Ketegangan Militer AS-Cina di Laut Cina Selatan Semakin Nyata

Bagikan artikel ini

Ketegangan militer antara Amerika Serikat versus Cina nampaknya akan terpusat di Laut Cina Selatan. Angkatan Udara AS dikabarkan telah secara berkala telah mengirim pesawat-pesawat pembom berkemampuan nuklir B-52 di atas perairan Laut Cina Selatan. Belakangan juga mengirim dua pesawat pembom berkemampuan nuklir B-52H (Stratofortress Bomber). Dari pangkalan militernya di Andersen Air Base, Guam.

 

Baca selengkapnya untuk bandingan Artikel Brian Cloughley, bertajuk A Summer of Confrontation Looms in the South China Sea

https://new.strategic-culture.org/news/2019/04/23/a-summer-of-confrontation-looms-in-the-south-china-sea/

Meski dengan dalih untuk latihan bersama di sekitar Laut Cina Selatan, namun pada prakteknya pesawat-pesawat tempur AS tersebut dioperasikan untuk mendukung negara-negara sekutunya yang tergabung dalam QUAD Indopasifik seperti Australia, India dan Jepang. Hal ini semkin diperkuat dengan pernyataan Panglima Angkatan Darat AS di Pasifik, Robert Brown, bahwa manuver militer AS tersebut dipusatkan untuk mengantisipasi beberapa skenario di  Laut Cina Selatan.

Dengan begitu fokus aktivitas militer AS dan sekutu-sekutunya di Laut Cina Selatan dipusatkan untuk membangun Persekutuan Pertahanan Pasifik. Terkait dengan manuver Angkatan Darat AS sebagaimana dinyatakan Robert Brown, Angkatan Darat juga berkoordinasi dengan kesatuan Marinir AS. Melakukan latihan militer bersama seolah-olah untuk menguasai sebuah pulau kecil Jepang, Ryukyu Chain, yang berbatasan dengan wilayah Laut Cina Timur. Dengan demikian, AS bukan saja mengerahkan angkatan udara dan darat-nya, melainkan juga korps mariner dari angkatan laut.

Pemerintah AS memang sangat gusar dengan semakin menguatnya kehadiran militer Cina di Laut Cina Selatan. Apalagi Beijing secara intensif membangun beberapa fasilitas-fasilitas sarana fisik, yang memang berpotensi untuk digunakan sebagai fasilitas militer Cina. Seperti Bandara dan Pelabuhan di Laut Cina Selatan. Padahal wilayah-wilayah yang sekitaran Laut Cina Selatan ini, masih menjadi obyek sengketa beberapa negara yang juga mengklaim kepemilikannya atas beberapa wilayah di Laut Cina Selatan.

Salah satu masalah yang krusial sebagai konsekwensi dari ketegangan AS-Cina di Laut Cina Selatan ini, adalah terbukanya celah bagi tentara AS untuk mengirimkan pesawat-pesawat tempur maupun kapal-kapal lautnya yang bermuatan senjata nuklir.

Kejadian pada 1984, bahkan Selandia Baru pada masa pemerintahan Perdana Menteri David Lange,  yang notabene termasuk tentara sekutu AS di Asia Pasifik selain Australia, menentang masuknya kapal perusak angkatan laut AS bernama Buchanan, untuk memasuki perairan yang berada di bawah kedaulatan Selandia Baru. Sebab pemerintah AS menolak untuk menjelaskan apakalah kapal perusak angaktan Laut AS itu bermuatan senjata nuklir.

Alhasil, meskipun AS akhirnya mengalah dan membatalkan manuver angkatan lautnya  bersama Selandia Baru. Namun kemudian kerjasama pertukaran informasi intelijen kedua negara akibatnya juga dibatalkan. Termasuk konferensi tingkat tingkat tinggi antar pejabat militer kedua negara.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute. 

Facebook Comments