Indonesia Perlu Inisiasi Perdamaian Palestina di Pertemuan Arria Formula

Bagikan artikel ini

Kekejaman pemerintahan zionis Isarel terhadap warga Muslim Palestina kian membuncah menyusul sikap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang memerintahkan serang militer besar-besaran ke Jalur Gaza.

Tanpa mempedulikan nasib mereka yang tengah melaksanakan ibadah bulan suci Ramadan, tentara Israel yang gencar melancarkan aksi militernya ke Jalur Gaza sepertinya kehilangan rasa kemanusiaan, alih-alih memiliki cinta dan belas kasih yang disertai dengan adanya empati dan simpati. Empati berarti bisa merasakan apa yang dialami orang lain. Dari sini, tentara Israel sepertinya tidak mau memahami dunia dari sudut pandang warga Palestina. Apalagi mampu merasakan bersama apa yang dirasakan oleh warga Palestina.

Bisa dibayangkan betapa pilu dan sedihnya membayangkan saudara-saudara kita di Palestina yang harus melewatkan Ramadhan bersama dengan dentuman serangan udara dan tembakan dari tank Israel. Saat sebagian besar Muslim di dunia menyiapkan diri menyambut puasa Ramadhan, warga Gaza justru menyiapkan pemakaman.

Kedua kubu, baik dari para milisi di Gaza dan pasukan keamanan Israel telah terlibat pertempuran sengit dan berdarah dalam beberapa pekan terakhir ini. Sebagaimana dilansir The Guardian, faksi Palestina telah menembakkan roket ke arah kota-kota Israel. Sementara Israel pun membalas dengan menembakkan lebih dari 250 serangan.

Eskalasi di Gaza dimulai ketika empat warga Palestina menjadi martir, termasuk seorang remaja, Selain itu, 51 orang terluka saat tentara Israel menyerang lokasi terkait Hamas belum lama ini. Secara terpisah, terjadi pula serangan saat kampanye menentang penjajahan Israel dan blokade jalur Gaza.

Bentrokan berdarah di Jalur Gaza langsung mendapat respon dari pemerintahan AS. Dalam salah satu cuitannya, Presiden AS Donald Trump, baru-baru ini, menyatakan dukungan penuh pada Israel. Dia juga mengatakan rakyat Gaza akan makin menderita karena menyerang Israel.

Sejak Maret 2018, situasi di Gaza, khususnya di dekat perbatasan dengan Israel memanas. Hal itu dipicu digelarnya aksi bertajuk “Great March of Return” oleh warga Palestina.

Hamas dan Israel disebut telah menyepakati gencatan senjata pada Senin pagi, sekitar pukul 04.30 waktu setempat. Hal itu tercapai berkat mediasi yang dilakukan oleh Mesir.

Jalur Gaza seluas 225 ribu kilometer persegi adalah rumah bagi sekitar dua juta orang. Namun, jalur ini diblokade oleh Israel dan Mesir sejak Hamas mengambil kendali pada 2007. Israel dan Hamas telah berperang tiga kali.

Kondisi ekonomi ambrol dengan pengangguran kaum muda lebih dari 70 persen. Saingan Hamas, Otoritas Palestina, yang berbasis di Tepi Barat yang diduduki, juga telah menjatuhkan sanksi pada jalur itu. Otoritas memotong transfer uang sehingga memperdalam krisis.

Lepas dari konflik yang terjadi antara Palestina dan Israel, pemerintah Indonesia yang baru terpilih menjadi Presiden bergilir Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Mei 2019 harus mendesak tercapainya perdamaian di Timur Tengah, yang salah satunya adalah perdamaian di Palestina. Indonesia memang sejak dulu sangat vokal dan selalu mendukung kemerdekaan Palestina.

Indonesia harus memainkan peran sentral dalam menginisiasi tercapainya perdamaian di Palestina dalam pertemuan Arria Formula yang akan digelar pada 9 Mei. Meski pertemuan itu bersifat informal, Indonesia bisa dan mampu berperan membantu perjuangan rakyat Palestina dengan menciptakan kesadaran komunitas internasional bahwa yang dilakukan Israel adalah kejahatan kemanusiaan.

Apalagi, aksi brutal tentara Israel terhadap warga Muslim Palestina dilakukan di bulan suci Ramadhan yang semestinya menjadi momentum bagi mereka untuk beribadah dengan tenang tanpa rasa ketakutan. Indonesia yang diwakili oleh Dian Triansyah Djani di Dewan Keamanan PBB untuk mendorong perdamaian dunia, terutama bagi Palestina perlu memastikan sikap tegas dan protesnya atas kebijakan pemerintahan Israel.

Sudarto Murtaufiq, Peneliti Senior Global Futute Institute (GFI)

Facebook Comments