Kerjasama Cina-Jepang Mewarnai Semangat Pertemuan Tingkat Tinggi G-20 di Osaka, Jepang

Bagikan artikel ini

Pertemuan tingkat tinggi negara-negara yang tergabung dalam G-20 yang diselenggarakan di Osaka, Jepang pada 28-29 Juni 2019, sangat menarik. Bukan saja karena akan membahas reformasi perdagangan dunia. Melainkan juga karena kepemimpinan global Cina yang semakin menguat tatkala Amerika Serikat sebagai polisi dunia mulai memudar.

Namun Cina bukan satu-satunya kekuatan ekonomi di Asia yang patut diperhitungkan di dunia internasional. Jepang yang tahun ini kali pertama sebagai presiden G-20, juga tidak kalah menarik untuk dicermati, di tengah-tengah adanya suatu semangat baru dari hubungan Cina-Jepang.

Dalam kunjungan Perdana Menteri Shinzo Abe ke Beijing beberapa waktu lalu, sempat mengeluarkan pernyataan sebagai berikut:

“Saat ini Jepang dan Cina bukan saja telah memainkan peran yang cukup berpengaruh di Asia, melainkan juga pada skala dunia yang lebih luas. Adanya proliferasi berbagai masalah yang tak terpecahkan dari sebuah negara, telah memberi pesan pada kita  bahwa sudah saatnya Cina dan Jepang untuk bersama-sama memikirkan bagaimana menciptakan perdamaian dan kesejahteraan dunia. Yaitu membuka babak baru hubungan kedua negara.”

Melalui sudut pandang pidato Abe tersebut, tersirat adanya suatu skenario baru  yang besar kemungkinan akan mengakhiri persaingan global antara AS versus Cina, untuk menghentikan instabilitas yang bisa mengancam perdamaian dan kesejahteraan dunia.

Sisi lain yang tidak kalah menarik disosot, yaitu manuver beberapa negara sebelum berlangsungnya KTT G-20 seperti yang dilakukan oleh Presiden Cina Xi Jinping berkunjung ke Korea Utara. Yang mana kemudian ditindak-lanjuti oleh beberapa pertemuan bilateral maupun multilateral yang dimotori oleh Cina, Rusia dan beberapa negara Asia Tengah. Dengan tujuan untuk menciptakan stabiltias di kawasan, termasuk di Semenanjung Korea. Menyusul gagalnya pertemuan Donald Trump dan Kim Jong-un di Hanoi, beberapa Februari lalu.

Pertemuan G-20 di Osaka itu, bukan sekadar manuver diplomatik beberapa negara untuk menciptakan keseimbangan politik internasional baru. Perang Dagang AS-Cina bagaimanapun juga melatarbelakangi pertemuan tingkat tinggi tersebut. Karena sejatinya, bukan sekadar perang dagang AS versus Cina yang berlangsung, melainkan juga perang dagang AS versus India, juga  mewarnai atmosfer pertemuan G-20 itu. Sehingga para menteri keuangan maupun gubernur bank sentral berbagai negara partisipan G-20 pada perkembangannya juga dipaksa untuk membahas agenda yang amat strategis: Perlunya Reformasi perdagangan dunia dan World Trade Organization (WTO). Seraya berupaya meredakan eskalasi terjadinya perang dagang antar negara-negara adikuasa.

Menariknya, dalam pertemuan negara-negara Uni Eropa di Brussel Belgia pada April lalu, Perdana Menteri Cina Li Keqiang mengatakan bahwa KTT G-20 di Osaka akan merupakan momentum untuk mengklarifikasi beberapa area yang terbuka untuk investasi, seraya menginvestigasi isu kesetaraan untuk beberapa perusahaan atas permintaan Amerika dan Uni Eropa.

Agenda-agenda strategis atas usul Cina itu, bukan saja sebagai kontra manuver dalam perang dagang dengan AS, juga merupakan isyarat menuju tahapan lebih lanjut reformasi ekonomi menandai kebangkitan raksasa Asia.

Francesco Maringio, dalam artikelnya berjudul:

The G20 Meeting in Japan: The Trade War Unleashed by the United States Against China   

refekonomi yang diusung Cina itu, nampaknya akan bermuara pada terciptanya komunitas ekonomi internasional untuk membangun platform bersama, dengan melibatkan beberapa tokoh dan lembaga bertujuan menaganai ketidakseimbangan global.

Kontra skema yang dilancarkan Cina dengan dukungan Rusia dan beberapa negara Asia Tengah, pada perkembangannya negara-negara di kawasan Eropa Barat dan beberapa negara di kawasan Euro-Asia akan terbelah, sehingga bermuara pada terciptanya perang dingin ekonomi baru (new economic cold war).

Semangat di balik pertemuan tingkat tinggi G-20 di Osaka, sebagaimana pengamantan Francesco Maringio, bahwa untuk mencegah timbulnya perang dingin ekonomi baru, sepertinya sangat tergantung pada kerjasama strategis Cina-Jepang. Sebab menurut Maringio, skenario AS adalah bagaimana menciptakan konflik kepentingan antara Cina dan negara-negara Asia, yang tentunya salah satunya adalah Jepang.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute.

 

 

Facebook Comments