Melihat Wajah Indonesia Now, Masih Cantikkah?

Bagikan artikel ini

Sudarto Murtaufiq, Peneliti Senior Global Future Institute

Ketika sebuah pesawat terbang mendekati Bandara Changi Singapura, ini tentu sangat dekat pula jarak dari arah Semenanjung Malaysia, atau dari pulau Batam di Indonesia.

Harus diakui bahwa semua hutan primer negara bagian Malaysia yang berbatasan dengan Singapura -Johor – sekarang telah lenyap dan daerah gambut yang sangat luas, yang sebagian besar tertutup oleh perkebunan kelapa sawit, berkembang jauh ke arah cakrawala.

Sementara Pulau Batam seolah menyerupai film horor apokaliptik di mana selalu ada asap tebal yang meninggi ke langit, dan menandakan telah terjadi aktifitas padat perekonomian di kawasan tersebut yang ditandai dengan perubahan wajah kota dan desa yang terencana.

Namun, jangan salah bahwa perubahan tersebut juga menyisakan persoalan tersendiri, yaitu adanya perusakan lingkungan. Batam memang sepertinya menjadi pertaruhan dan sekaligus jawaban bagi Indonesia terutama untuk, negara-negara tetangga terutama Singapura. Indonesia sedang bermimpi tentang kota mega modern dengan bandara dan pelabuhan super, dihiasi oleh pabrik, dan menjadi pusat penelitian dan fasilitas perbelanjaan. Tapi negara turbo-kapitalis berharap semua ini akan tercipta dan tentu dikuasai oleh sektor swasta. Alih-alih mimpi itu menjadi kenyataan, justru yang terjadi selanjutnya adalah bencana lingkungan.

Lihat saja sekarang, demikian kata Andre Vltchek seorang jurnalis dan novelis terkemuka, Batam tidak lebih dari serangkaian Desa Potemkin, lengkap dengan beberapa jalur empat jalur berlubang yang tidak mengarah ke mana-mana. Sedangkan untuk penelitian: hampir tidak ada ilmu pengetahuan bahkan di Jakarta atau Bandung, apalagi disini. Setelah beberapa kali mencoba ‘menyelamatkan muka’ dan untuk menutupi kegagalan besar ini, pulau ini telah diizinkan untuk ‘tenggelam’ kembali ke tempat yang telah mereka tempuh selama beberapa dekade: sebuah rumah pelacuran yang besar untuk para turis seks yang didominasi Singapura dan Malaysia; sebuah kawasan perbelanjaan yang murah dan menjual barang palsu, sebuah tempat yang terkenal karena kurang memiliki pelayanan publik yang paling dasar sekalipun.

Masalahnya di sini adalah bahwa segala sesuatu yang berlangsung selama bertahun-tahun dan bahkan puluhan tahun, dipandang sebagai sumber potensi keuntungan. Hal ini hanya dinilai jika bisa dimanfaatkan, jika bisa ada label harga yang menyertainya. Tidak ada sentimentalitas, tidak ada pemikiran tentang keelokan! Di sini, keserakahan sudah mencapai pada level kegilaan, melampaui ambang batas kewajaran, apalagi kepatutan.

Seperti di Barat, perusahaan besar di beberapa negara Asia Tenggara sekarang bahkan mampu mengontrol dan menentukan pemerintahan. Mereka juga mengendalikan media massa, menginfiltrasi jejaring sosial. Melakukan kritik terhadap perusahaan penebangan kayu dan kelapa sawit di Malaysia adalah langkah mematikan, benar-benar bunuh diri, dan hampir tidak ada yang berani melakukannya. Pemandangan yang sama juga terjadi di Indonesia, terutama terkait pertambangan emas, penebangan liar dan usaha ekstraksi lainnya di republik ini, di mana sebagian besar perusahaan pertambangan dan penebangan tidak menentu berada di tangan polisi, militer atau pejabat pemerintah (kepentingan ketiganya tersebut adalah juga sering terjalin).

Kalimantan dan Sumatra tidak seperti yang dulu; sekarang hampir semua habitat satwa liar legendaris di kedua pulau tersebut cenderung mengalami pemusnahan. Ratusan spesies hilang atau hampir punah. Hutan primer yang dulu kuat diperas ke beberapa taman nasional, dan bahkan hutan tersebut sering digunakan untuk pertanian komersil, dan juga untuk perkebunan kelapa sawit. Inilah kenyataanya.

Ini bukan hanya masalah ‘menghilangnya kecantikan’ dan keanekaragaman hayati. Kalimantan dulu setara dengan Amazonia, yang berfungsi sebagai paru-paru Bumi. Ini adalah pulau terbesar ketiga di planet kita (dan yang terbesar di Asia), dan ini sepenuhnya dan beberapa orang sekarang akan mengatakan bahwa kawasan ini telah dirusak. Di Indonesia, bahan kimia mematikan yang digunakan di perkebunan kelapa sawit mengancan puluhan ribu nyawa manusia. Sepertinya sesuatu yang mengerikan terjadi di belahan dunia ini. Banyak sungai, termasuk Kapuas, mengandung kadar merkuri yang sangat tinggi, hasil pertambangan emas ilegal namun terbuka.

Belum lagi di Papua, terutama perusahaan tambang Freeport. Meski dikuasai Indonesia oleh perusahaan Indonesia, namun apa yang dilakukan oleh konglomerat multi-nasional pertambangan Barat sangat semena-mena dan banyak memberikan kerugian bagi negara. Selain melakukan genosida terhadap penduduk lokal, separuh dari pulau yang luar biasa ini, yang dulunya dihuni oleh ratusan suku setempat, sekarang ‘terbuka’, dipaksa terbuka, dan benar-benar “disandera”. Tentu saja, Indonesia hampir tidak pernah dikritik oleh Barat. Genosida yang telah dilakukannya sejak 1965 disponsori atau setidaknya didukung dari Washington, London dan Canberra.

Kini, saatnya pemerintahan Presiden Jokowi harus mengambil langkah taktis dan setrategis terhadap kawasan yang selama ini banyak dieksploitasi oleh Barat, alih-alih memberikan keuntungan bagi rakyat Indonesia. Terlebih menyusul penobatan salah satu menterinya, Sri Mulyani sebagai menteri terbaik dunia, jangan-jangan ini adalah strategi Barat untuk terus bisa memperdaya dan menguasai Indonesia lengkap dengan sumber daya alamnya. Semoga saja tidak.

Facebook Comments