Melacak Jejak Sang Idola dari Aspek Legitimasi (Bag ke 2/Habis)

Bagikan artikel ini

Telaah Kepemimpinan Strategis atas Pertemuan MRT

Tak boleh dipungkiri, kini muncul semacam ‘dengung’ (mirip suara tawon) berkepanjangan —jika tidak boleh disebut berisik— sebagai dampak Pertemuan MRT, 13 Juli lalu di Lebak Bulus. Ya dengung tersebut menggema baik di level elit, pengamat dan kelas menengah di masyarakat bahkan hingga ke akar rumput di kedua belah kubu. Pertanyaan menarik yang mencuat ialah, “Kenapa supporter, buzzer, bahkan publik seperti kehilangan arah dan terputus jejak manakala mengikuti langkah pemimpinnya?”

Sebagaimana diulas sebelumnya, bahwa siapapun orang bila menelusuri jejak sang pemimpin selain ia perlu wawasan, butuh komprehensif kemampuan dan pemahaman, juga persoalannya tugas paling utama pemimpin itu mengambil keputusan. Tentu atmosfernya beda maqom dengan kaum follower atau level di bawahnya.

Sekurang-kurangnya, ada tiga aspek pada momen pengambilan keputusan oleh pemimpin, antara lain:

Pertama, aspek situasi dan kondisi (sikon);
Kedua, aspek klasifikasi; dan
Ketiga, aspek kepentingan.

Pada aspek sikon, misalnya, ada tiga kondisi tergelar di hadapan sang pemimpin, antara lain (1) pengambilan keputusan dengan kepastian, dimana cuma ada satu hasil yang akan terjadi; (2) pengambilan keputusan dengan risiko. Di sini, kondisi dan/atau hasil suatu keputusan telah berdampak baik terhadap subjek (pemimpin itu sendiri), objek, ataupun sikon yang ada, tetapi probalitasnya masih dapat diukur; dan (3) pengambilan keputusan dengan KETIDAKPASTIAN. Nah, ini yang rawan ketika subjek alias sang pemimpin tidak memiliki gambaran tentang apa yang akan terjadi ke depan. Sebenarnya, hal ini yang harus dihindari bila tidak ingin keputusan berujung blunder. Mengapa? Karena hakikat keputusan adalah proses memilih beragam alternatif putusan dengan berbasis data, informasi, analisis bahkan intuisi sang pemimpin.

Sekarang lanjut ke aspek klasifikasi. Ada dua hal pokok: (1) terprogram, dan ke (2) tidak terprogram. Pengambil keputusan terprogram lazimnya adalah aktivitas rutin, repetitif atau berulang-ulang, dan seterusnya dimana mekanismenya ada di buku pedoman (SOP). Sedang pengambilan keputusan tak terprogram kebalikannya, selain terkait hal baru akibat dinamika lingkungan, tak terstruktur, juga sulit dikenali bentuk dan dampaknya.

Kini ke aspek kepentingan. Dari sisi ini, bahwa pengambilan keputusan terbagi dalam tiga strata yaitu teknis, taktis dan strategis. Apabila merujuk hal-hal di atas (aspek sikon dan aspek klasifikasi), pengambilan keputusan teknis itu hal yang terkait keputusan dengan kepastian sikon, repetitif dan ada SOP. Sedang dalam hal taktis biasanya ada risiko, tetapi masih repetitif dan berbasis SOP. Keduanya, masuk kategori pengambilan keputusan terprogram.

Yang paling rawan sesungguhnya pengambilan keputusan yang STRATEGIS. Kenapa? Selain menghadapi ketidakpastian sikon, bersifat non-repetitif, juga tidak terprogram. Inti keputusan strategis itu menjawab tantangan di tengah fluktuatif lingkungan yang bergerak. Biasanya ia memiliki dampak —entah implikasi negatif atau kontribusi positif— baik terhadap subjek, organisasi/partai, dst bahkan dampak kepada lingkungan itu sendiri.

Nah, apa yang dikerjakan oleh PS dan JKW pada Pertemuan MRT kemarin, tergolong jenis KEPUTUSAN STRATEGIS dengan segala konsekuensinya meski secara teknis sangat santai dan secara taktis di tempat terbuka.

Ya, pemimpin itu sendirian. Hanya berteman kebenaran. Dan sebaik-baiknya kebenaran adalah kebenaran dari Tuhannya!

M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments