Invasi Senyap versus Invasi Militer

Bagikan artikel ini

Ada perubahan power concept dalam praktik geopolitik yakni dari peran militer di depan membuka ladang-ladang koloni kini berganti menjadi power ekonomi yang maju di depan. Tujuannya sama, membuka ladang koloni di luar. Itulah salah satu isu global paling aktual di abad ke 21, selain isu geopolitical shift (pergeseran geopolitik) dari Atlantik ke Asia Pasifik.

Kedua isu di atas, terutama isu perubahan power concept, menimbulkan asumsi baru: “Janganlah perubahan power concept tadi ditanggapi secara hitam putih bahwa tidak akan ada serangan militer asing terhadap negara lain dan/atau invasi ke negara kita.” Sungguh itu sikap keliru lagi blunder dalam tata (kelola) bernegara. Dan Lebih jauh lagi, itulah sesat pikir dalam konteks ketahanan dan pertahanan nasional.

Persoalannya adalah, bila sesat pikir tersebut dikembangkan lantas menegara (melembaga), selain ia bisa menghilangkan kewaspadaan, juga niscaya membuat abai terhadap model invasi jenis baru dalam perilaku geopolitik di abad ke 21. Adapun invasi jenis baru seperti upaya pelebaran frontier di negara target atas nama investasi asing, misal, atau meluasnya sphere of influence negara lain ke negara kita dalam berbagai aspek dan seterusnya. Istilahnya silent invasion atau invasi senyap yang kini menjadi tren baru dalam pola kolonialisme gaya baru di muka bumi. Kenapa? Karena negara target dapat diduduki atau ditaklukkan oleh kekuatan luar/asing kendati tanpa kegaduhan invasi secara terbuka bahkan kerap tanpa letusan peluru sama sekali.

Ada dua cara menaklukkan dan memperbudak suatu bangsa, kata John Adams (1735 – 1826), “Pertama dengan pedang, kedua melalui utang”. Ya, makna pedang adalah militer, sedang frase utang maksudnya ialah debt trap jika mens rea*-nya untuk menjebak.

Agaknya tesis Adams dua abad lalu sekarang banyak terbukti. Sri Lanka contohnya, terpaksa memberi konsesi Cina selama 99 tahun untuk mengelola pelabuhan Hambantota karena tak mampu membayar utangnya. Atau Djibouti yang harus merelakan sebagaian wilayahnya menjadi pangkalan militer Cina karena kasus yang sama. Kemudian Angola dan Zimbabwe pun terpaksa memakai Yuan –mata uang Cina– akibat gagal bayar, dan banyak lagi yang lain.

Terkait asumsi awal pada prolog catatan ini, pertanyaan menarik muncul, “Apakah takluknya negara-negara di atas akibat serangan militer Cina?” Jawabannya: TIDAK.

Terima kasih.

M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments