Membaca Isu Gagal di New Zealand dan Skenario Kebangkitan Islam

Bagikan artikel ini

Telaah Singkat Geospiritual

Seandainya perilaku geopolitik yang dipraktikkan oleh Barat adalah “isu sebagai pola,” biasanya usai penembakan di New Zealand (NZ) pada Jumat, 15 Maret 2019, niscaya —tak berselang lama— bakal ada gelombang pasukan NATO bergeser ke NZ guna membendung gerak laju Cina di Pasifik Selatan, mungkin, tetapi agaknya agenda tersebut terkendala (jika tidak disebut batal) karena ada penolakan justru datang dari warga dan pemerintah NZ itu sendiri.

Dalam asymmetric warfare yang berpola ITS (Isu – Tema/Agenda – Skema), skenario penembakan di NZ dianggap isu gagal. Sekali lagi, jika upaya sebar isu yang bermain pihak Barat. Isu yang ditebar gagal menjadi menjadi sebuah tema/agenda karena faktor lingkungan strategis berubah tiba-tiba di luar skenario. Indikatornya apa? Selain muncul solidaritas dari kalangan nonmuslim dan pemerintah dalam bentuk simpati serta empati terhadap muslim, juga ketika PM NZ Jacinda Ardern ditelpon oleh Donald Trump, “Apa yang bisa dibantu untuk kasus penembakan?” Jawaban Jacinda adalah: “Jangan tekan Islam”. Seketika cuitan Trump pun mengudara: “I LOVE NZ”. Entah kemana maksudnya.

Sebaliknya, pun seandainya Cina di balik isu penembakan tersebut, meski yang ia mainkan juga “isu sebagai pola,” maka layak dinilai gagal pula. Mengapa gagal? Karena agenda yang diharap yaitu adanya diskursus baru soal isu supremasi putih, misalnya, atau dialog dan pembahasan gelora kebangkitan ras kulit putìh dan seterusnya ternyata tidak menjadi viral, publik global justru salut atas empati warga nonmuslim dan simpati pemerintah NZ dalam mengelola situasi pasca (isu) penembakan. Karena agenda gagal, Cina pun langsung menukik ke (skema) poin inti: “Melalui Li Keqiang PM Cina, meminta kepada Jacinda untuk menciptakan iklim investasi yang adil di NZ”. Kenapa? Ternyata selama ini Pemerintahan NZ selalu menolak tawaran Cina untuk membangun jaringan seluler 5G Huawei, raksasa telekomunikasi yang selama ini menjadi “nadi”-nya OBOR.

Geospiritual berbasis jala sutra —air terhalus— membaca, bahwa kebangkitan Islam bergerak dari pinggiran justru diawali dari negara non muslim, lalu bergerak naik berlawanan arah jarum jam (ini gerak tawaf) dan kelak meletus pada titik epicentrum yang tepat. Kemungkinan inilah yang tengah berproses.

Ya, setiap zaman niscaya ada caranya, setiap cara ada zamannya.

)* Saran penulis, untuk lebih memahami narasi tulisan ini, baca dahulu artikel “Membaca Penembakan di New Zealand dari Perspektif Geopolitik” di www.theglobal-review.com :

Membaca Penembakan di New Zealand dari Perspektif Geopolitik (1)

Membaca Penembakan di New Zealand dari Perspektif Geopolitik (2)

Membaca Penembakan di New Zealand dari Perspektif Geopolitik (3/Habis)

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik dan Direktur Studi Kawasan dan Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments