‘LEIDEN’

Bagikan artikel ini

Tidak semua orang belajar tentang “sejarah”, tapi semua orang harus belajar dari catatan “Sejarah benar.” Catatan sejarah kita yang ada saat ini tidak harus menjadi “Sakral” dan mutlak benarnya, sejarah adalah “Dialog” yang berkelanjutan, antara masa kini dan masa lalu untuk bersikap di masa depan. Tidak ada “Kebenaran Tunggal Abadi” tentang pemaknaan peristiwa masa lalu dan kebenarannya juga tidak ada yang abadi.

Cermati ini:

“Konsensus Lama”, berdasarkan bukti yang terbatas, mungkin tidak lagi dianggap sah secara historis dalam menjelaskan hal-hal khusus – sebab akibat, motivasi dan kepentingan.

Interpretasi masa lalu dapat berubah sebagai tanggapan terhadap “Bukti baru”. Pertanyaan baru yang mempertanyakan tentang bukti, berdasar perspektif baru yang diperoleh seiring berlalunya waktu dan majunya pencapaian ilmu pengetahuan.

Besar kemungkinan terbantahkan secara ” Objektif ” berdasar telaah akademik kajian berdasar ilmu pengetahuan maju.”Historiografi” , sejarawan bekerja dalam pembentukan opini masyarakat,sejarawan telah menghasilkan sekumpulan buku sejarah,kemudian pembaca selalu terjebak pada “Status Quo”.

Dengan demikian, paradigma profesional sejarawan dimanifestasikan sebagai sikap”Denunciatif” terhadap segala bentuk revisionisme historis. Baik dari fakta atau interpretasi, atau keduanya, berbeda dengan bentuk penulisan tunggal paradigma sejarah.

Thomas Kuhn :
Ilmu – ilmu sosial dicirikan oleh beberapa paradigma yang berasal dari “Tradisi klaim, Tuntutan balik, dan perdebatan atas dasar-dasar Penelitian”. Tentang perlawanan terhadap karya-karya sejarah yang direvisi yang menyajikan narasi sejarah “Komprehensif”.

“Revisionisme”

Adalah proses alami dari sejarah itu sendiri,bekerja mengembalikan “Kebenaran” masa lalu nya,untuk merubah masa depan agar menjadi “Lebih baik”.

Sebagian besar sejarawan di dunia merevisi dan memperbarui penjelasan mereka tentang pencatatan yang “Terdirtorsi” subjektifitas pribadi, etnis, kebangsaan dan kepentingan tertentu.

Filsuf Karl Popper berkata:

Setiap generasi memiliki visi sendiri, dan oleh karena itu, sangat berkepentingan terhadap
peristiwa sejarah, dan sudut pandangnya sendiri”. Dan setiap generasi memiliki hak untuk memandang dan menginterpretasi ulang sejarah dengan cara mereka sendiri.

Bagaimanapun, kami mempelajari sejarah karena kami tertarik dengannya…tetapi sejarah tidak dapat melayani dasar pijakan valid jika, di bawah pengaruh gagasan “Subjektivitas”. Dan kita seharusnya tidak berpikir bahwa sudut pandang kita juga benar, bahwa kita telah mencapai tingkat objektivitas yang memungkinkan untuk menyajikan “peristiwa masa lalu benar-benar terjadi”.

“Revisionisme Historis” adalah sarana di mana catatan sejarah – sejarah yang ada masyarakat, sebagaimana dipahami dalam ingatan kolektif mereka – secara terus-menerus memadukan fakta-fakta dan interpretasi baru dari peristiwa yang umumnya dipahami sebagai “sejarah”.

Sejarawan James M.Mc Pherson , mengatakan:

“Revisi” adalah sumber kehidupan dari pengetahuan historis. Pencarian sejarawan tak berujung hanya untuk memahami masa lalu saja “Revisionisme” adalah apa yang membuat sejarah menjadi penting dan bermakna, untuk membangun hari esok. Tanpa Revisionisme, kita mungkin hanya akan terjebak dengan gambar “Rekonstruksi” subjektifitas.

Tanpa sejarawan “Revisionis”, yang telah melakukan penelitian di sumber-sumber baru dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan bernuansa baru, kita akan tetap terperosok dalam salah satu dari “Stereotipe” pemaknaan.

Indonesia membutuhkan “Revisionis Historis” harus menulis ulang fakta nyata sejarah maju leluhurnya terdahulu. Adalah mereka yang faktanya ingin menguasai negri ini hingga saat ini, dimana catatan sejarah Leluhur bangsa ini terpasung di sana.

Tafsir dan pemaknaan sejarah tanpa dasar domuken otentik adalah “Omong kosong” 12 Kilometer dokumen catatan asli sejarah bangsa ini ada di Leiden Belanda harus diungkap juga dipublikasi, untuk mengembalikan bangsa “Elang” yang telah jadi “Bebek” petelur.

Santo Saba

Facebook Comments