Memaknai Serangan Militer Barat ke Suriah (Bag-2/Habis)

Bagikan artikel ini

M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)

Beberapa sesi diskusi terbatas di Forum KENARI (Kepentingan Nasional RI), Jakarta, dimentori oleh Dirgo D. Purbo, pakar perminyakan, tercatat pointer bahwa conflict is protection oil flow and blockade somebody else oil flow. Singkat kata, konflik hanya untuk melindungi aliran minyak (dan gas). Hal ini sejalan dengan asumsi yang dibangun oleh Global Future Institute (GFI), Jakarta, pimpinan Hendrajit, “Bahwa mapping konflik dari model kolonisasi yang dikembangkan oleh Barat, hampir dipastikan segaris/satu rute bahkan pararel dengan jalur SDA terutama bagi wilayah yang memiliki potensi besar atas minyak, emas dan gas alam.”

Menyoal lebih dalam tentang geopolitic of pipeline di Suriah, menurut Dirgo, meski ada fee $5/barel untuk aliran minyak pada pipanisasi, akan tetapi fee tadi tidak dinikmati oleh Suriah sendiri. Kenapa? Karena outlet pipanisasi yang ke Afrika Utara berada di Israel dan outlet jalur pipa ke Eropa ada di Ceyhan, Turki. Artinya ada sharing ketiganya.

Banyak faktor mengkaji motif serangan militer AS dan sekutu ke Suriah. Beberapa analisa mengatakan bahwa kronologi acaranya mirip Taliban yang disingkirkan karena menuntut terlalu banyak atas pipanisasi Unocal di Afghanistan. Maka simpulan prematurnya adalah, bahwa sepertinya Bashar al Assad hendak disamakan “nasib”-nya dengan Taliban yang harus dilenyapkan karena bandel, dan Assad dianggap rezim yang tidak mau didekte oleh Barat.

Lebih detail perihal pipanisasi minyak dan gas di Suriah, dari mana – kemana, berapa kilometer, besarnya investasi serta sejak kapan beroperasi, silahkan baca buku Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru pada Bab V halaman 195 – 210. Untuk menyingkat catatan ini, ada analogi yang bisa dijadikan clue guna memaknai serangan militer Barat ke Suriah, yaitu ketika AS diterjang krisis akut (great depression) dekade 1930-an tempo doeloe maka ketika diletuskan Perang Dunia ke-2, ekonomi Paman Sam kembali pulih. Hipotesanya adalah, apakah serangan militer Barat ke Suriah merupakan indikasi bahwa sesungguhnya AS tengah dirundung krisis ekonomi teramat akut?

Mengakhiri catatan ini, saya teringat tesis Bung Karno (1959), “Kapitalisme yang terjebak krisis akhirnya membuahkan fasisme, sedang fasisme ialah perjuangan penghabisan para monopolis kapitalis yang terancam bangkrut”. Terima kasih

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com