Membaca Geostrategi Cina di Jalur Sutra (8)

Bagikan artikel ini

Mengapa OBOR Mengincar Infrastruktur di Sumut, Sulut, Kaltara dan Bali?

Sebelum lahir One Belt One Road (OBOR) tahun 2013-an, sesungguhnya embrio OBOR adalah String of Pearls (selanjutnya disingkat: SoP), yaitu strategi handal Cina demi mengamankan jalur ekspor-impornya terutama suplai energi —energy security— dari negara dan/atau kawasan asal hingga ke tempat tujuan. Target jalur SoP yang diincar ialah bentangan perairan di antara Laut Cina Selatan, Selat Malaka, melintas Samudera Hindia, Laut Arab, Teluk Persia, dan seterusnya sehingga kalau dipotret pada peta, membentuk seperti untaian kalung (pearl).

Strategi SoP selain memiliki konsekuensi perlunya militer modern yang progresif, juga akses bandara udara serta pelabuhan laut sebagai simpul penyangga. Dan nantinya infrastruktur tersebut —bandara dan pelabuhan— sewaktu-waktu bisa diubah menjadi fasilitas militer.

Ada beberapa pelabuhan di lintasan SoP yang telah dikelola Cina seperti di Pulau Hainan, misalnya, atau landasan terbang darurat di Pulau Woody, di Kepulauan Paracel; atau fasilitas pengiriman kontainer di Chittagong, Bangladesh, pelabuhan di Sittwe, Myanmar, pembangunan basis angkatan laut di Gwadar, Pakistan, pembangunan jalur pipa melalui Islamabad dan Karakoram Highway ke Kashgar di Xinjiang, ataupun fasilitas pengumpulan intelijen di pulau-pulau di Teluk Benggala dekat Selat Malaka, pelabuhan Hambantota di Sri Lanka dan lain-lain.

Kendala utama dalam implementasi SoP adalah bercokolnya kapal-kapal perang Amerika Serikat (AS) —Armada ke 7 Amerika— di Singapura. Artinya, jika kelak terjadi friksi terbuka antara AS versus Cina sesuai ramalan Samuel Huntington dalam The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (Benturan Antarperadaban dan Masa Depan Politik Dunia) dan hari ini, agaknya tren geopolitik global kencang mengarah ke arah sana. Seandainya meletus friksi, kemungkinan besar akan terjadi sumbatan signifikan pada jalur SoP, khususnya di Selat Malaka karena hampir 82-an persen jalur energi Cina melintas di selat (Malaka) tersibuk kedua di dunia setelah Hormuz. Ini resiko yang kelak dihadapi oleh Cina. Dan bagi pemimpin visioner yang paham geopolitik semacam Xi Jinping, niscaya ia mencari upaya untuk meletakkan risk appetite pada level yang paling minimal dan dapat diatasi jika terjadi gangguan di jalur energy security Cina.

Menghadapi kemungkinan tersebut, agaknya Jinping membidani program apa yang kini disebut OBOR. Ya selain sebagai penyempurnaan kebijakan SoP, bahkan lebih hebat kapasitas dari sisi ruang maupun jangkauan. OBOR juga didukung pendanaan besar.

Tidak boleh disangkal, bahwa selat-selat (perairan) di Indonesia merupakan lintasan urgen lagi strategis bagi OBOR. Kenapa begitu, seandainya meletus konflik terbuka antara Cina melawan AS, lalu Selat Malaka diblokade oleh Armada ke 7 AS maka alternatif jalur paling efektif menuju Samudera Hindia, Laut Arab dll dalam rangka mengamankan jalur energy security ialah Selat Sunda (ALKI I), Selat Lombok (ALKI II), dst.

Mungkin inilah jawaban sementara, kenapa Cina mengincar pelabuhan-pelabuhan di Sumatera Utara, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara dan Bali. Ya selain perairan Indonesia merupakan Sealane of Communication (SLOC), jalur pelayaran global yang tak kunjung sepi, juga apabila menguasai keempat infrastruktur pelabuhan di atas sesuai rencana OBOR maka ibarat menguasai SLOC dan lintasan pelayaran internasional di ALKI I, ALKI II dan ALKI III.

Ada asumsi beredar di dunia geopolitik, “Siapa menguasai SLOC akan menentukan pasar, sebaliknya, terganggunya keamanan SLOC akan membuat keadaan pasar menjadi tidak menentu”.

(Bersambung ke 9)

M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)

baca artikel sebelumnya:

Facebook Comments