Membaca Pokok-Pokok Geostrategi Cina di Jalur Sutra (1)

Bagikan artikel ini

Agresivitas militer Cina di Laut Cina Selatan (LCS) dalam upaya mengendalikan lintas pelayaran dunia —LCS— serta ambisi menguasai dua kepulauan sengketa yaitu Spartly dan Paracel, kuat diduga merupakan upaya elit Cina untuk menciptakan common enemy (musuh bersama) akibat adanya “bom molotov,” semacam gejolak sosial politik yang sewaktu-waktu meletus serta meluas akibat sistem ekonomi dan politik di internal Cina itu sendiri. Jadi, agresivitas militernya hanya sekedar deception atau pengalihan situasi atas tingkat kerawanan atau potensi gangguan keamanan di dalam negeri. Tetapi namanya deception, sifatnya cuma sementara alias semu, suatu saat pasti terjadi. Entah kapan. Inilah prolog sekaligus hipotesis dan asumsi awal telaahan soal perkembangan geopolitik Cina.

Kenapa demikian, bahwa konsep one country and two system yang dianutnya yakni elaborasi antara ideologi kapitalis dan komunis hidup berdampingan memang mampu membuat laju ekonomi Cina meningkat, namun menurut Peter Navarro, penulis buku The Coming China Wars, justru ini merupakan kombinasi (mitra) yang ganjil. Mengapa? Di satu sisi, naluri kapitalisme yang tidak ingin dikekang (liar) di pasar bebas, tetapi pada sisi lain, ia dijalankan secara totaliter oleh komunisme. Elaborasi ini niscaya berdampak atau memiliki risiko dan/atau menyimpan apa yang disebut dengan istilah bom molotov di atas.

Lantas, apa ujud riil bom molotov seperti dikhawatirkan oleh rezim Cina? Tidak lain dan tak bukan ialah kekacauan di internal negeri yang disebabkan ketidakadilan kondisi sosial, ekonomi dan politik. Pertanyaan selidik pun muncul, “Kenapa rezim komunis Cina khawatir timbul kekacauan, sedangkan secara ekonomi tumbuh pesat, bukankah hal itu identik bahwa ada kemakmuran di Cina?”

Menurut Adam Smith, semenjak tahun 1980 perekonomian Cina tumbuh hampir 10-an persen/tahun, mengalahkan keajaiban ekonomi yang pernah dialami Jepang dan menyalip laju empat macan ekonomi Asia sebelumnya yaitu Hongkong, Korea, Taiwan dan Singapura.

Pertumbuhan ekonomi yang terlalu tinggi di Cina sesungguhnya dipicu oleh dua faktor, yakni selain dorongan ekspor, juga dibarengi kemampuan menaklukkan pasar-pasar ekspor. Itulah jurus-jurus ampuh Cina meningkatkan laju ekonomi. Dan keduanya, disatukan dalam gerak strategi yang kemudian disebut dengan istilah Harga Cina (China Price).

Harga Cina adalah kenyataan (pasar) perdagangan bahwa barang Cina bisa diproduksi secara besar-besaran sehingga mengalahkan harga yang ditawarkan para kompetitor baik jenis produk yang beragam maupun dalam hal jasa.

Mengapa Cina mampu menjadi pusat pabrikan (factory floor)? Ternyata kunci strategi dalam Harga Cina ialah “produksi massal”. Sekali lagi, ada produksi massal di Cina melalui sembilan langkah kebijakan, antara lain:

1) pekerja/buruh murah tetapi berkualitas tinggi, disiplin, berpendidikan namun tidak memiliki serikat buruh;

2) aturan kesehatan dan keselamatan yang minimal;

3) aturan lingkungan dan penegakkan hukum yang longgar;

4) peran penanaman modal asing yang memberikan kekuatan dan dorongan;

5) bentuk organisasi industri sangat efisien dikenal dengan istilah gugus jaringan (network clustering);

6) sistem yang rumit serta pemerintah mendukung pemalsuan dan pembajakan;

7) mata uang yang “memiskinkan tetangga Anda” dan nilai diturunkan terus-menerus;

8) subsidi pemerintah secara besar-besaran terhadap industri yang dipilih;

9) hambatan perdagangan proteksionis “tembok besar” terutama bagi industri yang baru didirikan.

Itulah sembilan penggerak strategi Harga Cina menurut Navarro yang mampu meningkatkan laju ekonomi Cina. Katanya, dari sembilan langkah di atas, ternyata cuma satu yang sesuai aturan organisasi perdagangan dunia (WTO) sedangkan delapan lainnya melanggar aturan WTO.

Nah, dalam skenario kekacauan internal nantinya, agaknya delapan langkah ilegal terhadap WTO ini diprakirakan sebagai salah satu kontribusi yang dapat meletuskan bom molotov di internal Cina, selain masih banyak faktor-faktor lain sebagai penyebab.

Bahwa antara kapitalis dan komunis itu serupa tetapi tak sama. Berbeda rupa tetaplah sama. Secara ideologis, kedua ideologi itu wataknya sama yakni mengurai pasar seluas-luasnya serta mencari bahan baku semurah-murahnya. Maka, monopoli —ruh penjajahan— merupakan metode baku keduanya. Sedang perbedaannya, hanya di tata kelola (governance) saja. kapitalisme dikuasai oleh sekelompok kecil partikelir/swasta, sementara komunisme dikendalikan segelintir elit negara. Di sini, konsep keadilan sosial menjadi terabaikan dimana secara risiko, menyimpan embrio atau potensi gejolak sosial politik.

(Bersambung ke Bag 2)

M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments