kekuasaannya.

Bagi lingkungan dalam Cendana, ini dinilai sebagai perbuatan lancang dan menilai Sang Mantu itu berusaha meng-coup de’etat (merebut) kekuasaan dari Soeharto kepada Prabowo. Keluarga pun terpengaruh. Tentu saja menjadi pilihan yang sangat sulit bagi Titiek Soeharto sebagai istri seorang Prabowo. Ketika itu Titek diminta menentukan sikap, apakah tetap ingin bersama keluarga atau memilih Prabowo. Sebagai anak yang patuh pada orang tua dan keluarga tentu Titek memilih bersama keluarga ketimbang mempertahankan hubungannya dengan Prabowo, yang notabene bakal “dikucilkan” bahkan mungkin “diasingkan” pihak keluarga. Maka dimintalah seorang pengacara Cendana untuk mengurus “perceraian” Titek dengan Prabowo.

Sejak peristiwa itu, anehnya, tuduhan makar terhadap Prabowo pun terus berlanjut. Di antaranya, ketika mantan Pangkostrad itu disangka melakukan gelar pasukan untuk melakukan kudeta terhadap Pemerintahan Habibie, pasca Soeharto turun tahta. Tiba-tiba muncul rekomendasi mantan Danjen Kopassus itu untuk diberhentikan dari dinas kemiliteran dengan alasan melakukan “penculikan” aktivis. Padahal, seandainya harus dilakukan seorang perwira yang bernama Prabowo, hal itu diyakini sebagai “tugas negara” dan dilaksanakan atas perintah komandan (atasan Prabowo). Katakanlah, Panglima TNI atau bahkan mungkin Panglima Tertinggi.

Hingga saat ini, belum banyak publik yang mengetahui hal ikhwal persoalan rumah tangga seorang Prabowo yang kini kembali didapuk sebagian rakyat untuk menjadi calon presiden. Namun, fitnah seputar rumah tangga Prabowo sudah menyebar sedemikian rupa dan menjadi isu liar yang “digoreng” kemana-mana untuk mendegradasi kepribadian dan kredibilitasnya. Bila gagal diantisipasi, tentu ini dapat menjadi kampanye negatif bagi diri Prabowo.

Sekadar ilustrasi, cerita retak atau berpisahnya rumah tangga seseorang dapat disebabkan beberapa faktor. Di antaranya persoalan ekonomi, hadirnya orang ketiga, campur tangan keluarga salah satu pihak, biologis, dan lain-lain. Pasca melakukan perceraian, biasanya salah satu pihak, baik wanita maupun pria, dengan mudah dapat berganti pasangan (teman hidup). Apalagi bila masih terbilang usia produktif. Tetapi ternyata tidak bagi Prabowo maupun Titiek. Kisah asmaranya laksana cerita kesetiaan Romeo dan Juliet.

Prabowo-Titiek, lebih dari 20 tahun “terpaksa” harus bertahan atau mengendalikan diri. Hingga hari ini kita nyaris tidak mendengar kabar miring terkait persoalan kehadiran orang ketiga (WIL maupun PIL) dari keduanya. Apalagi soal ekonomi. Karena mereka dikenal dari keluarga terhormat dan ‘tajir melintir’. Soal biologis? Banyak orang yang menduga-duga soal ini. Entahlah. Tetapi ini bisa menjadi relatif karena tidak semua orang memiliki aksentuasi yang besar terhadap persoalan itu. Bagi tokoh seperti mereka, pertaruhannya mungkin terlalu besar kalau sekadar soal itu. Apakah ini sinyal keduanya akan bersatu kembali? Mengapa tidak?

Sebagai penutup, banyak pihak berharap, bila Tuhan menakdirkan Prabowo menjadi Presiden, keduanya bisa menjalin hubungan kembali sebagai sebuah keluarga atau “rumah tangga” — selayaknya. Tidak mudah, memang, hidup dalam dunia yang “terpenjara” oleh urusan negara atau kenegaraan — sebagian mungkin menyebut kekuasaan. Bila keduanya ditakdirkan “berpisah” karena urusan negara, tidak menutup kemungkinan Tuhan menakdirkan mereka “rujuk kembali” karena urusan negara.

Ini bukan soal romantisme sebuah kekuasaan, tetapi menjadi “kisah-kasih” dua anak manusia yang sama-sama memiliki cita dan cinta sebagaimana layaknya manusia biasa. Lalu bagaimana kalau Tuhan tidak menakdirkan Prabowo jadi Presiden? Bisa saja business as usual. Semua terjadi seperti biasa. Tetapi semua tentu saja berpulang kepada takdir Yang Maha Kuasa. Semua bisa berdoa atas nama keyakinannya masing-masing. Allahu ‘alam.

Kusairi Muhammad, Alumnus FISIP Universitas Nasional

Facebook Comments