Melacak Samar Jejak Sang Idola dari Aspek Legitimasi

Bagikan artikel ini

Telaah Kecil Geospiritual atas Pertemuan MRT

Pasca “Pertemuan MRT” pada 13 Juli 2019 di Lebak Bulus, Jakarta, muncul gelombang kegalauan —keguncangan moral— di antara supporter kedua kubu. Akan tetapi, sifat dan karakter keterguncangan kedua pendukung tentu berbeda. Bila keguncangan pendukung Prabowo Subianto (PS) terlihat secara kasat mata, dan masih pro kontra sampai kini. Ini terlihat jelas, entah pada analisa atau asumsi yang beredar, atau terlihat dari celetukan, bully, caci maki dan seterusnya para “ex kampret” terhadap PS di medsos. Sedang kegundahan para buzzer, koalisi partai, dan para elit politik pendukung Joko Widodo (Jkw) kendati terlihat sepi di permukaan, namun sesungguhnya ada gaduh di bawah permukaan.

Sekali lagi, antara ex kampreter dan ex cebonger berbeda sifat dan karakter dalam mengekspresikan kegalauan dan/atau kegundahan masing-masing. Pendukung PS lebih vulgar dan terang-terangan karena berbasis militansi ingin perubahan. Sebaliknya, pendukung Jkw terlihat “soft“. Senyap.

Kemarahan sebagian pendukung PS karena beredar persepsi bahwa sang jenderal —via Pertemuan MRT— seperti meninggalkan rakyat yang selama ini mendukungnya, terkesan men-stempel (membenarkan) kecurangan dan/atau ketidakadilan yang selama ini diterima oleh kubu PS. Ya! “PS sudah berkhianat,” “Jenderal telah nyebong” dan seterusnya, itulah contoh frase dari celetukan pendukung yang kontra. Kemana perkara korban 21-22 Mei akan berujung; bagaimana kelanjutan tragedi kematian ratusan KPPS; atau bagaimana nasib ex kampret yang kini dipenjara? Itu lintasan kegalauan yang kontra. Sementara yang pro pun berasumsi bahwa Pertemuan MRT itu masìh bagian perjuangan lain PS secara silent. Konon, tidak semua langkah strategi boleh dibuka ke publik. Itu alasan mendasarnya, atau cuma untuk menghibur diri? Dan sebagian yang kontra tetap tidak mau menerima beragam argumen. Dukungan pun pecah berkeping-keping.

Sedang dari sisi politik pragmatis, kegundahan juga menerpa buzzers serta lingkaran elit Jkw. Tetapi, kegundahannya lebih kepada kekhawatiran atas berkurang jatah kursi kekuasaann akibat masuknya “orang-orang baru” bahkan mungkin PS sendiri (?) ke dalam gerbong Jkw 2019-2024 nanti. Bukankah selama ini mereka menyerang dan menuduh kita; kenapa kini dirangkul serta diberi jatah kursi? Itulah kegalauan yang mungkin berputar-putar di langit koalisi Indonesia Kerja.

Beredar anekdot di dunia politik praktis, bahwa politik itu bukan hanya cara memperjuangkan kebenaran, namun bagaimana laku merajut kesepakatan atas perbedaan-perbedaan.

Nah, sesuai judul note ini, saya tak membahas adakah konspirasi sebelum Pertemuan MRT, atau apakah ada deal-deal politik, dan seterusnya. Sekali lagi, saya tidak membahasnya. Kenapa? Bahwa apa yang terjadi di Lebak Bulus kemarin cuma even kesekian dari pertarungan politik. Hanya penggalan dari skenario besar. Bukankah pertarungan itu bagian dari pertempuran politik? Sedang pertempuran itu sendiri juga bagian kecil dari peperangan politik. Jadi, untuk apa sibuk menggaduhkan puzzel berserak dari sebuah peperangan besar?

Sekali lagi, note ini, cuma menggambarkan indahnya manuver dari seni kepemimpinan. Jadi sifatnya cuma menerangkan, bukan asumsi, bukan pula analisa.

Bahwa suatu rezim merupakan implementasi administrasi dan manajemen (negara). Ada adagium berkembang di Garba Wiyata, padepokan tua para pemimpin masa depan di Jakarta. Bunyinya begini: “Inti administrasi adalah manajemen, inti manajemen itu kepemimpinan, inti kepemimpinan ialah pengambilan keputusan”. Lagi-lagi, saya hanya menerangkan dua diksi pada adagium di atas yakni kepemimpinan dan pengambilan keputusan. Tak lebih. Di sini diterangkan, Pertemuan MRT ialah bentuk “keputusan” dari kedua tokoh (pemimpin) dimaksud.

Bahwa ternyata kepemimpinan itu bukan soal power belaka, atau tak sekedar kewenangan semata, memiliki banyak follower dan seterusnya. Tetapi yang utama dalam kepemimpinan itu masalah legitimasi. Ya, LEGITIMASI. Dan Pertemuan MRT merupakan puncak perjuangan Tim Jkw meraih totalitas legitimasi usai MK mengetuk palu. Mengapa? Karena kepemimpinan tanpa legitimasi ibarat orang nyerutu tanpa wine. Merokok tapi tak ada kopi. Seperti zombie, manusia tanpa ruh. Antara ada dan tiada. Itulah poin inti kegitimasi: “ada pengakuan” meski cuma lisan terutama dari kompetitor.

Kini tentang leadership atau kepemimpinan. Siapapun orang apabila mengikuti jejak sang pemimpin maka ia bakal tersesat jika tanpa komprehensif kemampuan, pemahaman dan wawasan. Bagaimana mungkin kambing mampu mengikuti langkah kuda: mungkinkah pipit mengikuti tapak si elang? Inilah yang tengah dialami para supporter kedua kubu (PS dan Jkw). Mereka seperti kehilangan jejak. Langkah sang idola ternyata tak sesuai harapan masing-masing follower. Menghilang di persimpangan.

(Bersambung ke Bag 2)

M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments